Azelia, 11 Tahun Dunia Mendengarnya.

2018, 11 tahun sudah Azelia melalui Dunia Mendengarnya. Satu keajaiban yang kami saksikan, tentang betapa kuasa Allah nampak begitu nyatanya. Dan betapa teknologi alat bantu pendengaran mampu memberikan harapan.

Awal mulanya, kami hanya berupaya untuk melakukan ikhtiar atas vonis mengenai kondisi ketuliannya saat itu. Hasil Bera di tahun 2007 lalu menunjukkan bahwa putri kami baru bisa mendengar di 70 dB untuk telinga kanan, dan 90 dB untuk telinga kiri. Kami baru mengetahui kondisi itu saat usianya menginjak hampir 3 tahun. Tepatnya, saat usianya 2 tahun 8 bulan.

Sebetulnya, pasca vonis kami dengar, jujur saja kami merasa sangat terkejut. Rasanya kenyataan yang harus kami terima itu lebih buruk dari mimpi paling buruk yang pernah kami alami. Karena ini menyangkut masa depan putri kami, menyangkut masa depan generasi penerus kami, menyangkut masa depan anak keturunan kami berikutnya. Kami merasa “sakit” ketika harus menerima kenyataan pahit mengenai kondisi ketuliannya saat itu. Kenapa harus kami, kenapa harus putri pertama kami, dan berjuta kenapa berputar putar di kepala ini. Hingga akhirnya kami mampu berdamai dengan takdir. Menghadapi semuanya dengan berbagai ikhtiar yang dianggap perlu.

Usia golden age yang sudah terlampaui setengahnya, membuatku dan suami harus bersegera mengupayakan apaa yang sekiranya diperlukan untuk membantunya.

Kemampuan berkomunikasi adalah sesuatu yang penting. Kemampuan memahami bahasa adalah pembuka pintu ilmu yang kelak akan membantunya. Itu sebabnya, kami segera memutuskan untuk melengkapi keperluannya akan sepasang Alat Bantu Dengar. Meski harganya yang ternyata tak semurah kacamata. Meski kamipun belum tau pasti apakah itu akan membantu nya atau tidak.

Yang pasti, kami ingin bersegera. Tak ingin lagi menunda waktu. Karena kami ingin memanfaatkan sisa golden age yang masih berjalan. Kami sudah kehilangan separuh moment golden age itu, dan tak ingin kehilangan separuhnya yang lain.

Usia golden age adalah usia yang penuh kejutan. Otak anak mampu menyerap apa yang dirasakan oleh kelima inderanya laksana sebuah spons yang mampu menyerap air. Putri kami tidak sempurna di salah satu inderanya, dan itu akan kami bantu dengan teknologi Alat Bantu Pendengaran yang kami harapkan dapat membantunya.

Membelikan Alat Bantu Pendengaran saja ternyata tidak cukup. Kami harus mampu membiasakannya untuk familiar dengan Alat Bantu Dengar yang harus digunakan putri kami. Berbagai cara kuupayakan untuk upaya ini. Hingga akhirnya 3 hari kemudian dia mulai terbiasa. Secara perlahan dan bertahap kutambah durasi pemakaiannya. Hingga akhirnya dia mampu menggunakan Alat tersebut hampir sepanjang waktu di masa terjaganya. Kecuali saat tidur dan mandi. Alhamdulillah….

Sejalan dengan proses pembiasaan yang berlangsung ketika itu, aku ikutkan putriku dengan serangkaian terapi wicara. 3x dalam satu Minggu, bersama seorang speech therapist yang certified. Seorang speech therapist yang benar benar lulusan dari sebuah Akademi Terapi Wicara.

Aku saat itu benar – benar tak ingin kehilangan momentum untuk kesekian kalinya. Maka dari itu setiap speech therapist datang untuk memberikan terapi, aku meminta tugas apa yang sekiranya dapat kulakukan untuk putriku semasa menunggu jadwal kunjungan berikutnya. Aku benar – benar ingin membantu semua proses yang harus kulalui bersamanya. Bagiku bukan hanya hari demi hari yang terasa begitu berharga, detik demi detikpun ibaratnya harta Karun yang sangat berharga bagi kami.

1 hari 1 malam adalah 24 jam. Dan aku tak ingin melewatkan satu hari pun tanpa mengajarinya apapun. Hanya itu yang bisa kulakukan. Sebuah totalitas tanpa batas, demi masa depannya.

Saat itu, aku hanya ingin memanfaatkan setiap peluang sebaik mungkin. Sebagai wujud rasa syukur karena mampu membelikannya sebuah alat bantu pendengaran yang tidak murah harganya. Aku ingin, setiap rupiah yang dikeluarkan suamiku untuk membantu putri kami, sebanding dengan hasil yang didapatkan dengan perkembangan komunikasinya.

Capek luar biasa rasanya saat itu. Tapi kini, setelah 11 tahun berlalu…. perlahan lahan aku mulai menuai hasilnya. Tahun demi tahun berlalu, pencapaian demi pencapaian berhasil diraihnya. Meski pada prosesnya memang tak semudah yang dibayangkan. Godaan kesabaran, emosi dan rasa malas hadir mewarnai setiap proses yang pernah kami lalui. Memotivasi diri, rehat sesaat, introspeksi, dan evaluasi di moment tertentu disaat merasakan kelelahan yang luar biasa sangat diperlukan. Bercakap cakap dengan pasangan, mendiskusikan tentang kondisi putri kami, adalah obat yang dirasa sangat jitu untuk kembali menyemangati diri. Ada satu komitmen khusus yang membuatku kembali terpacu.

Dan kini, setelah 11 tahun berlalu, inilah yang Azelia capai dalam setiap momentum yang pernah dilaluinya.

Prestasi yang pernah diraih Azelia semasa 11 tahun Dunia Mendengarnya.

Di Bidang Akademik :

  • Peringkat 2 dari 3 siswa saat TLO di SLB B Karya Murni Medan, thn ajaran 2008 – 2009
  • Peringkat 2 dari 13 siswa saat TK Persiapan 1 di SLB B Karya Murni Medan, thn ajaran 2009 – 2010.
  • Siswa SLB B Karya Murni Medan yang mampu memperoleh Surat rekomendasi resmi dari pihak SLB B, yang menyatakan mampu inklusi.
  • Santri TKQ Az Zahra dengan Calistung terbaik.
  • Meraih peringkat 5 besar dari sekitar 42 siswa saat kelas 3 SD, ketika bersekolah di SDN Karang Pawitan 1 Karawang.
  • Meraih peringkat 5 besar saat kelas 4 & 5 dari sekitar 56 siswa saat bersekolah di SDN Karang Pawitan 1 Karawang.
  • Peraih peringkat 1 saat DTA kelas 4 di DTA Az Zahra Karawang, thn ajaran 2015 – 2016.
  • Santri DTA Az Zahra dengan Hasil Ujian terbaik, tahun ajaran 2015 – 2016.
  • Meraih peringkat 3 besar saat semester 1 di kelas VII SMP Bani Saleh 2 – Kota Bekasi, TA 2017-2018.
  • Meraih peringkat 1 saat mid semester 2 di kelas Vll SMP Bani Saleh 2 – Kota Bekasi, TA 2017-2018.

Prestasi di Bidang Olahraga Karate :

  • Juara 2 tata gerak putri kelas Pemula dalam Kejuaraan Karate BKC Cabang Karawang tahun 2015
  • Juara 2 tata gerak putri kelas Kadet dalam Kejuaraan antar Dojo BKC Cabang Kota Bekasi tahun 2017.
  • Peraih Medali Emas untuk Kata Perorangan Putri kelas Kadet kategori New Comer, dalam kejuaraan Karate BJB Open BKC Jawa Barat, tahun 2018.
  • Peraih Medali emas untuk Tata Gerak Putri kelas Kadet kategori New Comer, dalam Kejuaraan Karate BJB Open BKC Jawa Barat, tahun 2018.

Azelia juga pernah beberapa kali menyampaikan pidato dalam beberapa kesempatan. Saat kelulusan TK, saat 2x mengikuti lomba pidato mewakili SD Bani Saleh 6 – Kota Bekasi, dan saat mengikuti pembekalan dasar kepemimpinan. Yang terakhir ini, pidatonya disampaikan dalam bahasa Sunda.

Azelia juga pernah berkesempatan untuk mewakili SD Bani Saleh 6 dalam lomba story’ telling dalam bahasa Arab. Suatu pencapaian yang benar – benar tak terbayangkan bagi kami 11 tahun yang lalu. Subhanallah….

Mungkin bagi anak normal panca indera, pencapaian semacam ini adalah hal yang biasa dan mudah untuk didapatkan. Asalkan termotivasi, InsyaAllah. Namun untuk Azel, bahkan untuk memahami sebuah kalimat pun perlu upaya lebih. Mengingat keterbatasannya dalam pendengaran, dan masa delaynya sebelum betul – betul mampu mengucap dan memahami sebuah kata.

Kegiatan membaca, dan kegemaran membacanya betul – betul terbukti mampu membantunya mempercepat pemahaman bacaan.

Takdir, bisa membuat kita terus larut dalam kesedihan dan penyesalan. Namun sebaliknya, bisa juga membuat kita tersenyum dan terus bersyukur. Semua tergantung bagaimana kita mampu menerimanya, tergantung bagaimana kita menghadapinya. Bagiku, menyerah berarti kalah…..

Mungkin memang tidak mudah menghadapi satu takdir yang di luar harapan kita. Merasakan kesedihan itu sangat manusiawi, tapi jangan terlarut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Karena kita memerlukan energi lebih untuk bangkit dan kembali memperjuangkan apa yang sudah seharusnya kita perjuangkan.

Ikhlas menerima takdir, bukan berarti pasrah dan tak berbuat apapun. Karena ikhtiar itu perlu. Dan tawakal setelahnya adalah keharusan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bilamana kaum itu tidak mau berusaha untuk mengubahnya sendiri.

So, ikhlas… ikhtiar dan tawakal itu perlu. Seperti yang terjadi di tahun 2015 lalu, ketika Azelia duduk di kelas 5 SD. Saat itu kami harus menerima kenyataan pahit berikutnya. Azelia mengalami proggresive Hearing loss atau penurunan respon dengar.

Telinga kanan yang saat awal Bera mampu mendengar di 70 dB, bergeser mundur menjadi 85 dB. Telinga kiri yang awal Bera mampu mendengar di 90 dB, bergeser mundur menjadi 105 dB. Dan aku kembali menangis untuk ke sekian kalinya. Karena ternyata Alat Bantu Dengar tak lagi mampu mengcover kebutuhan pendengaran nya. Beralih Tekhnologi, akhirnya menjadi pilihan kami. Kami memutuskan untuk memilih Implant Cochlear bagi Azel.

Harganya yang tidak semurah alat bantu dengar, membuat kami harus merelakan sebuah rumah untuk dijual demi telinga yang kembali mampu mendengar. Bagi kami, apapun…. Demi masa depannya.

Dan kami tak menyesal kehilangan sebuah rumah dan beralih teknologi. Karena ternyata Azel lagi – lagi berhasil meningkatkan prestasi akademiknya. Di kelas VII semester 1 Azel berhasil meraih peringkat 3 besar dari sekitar 22 siswa. Dan saat tengah semester 2 yang lalu, bahkan mampu meraih peringkat 1. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Teknologi, mampu membantunya terus meningkatkan kualitas hidupnya. Alhamdulillah…..

Semua yang dicapai Azel saat ini berkat ketekunan dan motivasi dalam dirinya 11 tahun belakangan ini. Semoga saja, di tahun – tahun ke depan putri kami tetap termotivasi dan tetap tekun untuk mempelajari semuanya. Agar prestasinya terus bertambah dan terus meningkat. Aamiin…… aamiin Ya Allah…

Satu respons untuk “Azelia, 11 Tahun Dunia Mendengarnya.

Add yours

  1. Membaca blog ini sukses melemparku ke masa 12 tahun yang lalu. Saat aku merasa duniaku gelap dan nyaris tak ada harapan. Saat aku merasa terlempar ke dalam sebuah jurang yang sangat dalam dan nyaris tak ada cahaya sedikitpun di sana. Hanya satu cahaya yang mampu menguatkan. Cahaya keimanan, keyakinan bahwa tidak akan Allah ciptakan sesuatu dengan sia – sia…. La Tahzan, Innallaaha ma ana. 🙏😊

    Suka

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑