Ketika Mengikhlaskan Sebuah Perhiasan Demi Menyelesaikan Kuliah

Sebutkan keputusan di masa lalu yang membantu Anda belajar dan bertumbuh.

Saat itu sekitar pertengahan tahun 2000, laporan tugas Praktek Kerja Lapangan (PKL) sedikit lagi akan kuselesaikan. Namun ternyata uang yang kuperlukan untuk menyewa komputer, mencetak dan menjilidnya habis. Dengan bersegera aku menuju sebuah Warung telekomunikasi (Wartel) untuk menelepon ibuku. Berkirim kabar, sekaligus meminta beliau untuk segera mentransfer sejumlah uang yang aku butuhkan untuk penyelesaian tugas laporanku. Dengan rampungnya tugas tersebut, maka aku akan segera menyelesaikan masa pendidikan untuk jenjang Diploma-ku pada saat itu.

Namun, apa yang kuharapkan tak seperti kenyataannya. Ibuku bukannya bergembira mendengar kabar bahwa pengetikan laporan itu sudah hampir usai, beliau malah memintaku untuk bersegera pulang saja tanpa harus menyelesaikan tugas laporan itu. Karena pada saat itu beliau sudah benar-benar tak memiliki uang untuk bisa ditransfer. Aku terkejut bukan main. Penulisan tugas laporan itu tak sesederhana itu. Itu adalah puncak tugas tersulit yang pernah kuhadapi. Menuliskannya merupakan tantangan tersendiri. Ibarat orang berjalan, sebetulnya saat itu aku hanya tinggal menjejakkan kakiku ke tanah. Menyelesaikan tugas itu, lalu menghadapi sidangnya, dan aku wisuda. Spontan aku menangis mendengar permintaan ibuku di ujung telepon.

Dengan hati yang berat, ku tutup gagang telepon lalu melangkah keluar dari Wartel. Pikiranku berisik, riuh dengan berbagai pertimbangan. Apakah aku akan mengikuti saja apa yang beliau minta, ataukah aku mencari penyelesaiannya sendiri? Rasanya nanggung sekali, batinku berbisik. Aku percaya, sebenarnya ibuku tak berniat memintaku menyerah begitu saja. Namun kondisi perekonomian kami pada saat itu memang kurang baik sepeninggal almarhum ayah. Ibu harus menghidupi 5 anak yang semuanya masih belajar. Saat kejadian itu, kakak keempatku juga sama-sama sedang menjalani masa perkuliahan. Biaya kuliah tentu tak ringan, dan beliau harus mengatasinya sendiri tanpa seorang suami. Beliau hanya menyandarkan penghasilan pada uang pensiun almarhum ayahku, juga hasil berjualan kue yang tentu tak seberapa.  Aku memahami kesulitan yang dirasakan ibuku.

Sepulang dari wartel aku berpikir keras. Aku tetap merasa berat hati jika harus menyerah dan pulang pada saat itu. Rasanya lebih baik mengalah kali ini. Bukan mengalah untuk menyerah, tetapi mengalah untuk menekan ego pribadiku.

Aku memiliki sebuah cincin. Beberapa minggu lalu baru saja kubeli. Uang untuk membeli cincin itu kudapat dari pemberian tempatku melaksanakan tugas PKL. Mereka memberiku uang terima kasih alakadarnya. Berharap uang itu bisa menjadi kenangan tersendiri untukku. Karena mereka merasa sangat terbantu pekerjaannya selama aku bekerja bersama mereka beberapa bulan ini. Uang yang kudapat itu kemudian aku belikan sebentuk cincin. Jauh di lubuk hatiku, aku tak ingin sama sekali menjual cincin itu. Namun keadaanku saat itu benar-benar terdesak. Antara menyelesaikan kuliah dan menekan egoku habis-habisan, ataukah berhenti kuliah dan tetap masih bisa memandangi cincin kenangan itu.

Akhirnya, kuputuskan untuk menjual cincin itu. Bagiku, lebih baik kehilangan barang berhargaku sesaat namun masa depanku terselamatkan, daripada barang berhargaku terselamatkan, namun masa depanku semakin suram. Sebuah cincin hanyalah sebuah cincin. Dapat dibeli kapanpun kita memiliki uang lebih. Namun masa depan ditentukan oleh keputusan kita saat ini, yang tentunya takkan bisa terulang. Untuk itulah aku lebih memilih menjual cincinku dan menggunakan uangnya untuk menyelesaikan tugas laporanku. Agar status pendidikan diplomaku mendapatkan kepastian lulus.

Hidup ini nyatanya merupakan rangkaian pilihan. Yang mau tak mau, suka tak suka membuat kita harus memilih. Itulah situasi yang kualami pada saat itu. Suatu pelajaran yang benar-benar berharga bagiku yang kudapat pada saat itu adalah, bagaimana caranya untuk menekan ego dan nafsu duniawiku. Dan hal itu berhasil aku lakukan kemudian.

Ternyata, itu bukan kali pertamaku. Aku kembali dipertemukan dengan kondisi-kondisi serupa ketika mendampingi masa intervensi putri pertamaku yang terlahir tunarungu. Dimana aku dipaksa untuk menekan egoku demi membantu putriku menemukan dunia verbalnya.

Aku pernah merelakan sejumlah perhiasanku  demi melanjutkan pembiayaan pengobatannya. Aku dan suamiku pernah menjual mobil pertama yang kami beli agar mampu membelikannya sepasang alat bantu dengar baru lengkap dengan seperangkat fm systemnya. Bahkan kami menjual rumah agar dapat menyelamatkan sisa pendengarannya melalui pemasangan implant koklea. Lagi-lagi, berulang kali dalam hidupku akubdihadapkan pada pilihan serupa. Menekan ego dan menyelamatkan masa depan, ataukah mengikuti ego dan mengorbankan masa depan?

Ternyata, keputusan yang kupilih ketika aku masih gadis belia berusia 19 tahun itu merupakan satu keputusan yang membuatku belajar lebih dalam mengenai kehidupan, dan membantuku tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang lebih bijak dan dewasa. Sebuah pembelajaran berharga yang mungkin takkan kudapatkan di bangku sekolah manapun di dunia ini. Dan aku sungguh sangat bersyukur dipertemukan dengan momentum itu.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑