Apa dan Bagaimana Persiapan Azelia Mengikuti Testing Gontor.

Mengikuti testing Gontor bukanlah suatu hal yang mudah. Jangankan untuk seseorang dengan keterbatasan pendengaran seperti putri kami. Bahkan bagi seseorang yang normal panca indera sekalipun, testing yang harus dilalui tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimanakah Azelia putri kami mempersiapkan segala sesuatunya?

Menurut hemat saya sebagai orang tua dari seorang anak dengan keterbatasan pendengaran seperti Azel, bukan kesempurnaan panca indera yang memudahkan seseorang menempuh pendidikan sesuai dengan harapannya. Tetapi kesiapan mental anak untuk menghadapi setiap tantangan dan ujian demi mewujudkan apa yang menjadi cita – cita dan harapan mereka.

Hal yang paling pertama kami siapkan, ketika Azel memasuki jenjang pendidikan di sekolah umum adalah mentalnya. Begitu pula ketika mempersiapkan Azel memasuki dunia Pesantren.

Persiapan mental Azel sebagai seorang anak dengan keterbatasan pendengaran di lingkungan sekolah umum, tentu saja harus dipersiapkan lebih ekstra. Mengingat posisinya yang akan menjadi minoritas diantara mayoritas.

Kepercayaan diri, merupakan modal paling mendasar yang harus dimilikinya. Dengan demikian, dia tidak akan merasa berbeda. Meski kenyataan mengenai kebutuhan khususnya itu tak dapat dihapuskan. Azel hanya akan terfokus pada pemikiran bahwa keberadaannya di lingkungan sekolah umum tersebut adalah sama. Yaitu bertujuan untuk belajar dan mencari ilmu sebanyak – banyaknya. Tanpa terlalu menitikberatkan fokus pada keterbatasan yang melekat dalam dirinya.

Kemampuannya beradaptasi di berbagai lingkungan. Hal ini kami persiapkan sejak awal kami berencana menyertakan Azel dalam Pendidikan di Sekolah Umum . Demikian pula dengan kemampuannya dalam bersosialisasi dan berkomunikasi secara verbal.

Meski saat itu baru pindah sekolah, tak butuh waktu lama baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan teman – teman baru.

Bukan hanya itu, kami juga membekalinya dengan pemahaman bahasa yang memadai. Hal ini merupakan satu hal penting bagi kami. Agar Azel mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Tanpa pemahaman bahasa yang memadai, besar kemungkinan dia akan kebingungan dalam menyerap pelajaran. Bukan hanya persiapan dalam pemahaman bahasa Indonesia saja, tapi juga dilengkapi dengan sedikit pemahaman bahasa Arab dan Inggris.

Bekal pengetahuan umum dan pengetahuan agama yang dasar pun sudah dimilikinya sebahagian. Karena Azel pernah menempuh pendidikan (Diniyah Takmiliyah Awaliyyah) DTA hingga lulus, selama 4 tahun.

Hobinya membaca beragam buku, turut memperkayanya dengan kosakata. Pemahaman bahasanya menjadi terlatih dengan sangat baik, dan ketika bergaul dia dapat mengikuti isi pembicaraan. Karena ada pengetahuan tambahan yang didapatnya dari beragam buku yang pernah dibacanya.

Beberapa buku yang pernah dibaca Azel. Yang turut memperkaya pemahaman kosakata sekaligus wawasan berpikirnya.

Kemampuan membacakan ayat – ayat suci Al – Qur’an. Adalah bekal khusus lain yang kami berikan pada Azel sejak usia 5 tahun an.

Video saat awal mengajari Azel mengaji. Dibantu sedikit isyarat tangan, agar bunyi huruf yang keluar bisa sesuai dengan apa yang diharapkan.

Meski kami mengetahui kondisi putri kami yang tunarungu, hal itu tak membuat kami lupa untuk mengajarinya mengaji. Justru kegiatan mengaji itu kami jadikan satu bentuk alternatif terapi wicara. Azel perlu mengasah kejelasan artikulasinya. Mengucap huruf – huruf hijaiyah, merupakan satu cara yang dapat ditempuh guna melenturkan rahang – rahangnya sekaligus melatih diafragmanya, agar semakin jelas artikulasi ketika berbicara dan nafas ketika bertuturpun akan semakin terlatih.

Mendekati saat testing, Azelia semakin intensif memperbaiki bacaan Al – Qur’annya. Penurunan respon dengar yg terjadi tahun 2015 lalu, sempat mengacaukan kualitas artikulasinya.

Kemampuan Azel dalam menuliskan ayat – ayat Al – Qur’an pun kami latih sejak kecil. Karena bagi kami, Al – Qur’an bukan hanya harus bisa dibacakan, tetapi harus juga dapat dituliskan. Agar dapat masuk dan melekat dalam ingatan.

Kemampuan menuliskan penggalan ayat al – Qur’an ini, juga dapat digunakan untuk melatih pendengarannya secara tidak langsung. Ketika kami mendiktekan/ mengimla’kan satu kata berbahasa arab, lalu kami memintanya menuliskan kata tersebut, maka ketika itu pula pendengarannya akan semakin terlatih.

Dia harus bisa membedakan ‘ta dengan ka‘, ‘tsa, sa dan sya’. Harus juga mampu membedakan antara ‘a dan ‘a’. ‘Dlo dan dzho’, ‘Kho, Qo dan gho’, ‘ha dengan Ha’ dan ‘Ja, Dza dan Za’. Dan sungguh, hal itu bukanlah sesuatu hal yang mudah bagi Azel. Azel harus melakukan persiapan khusus juga untuk hal yang satu ini. Melakukan mapping sound processor implant dan setting alat bantu dengar hingga berulang kali untuk memperjelas suara yang didengarnya. Hal itu dilakukan semakin intensif saat menjelang keberangkatan untuk mengikuti testing saat itu.

Berfoto bersama Mas Dani dan Aunty Ruth, setelah selesai sessi mapping terakhir sebelum berangkat testing Gontor.

Satu hal lain yang kami syukuri adalah, Alhamdulillah pengalaman bersekolah di DTA selama 4 tahun, turut menambah bekal bagi Azel memasuki dunia Pesantren.

Sebagai persiapan ekstra terkait pengetahuan yang akan diujikan di masa testing, kami juga menyertakan Azel dalam sebuah Bimbingan Belajar Khusus Persiapan Testing Masuk Gontor. Biasanya Bimbel ini diadakan oleh para alumni Gontor, yang tergabung dalam IKPM. Kebetulan Azel tergabung dalam Bimbel yang diadakan oleh IKPM Bekasi.

Keberanian tampil dihadapan publik dan kemampuan publik speakingnya terlatih secara tidak sengaja sejak usia TK. Hal ini ternyata menjadi bekal tambahan lain yang dimiliki Azel.

Kemampuan dalam mengatasi masalah pun menjadi satu bekal lain yang ternyata sangat penting artinya bagi Azel. Bukan hanya permasalahan seputar pelajaran ataupun pertemanan saja, tetapi juga permasalahan mengenai manajemen audiologinya.

Azel yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus selalu melekat dengan perangkat – perangkat alat pendengaran untuk kedua telinganya, harus menguasai betul pengetahuan mengenai perawatan dan bagaimana mensiasati permasalahan seputar alat – alat pendengarannya tersebut. Pengetahuan mengenai manajemen audiologi ini tidak bisa dikuasai dalam hitungan satu dua bulan. Membutuhkan waktu bertahun – tahun untuk melatihnya. Karena hal ini sangat berkaitan erat dengan proses pembiasaan dalam keseharian.

Pengalaman buruk terkait perilaku bullying yang sering dihadapinya di masa pendidikan dasar, juga turut andil dalam memberikan bekal bagi Azel dalam menghadapi berbagai karakter teman – temannya.

Dia mampu menempatkan sikap yang tepat pada teman dengan karakter tertentu. Bahkan pada teman yang mungkin tidak menyukainya. Karena pengalaman buruk itu justru memperkayanya dengan pengalaman. Kami selalu menanamkan pemahaman pada Azel, bahwa kita tidak bisa menuntut semua orang menyukai diri kita. Tetapi, kita masih bisa membuat diri ini memahami sikap orang lain terhadap kita.

Kami meminta Azel agar mampu bersikap seperti air, yang selalu mampu mengubah bentuk sesuai wadahnya, namun selalu tau kemana arah mengalirnya. Mampu beradaptasi dengan baik, namun tetap memegang prinsip dalam bergaul.

Sebelum berangkat, kamipun melengkapi Azel dengan persiapan tambahan terkait dengan kebutuhannya akan alat – alat pendengaran. Beberapa macam suku cadang alat pendengaran dan persiapan baterai alat untuk 3 bulanan kami siapkan baginya.

Tentu saja persiapan untuk hal ini membutuhkan biaya ekstra. Tapi karena terkait dengan kebutuhan pendengarannya, bagi kami sudah menjadi kewajiban untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin.

Begitulah kami membekali putri kami Azelia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren. Membekalinya dengan kemandirian, kepercayaan diri, mentalitas, pemahaman bahasa, kemampuan untuk mau mencoba dan berupaya, pemahaman bahasa, sedikit pengetahuan tambahan tentang keislaman dan hal yang terkait itu, serta sedikit pengetahuan manajemen audiologi. Kami melepas Azel dengan keikhlasan penuh. Dia mungkin berkebutuhan khusus, namun kamipun telah melakukan persiapan khusus untuk betul – betul melepasnya menempuh pendidikan sesuai dengan kehendak dirinya sendiri.

Masa depannya bukanlah milik kami. Masa depannya adalah milik dirinya sendiri. Tugas kami hanyalah sekedar membimbing, mengarahkan dan memberikan bekal yang cukup baginya.

Hanya do’a, keihklasan dan keridhoan kami yang menyertainya. Saat ini kami hanya mampu memantau dan memandanginya dari kejauhan. Putri kami yang berkebutuhan khusus itu, telah menjelma menjadi seorang gadis dengan idealismenya mengenai masa depannya sendiri.

Semoga Allah berkenan memberkahi setiap langkah yang kelak akan diambilnya. Menguatkannya dan memudahkannya dalam setiap perjalanan yang akan dilaluinya. Aamiin…..

2 respons untuk ‘Apa dan Bagaimana Persiapan Azelia Mengikuti Testing Gontor.

Add yours

Tinggalkan Balasan ke Za Batalkan balasan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑