Sebuah catatan yg tersimpan di FB mengingatkanku bahwa aku pernah membaca sebuah artikel yang menarik. Jika diterjemahkan secara garis besar temanya berbunyi : ” Implant Cochlear Tidak Mengobati Ketulian.”

Ingatanku langsung melesat pada celetukan Azelia (Azel) sekitar 8 tahun yang lalu, saat Azel diterima di Sekolah umum dan mendapat rekomendasi resmi dari SLB B nya. Azelia kecil sangat gembira saat itu, bahwa dirinya dapat diterima di sebuah Sekolah Umum. Dia berkata pada teman – temannya “Aku akan pindah ke Sekolah Normal”, begitulah Azel membahasakannya. Walhasil, emaknya ini sampai dipanggil Suster Kepala, dan mendapatkan teguran. “Ibu, kami harap, Ibu jangan pernah mengatakan Azelia bahwa dia sudah menjadi anak normal hanya karena dia bersekolah di sekolah umum. Berikan pemahaman padanya tentang kondisi pendengarannya yang tidak sesempurna orang kebanyakan. Dan beritahukan padanya bahwa dia adalah seorang anak tuli yang baru dapat mendengar ketika menggunakan Alat Bantu Dengarnya. Tuli tetaplah tuli, dan Azel harus menerima kondisinya yang terlahir dengan kondisi demikian”.
Jujur saja, hati sedikit bergetar ketika suster berkata bahwa seorang tuli tetaplah tuli. Yang baru bisa mendengar ketika telinganya menggunakan Alat Bantu Dengar. Tapi, itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Putri pertamaku seorang anak dengan ketulian. Dan aku harus ikhlas menerima apapun yang orang katakan tentangnya.
Akupun menjawab, “Suster tak usah khawatir, kami tidak pernah mengatakan pada Azel bahwa dia sudah menjadi anak Normal hanya karena dapat bersekolah di sekolah umum. Kami hanya mengatakan, kamu memang bersekolah di sekolah umum, tapi jangan lupa….kamu tetap harus menggunakan alat bantu dengarmu agar tetap bisa mendengar dengan baik”.
“Kamu memang bersekolah di sekolah umum, tapi keterbatasan pendengaranmu membuatmu harus selalu menggunakan alat pendengaranmu itu. Tak apa – apa, tak usah malu, kamu pintar. Dan hanya akan semakin pintar jika kamu tetap menggunakan Alat bantu pendengaran”.
Yups, Alat Bantu dengar ataupun implant Cochlear memang tidak dapat mengobati ketulian. Tetapi dapat membantu para tuli mendengar dan memahami komunikasi verbal dengan sangat baik. Syaratnya sederhana, rajin terapi wicara dan terapi mendengar. Agar dapat memanfaatkan kedua alat tersebut dengan baik.
Implant Cochlear yang harganya mencapai ratusan juta, yang seharga sebuah mobil baru dari sebuah dealer pun tetap tidak dapat mengobati ketulian. Tetapi paling tidak , kedua alat tersebut dapat membantu mereka mendengar dan memahami percakapan. Untuk kemudian memfasilitasi mereka agar dapat memproduksi suara dan berbicara sesuatu yang bermakna.
Alat Bantu Dengar dan Implant Cochlear juga dapat membantu anak – anak dengan ketulian menyerap informasi dan pengetahuan dari sekelilingnya.
Dan sekali lagi, kedua alat tersebut fungsinya baru akan terasa jika kita rajin melatih mereka dengan serangkaian terapi mendengar dan terapi wicara. Tidak serta merta begitu beli, pasang truss anak pinter dengar dan pinter bicara, itu pemahaman yang keliru. Karena alat adalah alat, jika tak mengerti cara memanfaatkannya, hanyalah sebuah alat tanpa manfaat berarti.
#Syukuri_manfaatkan_& eksplore fungsinya, insyaAllah bermanfaat.#
Pesanku kepada para orang tua dari anak – anak hearing loss yang pernah membaca artikel serupa, jangan patah semangat hanya karena membaca artikel dengan tema semacam itu. Karena kita lebih memahami kondisi anak – anak kita. Ketulian memang tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan alat secanggih apapun. Tapi ketulian bukan berarti menjadi penutup bagi harapan akan cita – cita dan masa depan mereka.
Seorang Carol Flexer pernah berkata dalam seminarnya di Jakarta sekitar tahun 2012 lalu…”Hearing loss isn’t about the ear. It’s all about the brain”. Yang jika dipaparkan berarti, ketulian itu bukan hanya mengenai telinga yang tak dapat mendengar, tapi lebih dari itu. Tentang otak yang tak dapat menyerap informasi. Itulah yang seharusnya menjadi perhatian kita semua. Itulah yang seharusnya menjadi kekhawatiran terbesar kita, para orangtua dari anak – anak dengan ketulian.
Kawal dan dampingi mereka. Upayakan dengan segenap kemampuan kita. Berbagi cerita dengan para orang tua dari anak – anak tuli yang lain. Coba lagi, coba terus dan teruslah mencoba. Mulai dari habilitasi atau pembiasaan penggunaan alat bantu dengar, setting alat, serangkaian terapi, dan sebagainya. Karena, sesal kemudian tiada arti.
We ❤ the way they are….. 🙏🏻😊
Tulisan yang bagus, Mbak. Alat adalah alat, ya harus terapi mendengar dan berbicara agar anak mendapatkan manfaat nya. 👍
SukaSuka
MasyaaAllah, alhamdulillah…. Terimakasih Papa Alkha. Betul sekali Pak. Semoga kita semua tetap bersemangat mendampingi mereka ya Pak. Aamiin…. 🤲😊
SukaSuka