Mempercepat Kemampuan Berbahasa pada Anak Tunarungu.

2,8 tahun adalah usia dimana Azelia putri pertamaku baru terdeteksi memiliki keterbatasan pendengaran. Ada masa kosong, tidak ada input suara maupun bahasa sejak usianya 0 hingga 2,8 tahun. Ini berarti memory Auditory nya masih kosong dan belum terisi. Brain template untuk kemampuan berbahasanya belum terbentuk. Ada satu ketertinggalan disana. Dan itu karena keegoisanku sendiri, yang selalu menolak setiap kali suamiku mengajak untuk memeriksakan pendengarannya. Rasa sesal memang selalu datang belakangan.

Ingin tau rasanya ketika vonis itu kudengar untuk pertama kalinya??? Nafasku serasa sesak, mataku terasa panas, jantungku serasa berhenti berdetak. Langit serasa runtuh, dan bumi yang aku pijak serasa menelanku. Ini karena kesalahanku yang tidak mau memeriksakan pendengarannya sedini mungkin. Aku sungguh merasa sangat bersalah.

Suamiku berulang kali berusaha mengingatkan, bahwa hidup akan terus berjalan, masa akan terus berganti. Dan sesal tiada arti lagi. Aku harus berfikir jauh ke depan, mencari jalan keluar (way out) tanpa menoleh lagi ke belakang. Karena “Life must go on…..”

Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan membuang waktu lagi. Demi masa depannya, segala upaya yang perlu akan kuperjuangkan. Cukuplah kiranya satu pembelajaran berharga kudapat sebelumnya, jangan sampai terulang lagi.

Aku awali langkahku dengan membiasakan putriku untuk “mau” menggunakan alat bantu dengarnya. Hal ini adalah kunci pertama dan utama dalam suatu proses intervensi. Semua langkah berikutnya tidak akan berjalan secara optimal, jika kunci utama ini tidak mendapatkan perhatian penuh. Bukan suatu hal yang mudah mencari dan menemukan kunci agar anak mau menggunakan alat bantu dengarnya. Kita harus mengetahui watak dan karakter anak kita. Harus hafal hal – hal yang disukainya agar dapat menggunakannya sebagai “pintu masuk” bujukan untuk “mau” menggunakan alat bantu dengarnya. Tanamkan konsep bahwa pemakaian Alat Bantu Dengar merupakan satu ” kebutuhan” bukan suatu “paksaan.

Langkah berikutnya adalah membiasakannya untuk bervokalisasi dan mengeluarkan suara ketika meminta sesuatu. Agar tertanam konsep dalam ingatannya bahwa meminta sesuatu harus dengan bersuara, bukan dengan gerakan atau isyarat. Biarlah untuk awal – awal suara yang dikeluarkannya belum bermakna. Itulah proses yg harus dilalui. Tapi, meski demikian tanggapilah setiap ocehannya dengan kata – kata yang memiliki makna. Masuklah ke dunianya, tapi tariklah dia ke dunia kata – kata kita.

Buatlah dia tertarik untuk mengikuti apa yang kita ucapkan,dan buatlah dia mengenal konsep komunikasi 2 arah. Bertanya dan menjawab. Ini dimaksudkan untuk membuatnya terlatih berkomunikasi lisan dua arah. Beri kesempatan baginya menyerap semua kata yang terucap dari bibir kita sebanyak mungkin. Terbiasa mendengarkan, suatu saat akan membuatnya mampu mengucap kata yang bermakna.

Jangan lupa pula untuk mulai membiasakan diri membacakan buku cerita pada moment ini. Untuk membuatnya menyerap sebanyak mungkin kosakata melalui bahasa tulisan. Dengan membiasakan membacakan buku cerita, akan membuatnya tertarik untuk membaca. Inilah kebiasaan baik yang akan sangat membantu kita melesatkan kemampuan komunikasinya juga pemahaman kosakatanya.

Kebiasaan memberikan kesempatan untuk bervokalisasi, terutama berlaku bagi para orang tua yang memilih metode pendekatan bahasa verbal sebagai jalan keluar untuk masa depan anak – anak tunarungu. Mungkin lain hal nya dengan yang memilih pendekatan bahasa isyarat. Yang jelas, kedua pilihan sama – sama baik dan masing-masing memiliki konsekuensinya sendiri.

Strict to your own choice, itulah yang harus kita pastikan. Agar anak kita mampu berkembang dengan baik dan memiliki masa depan yang penuh harapan.

Yang pasti memilih verbal ataupun bahasa isyarat, seorang anak tunarungu / tuli haruslah memiliki kemampuan pemahaman bahasa tulisan yang baik. Agar mampu memahami lawan bicara ataupun siatuasi yang dihadapi.

Jangan bingung menentukan pilihan sejak awal, agar kita mampu memetakan langkah berikutnya. Berlama – lama dalam kebingungan untuk menentukan pilihan, akan membuat kita lebih banyak menghadapi kendala.

Berpacu dengan waktu, bersegera, bersikap tegas dalam menentukan pilihan, dan berusaha keras untuk bersikap konsisten. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Agar anak kita mampu mengejar segala ketertinggalannya sesegera mungkin.

Ketika anak sudah mulai mampu mengucap kata, sering seringlah mengajaknya bercakap – cakap. Bahasakan segala sesuatunya, dan biarkan dia menikmati setiap kata yang yang terdengar maupun terucap. Meski mungkin, kita para orang tua dari anak anak tunarungu / tuli ini harus bersabar menunggu mereka mampu mengucap kata dengan artikulasi yang mendekati sempurna. Hargai setiap prosesnya, dan rayakan pencapaiannya. Sekecil apapun itu.

Memperkenalkan Tehnik Dasar Membaca.

Beberapa buku yang pernah dibaca Azel.

Setelah putri kita secara bertahap mampu mengucap kata, biasakan membacakan buku cerita. Sesering mungkin. Agar dia mulai tertarik dengan buku bacaan dan kegiatan membaca.

Setelah anak mulai nampak tertarik dengan kegiatan membaca, kita bisa mulai memperkenalkan tehnik membaca pada anak. Aku dulu mengawali tehnik ini dengan menggunakan metode glenndoman untuk kegiatan ini. Membeli satu pack kartu membaca latin, dan rutin membiasakan Azel dengan kegiatan ‘membaca’ flashcards ini.

Kegiatan ini terbagi dalam 3 sessi setiap harinya. Pagi, siang setelah makan siang, dan sore disela waktu bermain. Dalam masing – masing sessi, akan kuberikan 3 – 5 kartu yang berbeda setiap harinya.

Target awalku saat itu adalah…. Kontak mata dan fokus mendengar Azel. Ya, kemampuan Azel menyerap sebanyak mungkin bahasa reseptif, disertai bantuan penglihatannya untuk mengingat tulisan lengkap berikut cara membacanya.

Di awal setiap sessinya, sebelum memberikan kartu baru, akan melakukan pengulangan. Memberikan Azel sebanyak 3 – 5 kartu yang kuperlihatkan di sessi sebelumnya, dan di akhir sessi, akan aku keluarkan semua kartu yang diberikan di sessi tersebut.

Setelah itu, aku akan meminta Azel memfokuskan pendengarannya, mengambil kartu yang aku diktekan, kemudian memberikan kembali kartu itu padaku. Biasanya, setelah mendiktekan satu kata, aku hitung 3 – 5 detik untuk Azel mencari kartu yang kudiktekan. Jika Azel belum bisa memberikan kartu yang dimaksud, aku akan membantu mengambilkannya untuk Azel. Kemudian memperlihatkannya kembali padanya dan membacakannya. Begitulah, kegiatan ini berlangsung secara berulang dan dilakukan secara konsisten.

Pada awalnya, tentu anak belum bisa menirukan kembali apa yang dibacakan. Namun lama kelamaan, secara perlahan mereka akan mulai bergumam, berusaha menirukan, hingga akhirnya mampu membaca sendiri dengan suara yang secara bertahap semakin membaik artikulasinya.

Melatih Pemahaman Bacaan.

Ketika dia mulai lancar membaca, dan mulai paham beberapa kata, latih pemahaman kalimatnya. Caranya, latih mulai dari kalimat SPOK yang sederhana. Contoh : “Ibu pergi ke pasar membeli ikan.” Lalu buat pertanyaannya. Siapa yang pergi ke pasar? Kemana ibu pergi? Apa yang ibu beli di pasar?

Pengulangan pelatihan pemahaman seperti ini  membutuhkan waktu paling tidak  1 – 2 minggu. Tergantung pada kemampuan daya tangkap masing – masing anak.

Ketika awal mengajarkan, setiap kali mengajukan pertanyaan, beri jeda beberapa detik untuk  anak berfikir dan memperhatikan isi pertanyaan.  Setelah beberapa detik berlalu, bantu mereka menjawab.  Pengulangan yang dilakukan secara berulang dan konsisten ,  secara perlahan akan mulai membentuk brain template pada memory auditorynya.  Dan secara berangsur,  anak akan mulai memahami isi kalimat,  untuk selanjutnya  isi paragraf serta isi bacaan secara keseluruhan. Dengan demikian, seorang anak tunarungu / tuli tidak akan lagi terkendala untuk mampu memahami bahasa verbal.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑