Azelia, Ketika Memilih Implant Cochlear

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa kami pada akhirnya akan mengambil keputusan untuk melakukan operasi implant Cochlear guna menyelamatkan sisa pendengaran putri pertama kami Azelia.

Perkembangan pesat yang telah dicapainya melalui sepasang Alat Bantu Dengar (ABD) selama 10 tahun itu, ternyata tiba – tiba tidak lagi meng-cover penurunan respon dengar yang dialaminya.

Penurunan nilai akademik yang mulai terasa, penurunan kualitas artikulasi saat mengaji, suara sengaunya saat berbicara yang mulai terdengar , dan kemampuan berkomunikasi dua arah yang mulai tergantung pada bantuan membaca bibir. Hal ini membuat kami harus segera mengambil keputusan.

Wajahnya seringkali nampak muram dan kelelahan. Sikapnya yang seringkali marah tanpa sebab pada kedua adiknya setiap kali pulang sekolah, merupakan beberapa permasalahan yang muncul padanya pasca penurunan respon dengar. Apalagi penurunan ini kemudian berulang dalam jangka waktu yang kurang dari satu tahun. Betul – betul membuat kami cemas.

Aku sangat mengenal sifat dan karakternya. Azeliaku biasanya terlihat ceria dan bersemangat, tapi saat itu lebih sering melihatnya muram dan sedikit gelisah. Perlahan kuajak Azeliaku berdialog. Kutanyakan padanya kenapa belakangan ini selalu marah – marah tanpa alasan yang jelas pada kedua adiknya. Aku hanya khawatir kedua adiknya menjadi minder dan tidak punya rasa percaya diri.

Setelah kuberikan pemahaman secara perlahan, barulah Azel mulai mengerti dan berusaha mengurangi kebiasaan marah – marah tanpa sebabnya. setelah dia tau apa dampaknya pada kedua adiknya kelak.

Azelia dan suasana kelasnya saat kelas V SD Negeri Karang Pawitan I Karawang. Saat Azel berusaha mempertahankan fokus mendengar di tengah penurunan respon dengar.

Tak berapa lama kemudian meluncurlah cerita dari bibirnya. Tentang alasan kenapa belakangan ini sering marah tanpa sebab. Dia bilang “Aku pusing, setiap kali aku belajar di kelas belakangan ini, aku harus berusaha keras untuk fokus mendengar agar suara guru terdengar jelas. Sekarang mendengar dengan alat bantu dengar, meski sudah dibantu dengan FM system yang baru tetap sama saja. Suara guru terdengar kecil, tidak sejelas saat kelas satu dulu.”

“Aku berusaha keras untuk fokus mendengarkan, tetap sama saja. Entahlah mamah, mungkin memang aku tidak akan bisa mendengar lagi. Aku harus dibantu baca bibir, meski sudah ada FM system. Ini sangat melelahkan. Padahal dulu tidak begitu. Mungkin memang aku tidak akan bisa mendengar lagi. ”

Dia mengatakan semua itu sambil terisak. Hati ibu mana yang tidak sedih mendengar penuturannya. Aku tahu dan mengenal betul putriku. Dia anak yang selalu bersemangat dan tidak mudah menyerah, selalu merasa tertantang untuk mengeksplore setiap potensi yang ada dalam dirinya. Dan aku membayangkan semua itu perlahan memudar, untuk kemudian hilang hanya karena kehilangan pendengaran secara perlahan. Meski memang ku akui pendengaran nya selama ini harus mengandalkan sepasang ABD, tapi dia sangat merasakan manfaat dari ABD yang digunakannya. Dan sekarang, dia berada dalam satu titik lemah, rasa putus asa yang mulai membayanginya membuatnya sedikit khawatir dengan masa depannya kemudian.

Demi mendengar penuturannya itu, refleks aku memeluknya sambil menangis. Ku elus lembut kepalanya sambil kubisikkan kata – kata penghiburan dan harapan.

“Azel, maafkan mamah yang sudah berburuk sangka. Mamah tidak menyangka kalau alasannya adalah karena penurunan respon dengar itu. Maafkan mamah nak. Kenapa kamu tidak cerita apa yang kamu rasakan setelah penurunan respon dengar itu kemarin – kemarin. Kamu selalu bilang, aku masih bisa dengar koq mah. Suara ada. Alatnya masih ok. Tak ada masalah, aku baik – baik saja.”

“Lain kali kalau ada perubahan suara yang kamu rasakan, bilang saja. Mamah tidak akan marah. Mamah dan ayah sudah berjanji, Insyaa Allah kami akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan pendengaran kamu. Apapun yang kamu perlukan. Asalkan kamu mau bercerita dan bicara terus terang. Jangan pernah tutupi, karena itu sudah menjadi kebutuhanmu.”

“Dunia kedokteran sudah canggih. Tekhnologi Alat Bantu untuk pendengaran semakin berkembang pesat. Kamu masih tetap bisa mendengar, asalkan kamu mau untuk dioperasi Implant Cochlear. Itu adalah upaya ayah dan mamah yang paling maksimal. Kamu mau coba untuk Implant telingamu Zel ? Kalau kamu mau, mamah bicara sama ayah.”

Azel terdiam dan kembali menangis. “Mamah dan ayah baru saja membelikan sebuah transmitter & receiver FM baru untukku. Dan aku tau itu harganya tidak murah. Lebih dari Rp25 juta. Tidak mamah, aku tak mau Implant. Biayanya sangat mahal sekali. Pokoknya aku gak mau!!!”

Begitulah, dialog – dialog itu terjadi secara berulang. Namun tak hentinya aku dan ayahnya terus membujuknya untuk membuka pemikiran. Kami pahamkan bahwa semua itu demi masa depannya.

Dan kami tak perduli lagi, meski pilihan itu mengharuskan kami kehilangan sebuah rumah yang nyaman dan penuh kenangan. Rumah pertama yang kami beli sendiri setelah pernikahan kami di tahun 2004.

Sepasang ABD terakhir yang digunakan sebelum Implant, lengkap dengan seperangkat FM systemnya.

“Azel, jangan dulu menolak dan menutup diri kita dari perkembangan yang ada sekarang. Jangan dulu menolak apapun sebelum kamu mempelajarinya.”

“Sudahlah, sekarang begini saja, kamu sudah bisa searching di internet. Informasi tentang apa itu Implant Cochlear dan sebagainya semua sudah ada disana. Kamu pelajari dulu semuanya.”

“Kalau perlu penjelasan tambahan, kamu bisa tanya mamah. Nanti mamah minta dibantu beberapa teman yang anaknya sudah Implant atau mamah bantu tanyakan lagi pertanyaan kamu ke pihak Hearing Centre. Tak perlu di jawab cepat – cepat. Mamah dan ayah tunggu Jawaban kamu, setelah kamu sudah mempelajari semuanya.”

Penjelasan dan penawaran seperti itu kukatakan berulang ulang. Secara bergantian, kami…. Aku dan suamiku terus membujuk Azel supaya mau membaca informasi mengenai Implant Cochlear nya terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan.

Butuh waktu agak lama untuk akhirnya Azel mengambil keputusan. Sekitar satu tahun baru ada keputusan darinya.

Sebelum dia mengambil keputusan itu, Azel selalu berkata…..” Kurasa aku belum begitu fokus mendengar. Aku coba untuk lebih fokus lagi. Maafkan aku kalau nilai nilai ku belakangan ini agak turun mamah, yang jelas aku pasti akan terus berusaha untuk lebih fokus lagi saat belajar di kelas.” Dan aku mempercayai ucapannya.

Setelah berbulan-bulan dia berusaha keras memperbaiki kemampuan fokusnya saat belajar di kelas, pada akhirnya dia menyerah. Suatu hari sepulang sekolah dia berkata sambil berlinang – linang air matanya. “Mamah, maafkan aku. Sepertinya memang pendengaranku tidak sama seperti saat kelas satu dulu. Aku sudah berusaha keras untuk fokus saat belajar di kelas, tapi tetap kesulitan. Aku sudah lelah. Capek sekali rasanya mah. Baiklah mah, aku bersedia untuk Implant Cochlear. Tapi…… aku hanya mau implant yang ini #(Dia menyebutkan satu brand lengkap dengan type Implant dari brand tersebut)#. ”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. ” Baiklah Zel, nanti kamu bilang lagi sama ayah yaa. Mamah akan sampaikan ke ayah tentang permintaan kamu ini. Tapi, kalau boleh mamah tau…… Apakah kamu memang sudah baca informasi mengenai Implant ini ??? Sampe bisa memilih sedetail itu…….? ”

Dia menjawab dengan ringannya….. “Tentu saja mamah. Aku membaca semuanya. Ada 3 brand yang beredar di Indonesia, dan aku mempelajari semuanya. Aku suka dengan yang aku mau itu. Aku juga kan sering ikut acara sharing disana. Aku suka suasananya. Aku tak mau kehilangan teman – temanku dari sana. Tapi mamah, Implant itu harganya mahal sekali. Apakah itu tidak apa – apa??? Tapi aku memang maunya Implant yang itu mah. Maaf ya mah….. Maafkan aku.”

“Sebetulnya sejak awal mamah dan ayah menawarkan Implant Cochlear untukku, aku mau. Dan sangat ingin. Tapi, aku kasihan sama mamah dan ayah, beberapa kali mamah dan ayah merencanakan umroh selalu gagal gara – gara aku. Uangnya selalu terpakai untuk membeli alat – alat untuk kebutuhan pendengaranku. Maafkan aku mamah………”

Subhanallah…….. Ya Allah aku terkejut mendengar penuturannya. Di usia yang semuda itu, begitu matang pemikirannya. Dan begitu besar rasa empatinya terhadap cita – cita kami berdua. Aku peluk Azel sambil menangis terharu. Ini nyata, anakku cerdas….. lahir dan batin. Meski dia memiliki keterbatasan pada pendengarannya.

Betapa Maha Besarnya Allah, menganugerahkan kami anak yang secerdas ini. Mungkin itulah sebabnya Allah mengurangkan salah satu inderanya, untuk mengingatkan kami bahwa di dunia ini tak ada sesuatu yang sempurna. Agar kami senantiasa mendekat padaNya dan mengingatNya.

Terbayanglah semua proses intervensi awal yang pernah kami lalui bersama, yang terasa berat dan tidak mudah saat itu. Langsung sirna rasanya semua lelah dan penat yang pernah kurasakan. Semua ada waktunya. Semua berproses, dan aku mulai menikmati hasil dari segenap upaya yang kulakukan saat itu. Dan semua upaya itu akan kuulang lagi beberapa saat pasca operasi implant Cochlearnya kelak….

Alhamdulillah Azelia memang sudah cukup menguasai bahasa sebelum terjadi penurunan respon dengar. Ditambah lagi kegemarannya membaca berbagai macam buku. Jadi, koleksi kosakata yang ada di memorinya sangat beragam, dan itu sangat mendukung kemampuan berkomunikasi dua arahnya yang Alhamdulillah hampir sejajar dengan Anak – anak seusianya, meski pada kenyataannya usia pendengarannya sebetulnya usia biologis dikurangi 2 tahun 8 bulan.

Dengan kegemaran membacanya yang luar biasa dan rasa ingin taunya yang sangat besar itulah Azel mampu menutupi segala keterbatasannya.

Belum lagi, kebiasaan kami berdialog dengannya tentang banyak hal, membuat kami terbiasa terlibat dalam satu diskusi seru yang membuatnya terlatih untuk mengemukakan pendapat.

Satu hal yang patut kami syukuri adalah ketika kami mampu berdiskusi panjang lebar tentang Azelia dan kebutuhan akan pendengarannya. Karena semua diskusi yang kami lakukan, sudah sangat dipastikan akan berpengaruh luar bisa bagi masa depannya di kemudian hari.

Azel yang sangat gemar mempelajari beragam bahasa asing, Azel dengan rasa ingin taunya yang sangat besar, kritis dan luar biasa cerewet. Semua tidak kami raih secara instant.

Ada perjuangan berat yang kami lalui sebelumnya ketika Azelia berproses membuka dunia mendengar dan dunia wicaranya. Dan kami, terutama aku sendiri sebagai ibu yang telah mengajarinya tentang banyak hal, tak ingin kehilangan semua yang pernah kami raih sebelumnya.

Pelita itu telah menyala mengiringinya menapaki masa depannya. Dan ketika kulihat pelita itu mulai meredup cahayanya, aku tak ingin melihatnya padam begitu saja. Aku harus tetap mempertahankannya hingga dia tiba pada tujuan hidupnya kelak.

Itulah yang kami lakukan ketika kami sampai pada keputusan untuk menempuh operasi implant Cochlear untuk Azel. Kami ingin memberikan sesuatu yang memang dibutuhkannya untuk masa depannya, agar kualitas hidupnya tetap terjaga sesuai harapannya.

Azel memang memiliki keterbatasan pendengaran. “Tuli” begitulah istilah lainnya membahasakan. Tapi sejak dia bersekolah di SLB B beberapa tahun yang lalu, Azel tidak terbiasa menggunakan bahasa isyarat.

Berulangkali dia mencoba mempelajarinya, namun tetap tidak mampu menguasainya. Karena kami memang tidak membiasakan penggunaan bahasa isyarat saat berkomunikasi di rumah.

Aku dan suami sama – sama sepakat untuk konsisten memperkenalkan Azel berkomunikasi dengan bahasa verbal. Hingga ia terbiasa mengandalkan sepasang telinganya yang dibantu dengan sepasang ABD untuk mendengar. Dan jika dia harus kehilangan semua itu hanya karena penurunan respon dengar dan alatnya tidak mampu mensupport kebutuhannya, rasanya sangat menyedihkan.

Kami dapat membayangkan, bagaimana kesulitan – kesulitan yang akan dihadapinya kelak. Karena secara perlahan, dia akan kehilangan zona nyamannya. Kami khawatir keceriaan dan semangatnya memudar, dan secara perlahan dia menarik diri dari pergaulan. Itulah yang paling kami khawatirkan.

Azelia bersama temannya, Amanda br Harahap. Azelia sempat bersekolah di SLB B Karya Murni – Medan selama 2 tahun, terhitung sejak 2008-2010.

O ya satu hal lagi….. Azel justru mantap berkeinginan untuk melakukan operasi implant Cochlear justru setelah menonton video proses operasi implant dari YouTube. Sekitar 3 x dia menontonnya.

Kami sempat khawatir dan menegurnya. Kenapa kamu menonton video itu. Dengan lugas dia menjawab, “Aku akan mengalaminya, jadi aku harus tahu apa yang akan dokter lakukan padaku nanti saat di ruang operasi. Mamah dan ayah tenang saja, justru setelah aku menonton video itu sekarang aku semakin mantap untuk memilih Implant Cochlear untukku dan masa depanku.”

“Aku senang belajar bahasa asing, dan aku harus bisa mendengar lagi. Aku rasa operasi itu hanya operasi kecil, karena sayatannya tidak begitu besar. Hanya sedikit saja di belakang telinga…. InsyaAllah aku sudah lebih siap sekarang.”

Itulah Azelia, dengan segenap rasa ingin taunya yang besar.

Satu hal yang menjadi hikmah tersendiri bagiku juga suami, terkait penurunan respon dengar Azel adalah…. Bahwa ternyata pemeriksaan pendengaran secara rutin dan berkala setiap 3 – 4 bulan sekali melalui serangkaian pemeriksaan FFT ( Free Field Trial ) itu sangat penting dilakukan. Karena, kami yang rutin memeriksakan pendengaran Azel pun masih bisa “kecolongan,” Azel mengalami penurunan respon dengar.

Pemeriksaan FFT dimaksudkan untuk memonitor kemampuan pendengaran anak kita dan settingan alat bantu dengarnya. Di lihat lagi settingan alat bantu dengar yang digunakan, apakah settingan alatnya masih cocok dan sesuai atau tidak.

Jika memang terjadi pergeseran, maka biasanya Alat Bantu Dengar akan di setting ulang sesuai hasil pemeriksaan terbaru. Dengan demikian, penggunaan ABD tetap mampu mengcover kebutuhan pendengaran anak – anak kita.

Jika settingan ABD tidak disesuaikan dengan kebutuhan pendengaran anak yang terbaru, maka fungsi dan manfaat dari ABD tersebut tidak dapat dirasakan. Anak tidak merasakan perbedaan antara tidak memakai alat dan ketika memakai alat.

Bahkan, dia tidak akan tau baterai alat masih ok atau sudah habis. Dan yang paling ekstrim adalah, anak menolak tidak mau menggunakan ABD-nya lagi. Karena dia merasa memakai atau tidak memakai ABD, suara tetap tidak terdengar, sama saja.

Dan akhirnya, alat bantu dengar yang mahal itu mulai ditaruhnya sembarangan. Itu juga yang terjadi pada Azel saat awal – awal terjadi penurunan respon dengar. Hasil Audiogram pasca FFT, merupakan indikasi awalnya saat itu. Dan ketika aku komunikasikan hal ini dengan pihak Hearing Centre-nya, Azel di sarankan untuk test audiometri nada murni dan tympano.

Akhirnya, hasilnya positif, Azel mengalami penurunan respon dengar. Yang tadinya 70 dB di telinga kanan, menjadi 85 dB. Yang tadinya 90 dB di telinga kiri, menjadi 105 dB.

Beberapa tahun yang lalu, ketika Azel baru berusia 4 – 5 tahun an, itulah pertama kalinya kami mengikuti sebuah sessi sharing yang membahas mengenai Implant Cochlear. Tapi masih secara umum dan belum se detail saat ini.

Sepulang dari acara tersebut, suamiku langsung membahas tentang kemungkinan Azel melakukan Implant Cochlear. Namun, saat itu pemikiranku belum terbuka seperti saat ini. Kenapa??? Karena aku saat itu masih terfokus pada bagaimana upaya memaksimalkan fungsi Alat Bantu Dengar secara optimal.

Bagiku, tekhnologi apapun yang kita mampu, itulah yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Aku masih penasaran dengan tekhnologi Alat Bantu Dengar yang digunakan Azel. Itu alasan pertama. Kemudian alasan berikutnya karena aku masih merasa takut dengan istilah “operasi” dan “implant (menanamkan alat di dalam salah satu bagian tubuh putriku).”

Satu kesalahan fatal yang baru kusadari saat ini adalah reaksi marah dan menangis pada suamiku saat itu. Baru bisa mentertawai diriku sendiri saat ini, setelah bertahun tahun kemudian. Atas reaksi yang pernah terjadi saat itu.

Menutup diri atas suatu hal yang sesungguhnya justru dapat membantu putra putri kita adalah tindakan yang menurutku sebetulnya kurang bijaksana. Karena itu berarti secara tidak langsung kita menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejalan dengan berjalannya waktu, pemahamanku mengenai seluk beluk dunia Hearing loss semakin bertambah. Terutama setelah kami kembali berdomisili di P. Jawa dan tidak begitu jauh dari ibukota Jakarta.

Beberapa kali aku mengikuti seminar dan Sharing Parents. Bahkan pernah juga mencoba mengkoordinir sebuah Komunitas Mendengar di Kota Karawang dan meminta bantuan kepada beberapa Hearing Centre untuk mengisi materi pengetahuan seputar dunia Hearing.

Secara tidak sadar, aku masuk dalam dunia yang sebelumnya terasa asing dan berusaha untuk lebih memahami tentang kondisi Putriku Azelia dan kebutuhan akan Alat Bantu Pendengarannya.

Hingga saat inipun aku masih terus berusaha untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai Implant Cochlear yang digunakan Azel. “Never stop learning,” begitulah prinsipku yang masih coba kupegang teguh hingga saat ini.

Karena, semakin kita mengetahui tentang sesuatu, maka semakin kita merasa tidak tau apa – apa. Itulah keajaiban ilmu. Dan aku mempelajari semuanya melalui seorang Azelia yang terlahir dari rahimku sendiri. Bagiku, Azel adalah pelajaran berharga dalam hidup ini.

Keputusan Implant Cochlear Azel benar – benar mengubah skenario rencana masa depan kami. Mendadak, kami harus bersegera pindah rumah ke Bekasi.

Itu berarti Azel harus pindah sekolah. Sementara, saat itu Azel kenaikan menuju kelas 6 SD.

Tapi Alhamdulillah, tak ada kesulitan berarti saat Azel beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Nilai raportnya cenderung stabil, dan tetap masuk peringkat 5 besar di kelas. Dan Azel memiliki banyak teman.

Selain itu juga Azel langsung menerima kepercayaan mengikuti lomba pidato mewakili sekolah meski baru 3 bulan bersekolah di SD Bani Saleh 6.

Yang paling mengesankan, Azel diikutkan dalam 2 x lomba pidato dan 1 x lomba story telling dalam bahasa Arab, juga dipercaya membawakan pidato dalam bahasa Sunda saat pembekalan Latihan Dasar Kepemimpinan SD nya yang hanya setahun dia bersekolah disana.

Inilah salah satu hikmah yang dapat kami ambil dari keputusan kami yang sangat tiba – tiba… Allah memang pengatur skenario hidup Yang Maha Sempurna. Subhanallaah….. Alhamdulillah.

8 respons untuk ‘Azelia, Ketika Memilih Implant Cochlear

Add yours

  1. Subhanaullah… Azelia anak yg luar biasa.. Inilah salah satu bukti dr Allah nak, kalau Allah tdk akan mberikan suatu ujian diluar batas kemampuan umatnya, tetap smngat azel syng, juga buat mama&papa azel yg luar biasa, pmbelajaran
    buat pribadi diri saya sndri, tulisan ini sangat mnginpiratif mah, Bismillah ya nak.. Tetap berdoa & berusaha… Gapai trus cita2mu, smoga slalu mnjadi kebnggaan mama, papa, serta role model buat adik2..

    Suka

  2. Aamiin Ya Mujibassaailin…. Aziza mungkin bisa jauh lebih pintar dari kakak Azel. Sejak awal langsung menggunakan Implant Cochlear dan langsung Binaural implant .Daya tangkapnya pun luar biasa. Semoga sukses selalu untuk Anak – anak Hearing loss kita. Aamiin….

    Suka

  3. Dulu bertemu keluarga Kak Azel dan Keluarga Aziza waktu di CTEC Launching Kanso…. Semoga dimudahkan jalan anak-anak kita untuk terus berkreasi dan berprestasi. Salam kenal Kak Azel dari adik Alkha.

    Suka

  4. Hello assalamualaikum. Apakah ini adik azelia yang kukenal sewaktu sekolah SLB/B karya Murni Medan? Ini aku Iren AKM (Azalia Kayana Maharani) yang pernah satu sekolah dengan azel disana. Mungkin azel sudah lupa karena kita ketemu sewaktu azel masih kecil di sekolah SLB/B Karya Murni. Waktu itu azel sekolah cuma sebentar dan masih TK. Azel sekarang pasti sudah besar dan menjadi gadis yang cantik dan pintar. Saya masih ingat mama azel yg dulu pakai jilbab dan kaca mata sewaktu bertemu dengan saya. Ini nomor WA saya 082399691679 jika mau menghubungi saya. Terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Papa Alkha Batalkan balasan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑