Apakah Anda percaya dengan takdir?
Sebagai seorang muslim, tentu saja saya percaya dengan takdir. Karena mempercayai takdir merupakan rukun iman yang ke-6.
Takdir merupakan garis hidup yang sudah Allah tetapkan untuk ummat-Nya. Sebagai contoh, kami ditakdirkan Allah memiliki putri pertama yang terlahir dalam kondisi tunarungu, dia memiliki keterbatasan pada sepasang pendengarannya. Pendengarannya tak sama dengan anak-anak lain pada umumnya. Itu adalah satu bentuk takdir Allah dalam kehidupan rumah tangga kami.
Namun, dalam agama Islam, selain kami harus mempercayai atau mengimani adanya takdir, kami juga mengenal yang namanya ikhtiar dan tawakkal. Mungkin takdir tak dapat diubah, karena itu merupakan ketetapan yang sudah Allah gariskan. Tetapi dapat diupayakan atau diikhtiarkan menjadi jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
Contoh, putri kami terlahir dalam kondisi tunarungu. Itu adalah takdir. Tapi, apakah kami berdiam diri untuk menerimanya begitu saja tanpa upaya apapun? Tentu saja tidak. Dia mungkin terlahir dengan kondisi pendengaran yang tidak sempurna, yang membuatnya tersekap dalam dunia sunyi tanpa suara. Namun demikian di sisi lain, perkembangan teknologi dan dunia kedokteran sangatlah pesat. Masih terbuka suatu peluang untuk dapat membantunya mampu mendengar bahkan mampu berbicara. Kemampuan kami dalam memanfaatkan peluang itulah yang dinamakan dengan ikhtiar.
Kami mengikhtiarkannya agar dapat mendengar, dengan bantuan teknologi. Kami berkonsultasi dengan dokter yang memahami kondisi pendengaran puteri kami, lalu meminta saran dari beliau agar kami dapat mengupayakannya mampu mendengar dan bahkan mungkin lancar berbicara layaknya anak lain pada umumnya, meski puteri kami harus dibantu dengan sebuah alat bantu pendengaran di kefua telinganya. Itulah bentuk ikhtiar yang kami lakukan.
Apakah cukup dengan teknologi saja kami dapat membuatnya mampu mendengar dan berbicara layaknya anak lain pada umumnya? Tentu saja ikhtiar kami tak cukup sampai disitu. Kami harus membuatnya terlatih mendengar dengan memanfaatkan teknologi pendengaran. Kami melatihnya dengan memberikan beragam rangsang bunyi agar dia terbiasa dan mampu membedakan beragam jenis bunyi-bunyian.
Jika anak lain begitu lahir secara otomatis langsung mendengar, maka putri ksmi harus dilatih dan dipandu untuk dapat membedakan beragam jenis bunyi. Kami perkrnalkan satu persatu, bunyi ketukan pintu, bunyi kaleng jatuh, bunyi air kran, bunyi piring yang dipukul sendok, bunyi klakson, bunyi dering telepon, bunyi kami memanggil namanya, dan sebagainya. Kami harus memperkenalkannya satu per satu, lalu memintanya mengingat semua bunyi itu. Putri kami harus merekamnya dalam memory di otaknya.
Tak cukup sampai disitu. Kami juga harus rutin memberikan terapi wicara kepadanya, dengan bantuan seorang speech therapist yang betul-betul memahami ilmunya.
Ia dilatih secara bertahap mengucap rangkaian huruf alphabet dari a sampai z. Biasanya diawali dgn belajar mengucap huruf-huruf bilabial (p, b, dan m). Setelah itu dilatih untuk mampu mengucap huruf-huruf vokal (a, i, u, e, o). Setelah itu dilatih mengucap satu suku kata tertentu (pa, pi, pu, pe, po – ma, mi, mu, me, mo – ba, bi, bu, be, bo, dst).
Setelah pengucapan huruf vokal betul-betul jelas dan terang, lalu pengucapan beberapa suku kata mulai terdengar jelas, barulah ia mulai belajar mengucap satu kata sederhana. Mulai dengan satu kata yang terdiri dari 2 suku kata, tiga suku kata, dsb. Rangkaian proses ikhtiar yang kami lakukan itu cukup panjang. Memakan waktu bertahun-tahun. Menuntut ketelatenan dan sikap konsisten. Juga melarang kami patah semangat. Terkadang gagal dengan satu cara, tapi kami harus mencoba kembali dengan cara yang lain, hingga akhirnya kami menemukan cara yang tepat. Itulah rangkaian ikhtiar yang kami lakukan untuk membiat takdirnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dalam perjalanan mengikhtiarkannya, kami tak boleh berlarut larut dalam kesedihan jika mendapati satu kegagalan. Kami ikhtiarkan dengan cara yang lain. Jika gagal lagi, kami coba lagi cara yang lain, sampai kami menemukan cara yamg tepat.
Namun, jika setelah mencoba berulang kali kami ternyata masih gagal juga, maka itulah saatnya kami bertawakal (menyerahkan segala urusan kami pada ketetapan atau takdir Allah).
Takdir merupakan sesuatu hal yang tak dapat kita hindari, karena sudah tertulis dalam guratan hidup yang harus kita jalani. Tetapi masih dapat diupayakan atau diikhtiarkan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan setelah rangkaian ikhtiar kita upayakan, maka setelahnya kita harus bertawakal (menyerahkan segala urusan kita pada ketetapan Allah). Yang pasti, dalam kitab suci kami (Al-Qur’an), ada salah satu ayat yang menyebutkan bahwa “Allah takkan mengubah nasib dari suatu kaum, jika kaumNya itu tak berupaya mengubah nasibnya sendiri….” (QS. Ar Rad: 11)
Jadi mempercayai takdir itu adalah suatu keharusan bagi kami sebagai seorang muslim. Namun kami masih dapat mengubahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan cara mengikhtiarkannya (mengupayakannya).
Dan setelah rangkaian ikhtiar itu kami lakukan, maka bertawakkal terhadap ketetapan Allah (memasrahkan segala urusan kita pada takdir Allah) merupakan suatu keharusan.
Tinggalkan komentar