Begitu banyak hal yang telah dilalui putri kami di usianya yang ke-21. Beraneka warna, rasa dan cerita hidup yang membuatnya kaya akan pengalaman. Dia memang masih terbilang muda, namun pengalaman hidup yang pernah dilaluinya seolah membuatnya menjelma menjadi sosok yang lebih dewasa dari usianya.

Keterbatasan pada pendengarannya, membawa kami pada rangkaian cerita panjang yang penuh petualangan dan sangat mendebarkan. Begitu beragam dan tak jarang menguras emosi dalam jiwa hingga menumpahkan bulir-bulir air mata.
Dia yang lebih dari 18 tahun lalu baru terdiagnosa tunarungu, yang kami kira nyaris tak ada harapan untuk masa depannya, ternyata justru mampu mandiri dan berdikari di usia yang ke-21 tahun ini. Kuasa Allah adalah penentu utama di atas segalanya. Ikhtiar yang kami lakukan sebagai orang tuanya, hanya sebatas pembuka jalan semata. Semangat dan motivasi dalam diri putri kami merupakan bahan bakar penentu agar semua upaya bisa sesuai dengan apa yang kami harapkan. Semua elemen bersinergi, mendorong perkembangannya hingga mampu mencapai titik ini.

Saat ini putri kami sedang menjalani masa perkuliahan di sebuah Fakultas Hukum salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Setelah setahun sebelumnya, ia menunaikan masa pengabdian sebagai seorang Ustadzah Muda pengajar di salah satu Cabang dari Pondok Pesantren Darunnajah. Ia melaksanakan masa pengabdian, setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Pondok Modern Darussalam Gontor Puteri 1. Saat usia 15 tahun, setelah menyelesaikan masa belajar di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Alhamdulillah ia berkesempatan menimba ilmu di Pondok tersebut.
Putri kami mungkin terlahir dengan keterbatasan pada pendengarannya. Untuk bisa belajar dengan baik, ia harus tergantung pada dua teknologi pendengaran yang berbeda di telinga kanan dan kirinya. Seorang pengguna Bimodal Hearing, demikian istilahnya. Pendengaran telinga kanannya yang saat ini berada di ambang pendengaran 95 db, ditopang oleh sebuah alat bantu dengar digital super power. Sementara, pendengaran telinga kirinya yang berada di ambang 105 db, dibantu teknologi pendengaran implan koklea. Pendengaran dari sepasang telinganya ini sangat tergantung pada ketersediaan baterai sebagai pengisi daya agar kedua teknologi tersebut mampu berfungsi secara optimal.
Kami berdua sebagai orang tuanya, merasa sangat bersyukur menyaksikan Azelia berada di titik ini pada saat ini. Setelah sebelumnya ujian demi ujian hidup selama mendampingi pengasuhannya di masa kanak-kanak hinggga remaja, kami tuntaskan penyelesaiannya satu per-satu.
Putri kami kuat, karena kami senantiasa menguatkannya. Dan kami kuat, karena segenap keluarga besar mendukung dan senantiasa mendoakan kami. Selain itu, Kuasa Allah tentu di atas segalanya. Bagi kami, Allah adalah pemberi kekuatan Yang Maha Sempurna.
Awalnya, keberadaan putri pertama kami yang terlahir tunarungu ini terasa bagaikan ujian hidup terberat dalam kehidupan awal pernikahan kami. Namun seiring waktu berjalan, kami sadar bahwa ia merupakan anugerah terindah yang Allah karuniakan kepada kami. Karena dengan keberadaannya, kami banyak belajar mengenai kehidupan ini.
Kami belajar bersyukur dalam situasi yang tidak ideal, karena hidup yang kami inginkan ternyata tak sesuai kenyataan pada mulanya.
Kami belajar tentang bagaimana mengelola rasa kecewa, dan menyulapnya menjadi sebuah penyemangat hidup yang luar biasa.

Kami belajar mengenai ikhlas yang sebenar-benarnya. Meski awalnya terasa perih, seiring waktu berjalan makna tawakkal yang sesungguhnya dapat kami resapi dan kami pahami lebih baik lagi dari sebelumnya. Setelah itu, pada akhirnya kami juga belajar bagaimana memaknai rasa syukur yang sebenar-benarnya.
Kami semakin memahami, bahwa meski hidup tak selalu sesuai harapan, bukan berarti semuanya usai. Karena takdir Allah di atas segalanya. Di balik semua ujian hidup yang Allah hadirkan dalam hidup ini, akan selalu ada hikmah luar biasa yang akan kita dapatkan asalkan kita beranikan diri untuk memperjuangkan dan menghadapinya.
Kami berdua belajar memaknai arti berjuang dalam hidup ini, dari keberadaannya di tengah-tengah keluarga kecil kami. Mencoba bertahan dari berbagai stigma negatif mengenai seorang anak tunarungu yang beredar di tengah masyarakat luas. Kami yakin, bahwa takdir Allah, merupakan sesuatu yang tak mampu kita hindari, namun masih dapat kita perjuangkan agar menjadi jauh lebih baik dari sekedar berpasrah menerimanya tanpa sedikitpun ikhtiar.
Kami masih ingat betul apa yang kami rasakan saat pertama kali mendengar diagnosa terkait kondisinya yang tunarungu. Bisa anda bayangkan, saat kami mendengarnya seolah ada kilatan petir yang menyambar di siang hari yang terik. Atau bisa juga anda bayangkan seolah sedang berjalan di tepi jurang yang curam, dan kemudian anda terjatuh ke dasar jurang yang gelap, nyaris tanpa cahaya. Dimana pada saat itu yang anda rasakan hanya kegelapan tanpa secercah cahaya. Begitulah rasanya. Kami langsung merasakan betapa gelap dan sepi dunianya. Tersekap dalam sunyi, tak mampu mendengar sedikitpun suara. Bagaimana mungkin ia kelak akan mampu berceloteh dan bercerita apapun yang dirasakannya… Sungguh tak mampu kami membayangkan kepedihan itu.
Tangisan, merupakan tumpahan emosi yang mampu kami luapkan pada saat itu. Tetes-tetes air mata yang berderai menggambarkan kesedihan dan kebuntuan di dalam jiwa kami. Semangat dalam hati memudar begitu saja, nyaris tak bersisa. Kegundahan dan kegelisahan mengambil alih kuasa dalam hati, menyisakan rasa sakit yang luar biasa.
Ternyata seperih inilah kenyataan dalam masa awal usia pernikahan kami. Akankah pernikahan ini tetap kekal abadi? Ataukah justru kami perlahan saling menjauhkan diri dan melepaskan janji mengarungi hidup bersama? Berjuta tanya berputar di kepala, membuat kami saling terdiam, seolah dunia terhenti saat itu juga.
Tapi tidak, sungguh kami tak ingin menyerah begitu saja pada keadaan. Hidup ini rasanya terlalu berharga untuk kami keluhkan dan kami tangisi sepanjang hari. Kami memilih untuk saling menguatkan ditengah ketidakberdayaan. Perlahan-lahan mencoba saling menyadarkan diri, bahwa kuasa Allah adalah sesuatu yang pasti.
Takdir kami mungkin tak sesuai dengan keinginan, melenceng jauh dari harapan yang telah tersusun rapi di benak ini. Namun demikian, bukankah hidup ini merupakan rangkaian dari ujianNya? Mau tak mau, suka tak suka, kami harus menghadapinya sebagai bagian dari kisah perjalanan keluarga kecil kami yang sedang belajar menapaki kehidupan yang sebenarnya.
Ikhlas menerima takdir, sepahit apapun itu, sesungguhnya merupakan kunci bagi terbukanya harapan dan pencapaian-pencapaian kecil. Yang pada akhirnya membuat kami merasa lebih baik dan semakin mensyukuri nikmatNya.
Waktu yang dahulu terasa berjalan lambat karena beratnya beban kehidupan, perlahan mulai terasa ringan seiring bertambahnya usia putri kami Azelia. Setiap upaya yang dahulu terasa percuma tanpa hasil yang nyata, perlahan mulai berproses dan pencapaian-pencapaian kecil-pun mulai diraihnya.
Do’a-do’a kecilku mulai terkabul. Satu demi satu. Ia yang pernah ditolak di sebuah SDIT dan sebuah SD umum swasta di kampung halaman kami, pada akhirnya berkesempatan belajar di sebuah Pondok Pesantren yang cukup ternama di negeri ini.

Ia yang dulu ketika berbicara malah ditertawakan dan diabaikan, kini justru malah dinanti dan dicari-cari oleh puluhan bahkan mungkin ratusan santri adik kelasnya saat masih belajar di Pondok dan saat menjalani masa pengabdian.
Ya, putri kami bercerita, bahwa ketika kelas 5 KMI, ia membantu mengajar kelas sore. Dan di tempat pengabdian, ia juga mengajar beberapa mata pelajaran. Lisannya begitu dinantikan, karena ilmu yang dikuasainya. Sungguh kenikmatan tersendiri bagi kami ketika mendengarnya bercerita tentang betapa sibuknya ia mencoba terus belajar, agar mampu memberikan pemahaman terbaik tentang beberapa pelajaran yang harus disampaikannya. Kami merasa sangat bersyukur… kemampuan lisannya yang kami upayakan sedemikian rupa, pada akhirnya memberi manfaat bukan hanya untuk putri kami seorang, tetapi bagi begitu banyak orang, begitu banyak santri yang pernah belajar bersamanya.

Putri kami juga bercerita, mengenai kegundahannya akan remaja masa kini yang mayoritas minim literasi, karena tidak begitu menggemari kegiatan membaca. Karena secara pribadi ia merasa dari membaca itulah justru ia mampu mengejar begitu banyak ketertinggalan dalam penguasaan bahasa dan pemahaman kosakata. Hingga akhirnya ia tergerak untuk mengupas tuntas mengenai manfaat membaca dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan baru dalam sebuah presentasi di Pondok tempatnya mengabdikan diri.
Ia yang dahulu mencoba membaur dengan teman-temannya dan malah dijauhi….kini mulai dicari-cari oleh beberapa komunitas organisasi di kampusnya, bahkan dimintai kesediaan untuk menjadi salah satu pengurus di salah satu divisi organisasi mereka. Amanah yang tidak main-main, namun merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk membuatnya belajar hal-hal baru.

Semua terjadi secara natural. Proses berjalan dan kami mencoba mengikuti alurnya, mengikhtiarkan banyak hal semampunya dan meniatkannya karena Allah semata. Sebagai bentuk ibadah kami pada Sang Maha Pencipta. Tak muluk harapan yang kami gariskan. Kami hanya berusaha membekalinya dengan kemandirian, wawasan dan pengetahuan yang cukup, untuk membuatnya mampu bertahan di tengah kehidupan yang keras ini.
Hingga hari ini, putri kami Azelia masih terus berproses. Ia belajar memberanikan diri untuk terus mengeksplore segenap potensi yang ada dalam dirinya. Ia masih berupaya memperbaiki apa yang dirasa masih kurang dari dirinya. Termasuk mengasah tingkat kepekaan respon dengar dan kemampuannya dalam mengolah kata. Tak lupa putri kami juga terus berupaya meningkatkan kemampuannya dalam menulis untuk mengartikulasikan pokok pikirannya dalam bentuk tulisan.
Kami berharap, para orang tua dari anak-anak tunarungu yang masih berjuang di masa habilitasi dan masa intervensi awal tidak putus harapan. Percayalah bahwa setiap proses yang terasa berat hari ini, suatu saat akan membuahkan hasil. Ikuti saja rangkaian prosesnya, nikmati setiap kisah yang harus kita lalui. Saat ini mungkin membuat kita menangis, terluka dan bahkan sedih berkepanjangan. Namun suatu saat nanti kita akan tersenyum ketika mengingatnya.
Ingatlah kisah bagaimana sebuah keris yang indah tercipta. Ia melalui proses pembakaran dan ditempa berulangkali hingga akhirnya berwujud keris yang indah rupawan. Begitu pula halnya kehidupan yang kita jalani. Allah menempa kita melalui ujian-ujian yang terasa berat dan bahkan membuat kita bersedih dan menangis berulangkali. Itu karena Allah mempercayai kekuatan tersembunyi yang ada dalam diri kita. Suatu saat justru semua itulah yang akan membentuk kita dan anak-anak istimewa kita. Tanpa sadar, justru kita akan menjadi lebih kuat dari yang kita bayangkan. Berjuanglah terus, jangan mudah menyerah. Menangis sesekali ketika merasa lelah, itu tak mengapa. Namun setelah itu…. kembalilah menguatkan diri. Karena detik demi detik terus berjalan dan masa terus berganti. Jangan biarkan penyesalan kita dapati di kemudian hari.
Tinggalkan komentar