Dua Kejutan dalam Satu Tahun Ajaran.

Apa saja peristiwa positif yang Anda alami selama setahun terakhir?

Putri pertamaku Azelia. tahun ajaran ini memasuki dunia perkuliahan, Alhamdulillah diterima di sebuah PTN melalui jalur mandiri. Dan jurusan yang lolos, ternyata di luar dugaan, yaitu Fakultas Hukum.

Sebuah Fakultas yang beberapa tahun lalu mencoba dihindarinya, ternyata pada akhirnya menjadi takdir yang harus dijalaninya kemudian. Namun pada akhirnya, ia menerima takdir itu dengan senyum merekah disertai semangat yang membara. Karena pada dasarnya ia senang mempelajari apapun. Selama hal itu berdampak positif bagi kehidupannya, dan tidak merugikan orang lain di sekelilingnya. Putri pertama kami menikmati rangkaian kesibukan baru yang harus dijalaninya saat ini.

Meski ia seorang tunarungu, dan keterbatasan pendengaran menjadi kawan setia yang mendampingi kehidupannya,  ia tetap tersenyum sembari terus berjalan menapaki masa depannya. Menjalani setiap goresan takdir dengan lapang dada dan penuh rasa syukur. Menikmati setiap moment dengan keceriaan dan semangat pantang menyerah yang terpancar dari jiwanya yang murni.

Bagiku, keberadaannya merupakan cahaya dalam kehidupan kami. Menjadi sosok inspirator bagi kami sekeluarga. Semangat dalam dirinya turut menyemangati kami semua yang berada di dekatnya. Ia yang berkawan akrab dengan kesunyian saja seceria itu, maka malulah kami semua jika terlalu banyak mengeluh. Panca indera kami sempurna dan kami belajar banyak darinya. Bahwa kesempurnaan panca indera tak menjamin kesempurnaan dalam segala hal. Karena sempurna dan tidak sempurna itu sebetulnya beda tipis saja. Yang terpenting bagaimana kita mensyukuri apa yang Allah berikan kepada, dan bagaimana kita memanfaatkannya sebaik mungkin untuk bisa bermanfaat. Baik bagi bagi diri kita sendiri,  maupun bagi orang-orang di sekeliling kita.

Kejutan yang kedua dihadirkan oleh putri kami yang ke-dua. Yasmina, adik dari Azelia. Tahun ini ia memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas. Kami menyaksikan putri kedua kami yang seorang sensing introvert ini pada akhirnya memberanikan diri untuk memasuki kelas Tahfidz.

Yasmina yang cenderung pendiam ini, akhirnya mau berupaya untuk belajar keluar dari zona nyamannya. Aku rasa ia mulai mendengarkan saran dan masukan kami. Ia sedang bertransformasi menjadi dirinya yang baru. Mencoba keluar dari zona nyaman yang selama ini menghipnotisnya dalam ketidakberdayaan dan kepasrahan.

Ia sepertinya ingin mencoba mengembangkan segenap bakat dan potensinya yang selama ini tersembunyi dalam diamnya. Ia memiliki kelebihan yang unik, kecerdasan dalam pendengaran dan geraknya. Sepintas, ia mungkin nampak pendiam.  Namun dalam diamnya justru ia banyak belajar, banyak menyerap dan banyak mengamati. Serupa spons yang menyerap cairan. Ia rupanya mulai menyadari kelebihannya yang ia coba sembunyikan di balik satu sudut tersembunyi dalam hatinya.

Kami merasa bersyukur pada akhirnya seorang Yasmina memiliki sedikit keberanian untuk mau keluar dari zona nyamannya. Hal ini merupakan satu hal yang harus diapresiasi sebaik mungkin. Menjadi awal yang baik bagi perkembangan karakternya beberapa tahun ke depan. Ketika seseorang mulai berani mengambil sikap dan menentukan arah tujuannya, itu berarti ia siap untuk berjuang dan belajar menghadapi segala tantangan yang kelak singgah di tengah perjalanannya kelak. Dan bagi kami, ini merupakan sesuatu yang positif. Sesuatu yang mahal dan berkelas mulai membayanginya. Kami yakin dalam beberapa waktu ke depan mentalnya akan menguat, karakternya semakin tangguh dan semangat pantang menyerah perlahan tetapi pasti mulai hadir dalam dirinya.

Bagi kami berdua sebagai orang tua, kehidupan ini tak ubahnya sebuah ruang kelas tempat kami belajar. Belajar memahami dan bertumbuh bersama. Saling mendukung, saling mengingatkan dan saling menguatkan satu sama lain.

Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh misteri. Terkadang dihadapkan pada pilihan, menyerah atau terus melanjutkan langkah. Berhenti disini, atau terus mencoba lagi. Bagi kami merasa kalah sesekali dan menangis dengan hati yang pedih sesekali tak mengapa. Dari tamgisan dan kepefihan itulah semangat baru kembali muncul. Menghadirkan ruh penyemangat yang terus menemani. Laksana obor dengan nyala yang sesekali redup katena terpaan angin…. itu adalah sesuatu yang manusiawi. Tapi tidak membiarkannya berlama-lama di dalam hati. Luka itu harus disembuhkan. Perlahan namun pasti. Karena hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑