Pagi itu kami melihat Azelia menangis sedih. Wajahnya nampak muram dan sisa bulir-bulir air mata masih terlihat jelas di matanya yang nampak sembap.
Aku dan suamiku terkejut menyaksikan pemandangan itu. “Lho…kok, kenapa kamu nangis? Ada apa? Harusnya kamu bahagia karena sudah berhasil menyelesaikan masa pendidikanmu disini. Kamu sudah lulus Kak, ada apa lagi ini? Kenapa menangis?”
“Aku bukan menangis karena itu Mamah. Aku sedih, kecewa, kesal dan tak habis pikir…kenapa Pondok tak memberi kesempatan padaku untuk menjadi Ustadzah Dalam? Aku ingin mengabdi di sini. Walaupun kata teman-temanku aku beruntung mendapatkan pengabdian mandiri, tapi aku ingin mengabdikan diri disini. Aku mau kok menjalani semuanya yang ditugaskan. Akan aku jalani semuanya meski kata orang pengabdian dalam itu berat…”
Ternyata pembacaan tugas pengabdian pagi itu sukses membuatnya sedih dan terharu. Sebuah kenyataan yang tak sesuai harapan yang selama ini dirangkainya harus ia terima dengan lapang dada. Kali ini bukan karena perlakuan diskriminatif. Sungguh, pondok ini memperlakukan seluruh santrinya dengan perlakuan yang sama. Aku yakin, Pondok telah mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan.

Kesedihan Azel dapat aku rasakan. Pandangan mataku mengabur, butiran air mata haru mulai tak terbendung, menitik membasahi wajahku. Spontan, kupeluk ia dan ku usap lembut punggungnya. Ia semakin terlihat sedih, punggungnya berguncang, seiring isak tangis yang terdengar memilukan. Putriku harus kembali belajar mengikhlaskan satu mimpi yang tak mampu diraihnya. Allah kembali memintanya untuk bersabar.
Mungkin putriku begitu kerasan disini. Suasana hangat yang memeluknya selama bertahun-tahun, ia tak rela meninggalkannya begitu saja. Sepertinya ia merasa diakui di dalam Pondok ini. Merasa diperlakukan setara, tanpa menerima sedikitpun perlakuan diskriminatif seperti yang pernah dialaminya di jenjang pendidikan yang pernah dilalui sebelumnya. Ia merasa diberikan kepercayaan dan keleluasaan untuk mengeksplore segenap bakat dan potensinya, di beri cukup ruang untuk berekspresi, berinteraksi, dan berkiprah dalam berbagai kegiatan dan perlombaan yang diadakan. Sesuatu yang nyatanya memang sulit ia dapatkan di sekolah umum. Untuk seorang anak tunarungu seperti putri kami Azelia, kesempatan semacam itu merupakan sesuatu yang sangat mahal harganya. Dan itulah salah satu kelebihan Pondok Gontor di matanya yang sangat ia kagumi.
Pondok ini tak memandang kekurangan ataupun keterbatasan seseorang, tidak pula memandang dia anak siapa (anak pejabat atau bukan), semua diperlakukan sama. Ketika memasuki gerbang Pondok, semua setara. Yaitu anak-anak santri yang siap belajar agama, dan siap menjalani masa pendidikan dengan segenap aturan dan disiplin yang melekat menyertainya.
“Kak, Pondok memutuskan pengabdian mandiri untuk Kakak tentu dengan banyak pertimbangan. Bukan karena meragukan kemampuan Kakak. InsyaaAllah inilah takdir terbaik yang Allah berikan untuk Kakak. Tak semua yang kita inginkan itu langsung terwujud seketika Kak. Ingat, takdir itu Allah yang mengatur. Kita hanya mampu mengikhtiarkan, mengusahakan yang terbaik lalu memasrahkan akhir dari ikhtiar itu pada keputusan-Nya.” Secara bergantian, aku dan ayahnya mencoba menghibur Azel. Kami harus menenangkan dan menghangatkan kembali hati dan pikirannya yang mungkin sedang penuh dengan idealisme yang memuncak.
Azelia putri kami memang sangat idealis. Sejak kecil ia seorang anak yang selalu bersemangat mempelajari apapun. Ia punya mimpi, mau berusaha sekuat tenaganya, dan bersedia mencurahkan segenap daya upaya yang dicapainya hanya demi mewujudkan apa yang menjadi impian dan harapannya. Seorang yang energik dan penuh semangat, itulah Azelia yang kukenal. Bahkan jauh sebelum bibirnya mampu mengucap kata-kata yang bermakna.
Melanjutkan pendidikan ke Pondok Gontor Putri 1, merupakan bagian dari mimpi dan harapan yang mulai dirangkainya sejak semester akhir kelas 8 bangku SMP. Awalnya ia menolak ketika Ayahnya menawari untuk belajar di Pondok. Namun, ayahnya meminta Azel mempelajari dan mengenal Pondok Pesantren Gontor melalui beberapa tulisan yang memaparkan tentang sejarah salah satu Pondok tertua di Indonesia ini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti testing dengan penuh persiapan sebelumnya, yaitu mengikuti Bimbel di IKPM Bekasi yang diselenggarakan di Islamic Center Kota Bekasi.
Bukan hanya menetapkan hati untuk mondok di Gontor, ia juga merangkai mimpi lain setelah lulus dari Pondok ini. Ia berencana belajar sungguh-sungguh di Pondok ini, untuk kemudian membuka sendiri peluang bagi dirinya meraih beasiswa belajar ke Kairo. Itulah yang kami rasa membuatnya menangis sedih dan terharu ketika mendapati takdir bahwa ia tak mendapatkan tugas sebagai Ustadzah dalam yang mengabdi di Pondok Gontor. Kami tahu ia sudah mempersiapkan diri dengan berikhtiar semaksimal mungkin untuk membuka peluang ini sejak tahun pertamanya belajar di Pondok ini. Azelia putri kami berupaya menambah tabungan hapalan Qur’an di sela-sela waktu luang yang dimilikinya.
Bukan hanya itu, ia juga terus berupaya meningkatkan kemampuan adaptasi dan kreativitasnya dalam memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya dalam keseharian kehidupan Pondok. Kami hanya menerima telpon darinya ketika ada hal yang benar-benar penting, hanya 2 hingga 2,5 bulan sekali, ketika baterai alat habis, atau ia memerlukan sparepart alat implant yang baru, atau ketika alat bantu dengar atau implant kokleanya bermasalah. Sebagai orang tua, aku dan ayahnya memberikan kepercayaan penuh pada Azel juga pada Pondok. Kami yakin, Pondok sebesar Gontor tentu akan berusaha keras mencetak para santri yang berkarakter melalui sistem pendidikan yang ditanamkan melalui segenap aturan disiplin yang dilaksanakan didalamnya.
Namun bagaimanapun juga, sekali lagi… Allah lebih berkuasa atas segala sesuatu. Bagaimanapun kita mempersiapkan segala sesuatunya, jika Allah belum menghendaki, maka apa yang kita harapkan takkan mungkin dapat terwujud. Itulah yang dialami putri kami pada saat itu. Dan adalah tugas kami sebagai orang tua untuk mengingatkan padanya bahwa tak semua yang kita inginkan dapat terealisasi seketika itu juga. Bukan karena Allah tak sayang pada kita, mungkin justru itulah wujud kasih sayang yang Allah berikan pada kita. Mungkin Allah menganggap putri kami Azelia belum siap sepenuhnya, atau mungkin Allah sedang mendidik dan menggemblengnya menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan sabar lagi dalam menghadapi kehidupan. Itulah yang berusaha kembali kami tanamkan dalam diri Azel. Sungguh Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, itulah yang kami yakini sepenuhnya dalam hati kami sebagai orang tuanya.
“Kak…tak menjadi Ustadzah Dalam, bukan berarti tak bisa kuliah di Al-Azhar-Kairo. Ada banyak jalan lain yang terbuka. Masih ada beasiswa dari Kementerian Agama, juga dari beberapa lembaga lainnya. Nanti kita cari infonya ya. Atau….kalau memang kamu mau kuliah disana, kita bisa upayakan mendaftar melalui jalur mandiri, dengan biaya sendiri untuk tahun pertama. Setelah kuliah di sana satu semester kakak bisa mencari informasi beasiswa. InsyaaAllah Ayah siap mensupport, tidak usah khawatir ya. Jangan sedih lagi, dihadapi dan jalani saja semuanya seikhlas mungkin. InsyaaAllah selalu ada jalan kalau Kakak berkemauan kuat.” Ayahnya kembali menghibur putrinya.
Sekembalinya kami dari Mantingan, setelah beberapa hari kami menikmati suasana rumah, kembali aku dan ayahnya mengajak Azel berbincang seputar kelanjutan tugas pengabdiannya. Pengabdian mandiri berarti putri kami harus mencari tempat pengabdiannya sendiri.
Alhamdulillah akhirnya Azelia putri kami mendapatkan tempat pengabdian di salah satu Cabang Ponpes Darunnajah, tepatnya di Ponpes Modern Darunnajah 9 Pamulang. Setelah sebelumnya menuliskan sebuah essay yang menceritakan apa dan kenapa ia ingin mengabdikan diri Pondok Darunnajah. Setelah penulisan essay rampung, ia dipanggil mengikuti pelatihan selama kurang lebih 1 minggu. Dan sessi wawancara terkait kesiapan wawancara merupakan penutupnya. Setelah itu barulah informasi mengenai kepastian penempatan diterima.

Di Pondok tempatnya mengabdi, awalnya Azelia putri kami ditugaskan menjadi Guru pengganti yang harus bersiap mengajar, kapanpun diperlukan. Karena ada riwayat ia pernah menjadi pengurus Perpustakaan di Pondok asal tempat belajarnya dulu, di Pondok pengabdian-pun ia ditugaskan untuk membantu pengelolaan Perpustakaan Pondok. Yang tugasnya antara lain merapikan sistem pengelolaan perpustakaan, melakukan presentasi terkait peran pentingnya Perpustakaan dalam meningkatkan kemampuan literasi dan akademik santri.
Selang 1-2 bulan kemudian Azelia ditugaskan sebagai pengajar dari beberapa mata pelajaran bukan lagi sekedar Guru pengganti. Tugas menjadi salah satu pengurus perpustakaan-pun tetap dijalankannya sebaik mungkin. Bahkan, baru kami tahu menjelang masa berakhirnya tugas pengabdian bahwa ia juga menjadi Koordinator Karya Tulis Ilmiah (KTI), asisten wali kelas, dan membantu bagian kesiswaan sebagai seksi dokumentasi, ketika para santri melaukan kegiatan tertentu.

Pamulang tak begitu jauh dari Bekasi. Namun demikian, tetap saja beragamnya tugas yang diemban membuat putri kami sangat jarang pulang ke rumah. Ia hanya pulang ketika sudah waktunya melakukan setting ulang alat-alat pendengarannya, sesuatu yang sangat penting baginya. Kesibukan dan padatnya aktivitas itu sangat kami maklumi sepenuh hati. Yang terpenting bagi kami, ia selalu dalam kondisi sehat dan prima ketika berkegiatan.
Pada saat melakukan tugas pengabdian ini jugalah putri kami Azelia perlahan lahan mulai belajar lebih mandiri. Ia belajar cara mempergunakan kereta api untuk pulang ke rumah di Bekasi, atau mengunjungi pameran buku di Jakarta. Sesuatu yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, ia semakin tumbuh mandiri dan berani.

Ada rasa hangat menyaksikan semua ini. Putri kami yang terlahir tunarungu ini, mendapat kesempatan berbagi pengetahuan dan wawasannya dengan para santri yang jumlahnya mungkin ratusan. Meski awalnya ia merasa sedikit tidak percaya diri ketika harus mengajar ilmu perbandingan agama untuk kelas yang lumayan tinggi, namun pada akhirnya ia tak menyerah. Setelah kami mendorongnya dengan mengatakan bahwa kepercayaan yang diberikan Pondok tempatnya mengabdi adalah sesuatu yang luar biasa. Sudah seharusnya diapresiasi dengan semangat yang membara. Disitulah justru kesempatan baginya untuk kembali belajar dan memperdalam ilmu yang sudah diajarkan sebelumnya. Karena sejatinya, mengajar adalah kesempatan untuk kembali belajar.
Kesempatan belajar di Al-Azhar – Kairo mungkin belum didapatkannya. Namun ia mendapatkan kesempatan pengganti lain yang tak kalah menarik. Pengalaman mengajar untuk berbagi wawasan serta pengetahuan, juga berkesempatan lebih mengenal cara memanfaatan transportasi lain selain dari taksi dan bis umum, yaitu kereta api. Menurut kami, dua hal ini merupakan pengalaman luar biasa baginya. Semakin melengkapi pengalaman-pengalaman mendasar yang pernah didapatkan sebelumnya.
Ya, keinginan putri kami untuk belajar di Kairo mungkin belum terealisasi saat ini. Mungkin Allah menginginkan agar ia lebih banyak menyerap ilmu, pengetahuan dan wawasan lain terlebih dahulu, untuk lebih melengkapi apa yang sudah didapatnya selama ini. Mungkin Allah sedang mempersiapkannya dengan kemampuan mendengar dan berbicara yang jauh lebih baik dan jauh lebih fasih lagi. Yang pasti, kami yakin segala sesuatu ada hikmahnya. Bukan berarti mimpinya terhapus begitu saja, suatu saat mungkin ia akan mampu mewujudkannya jika Allah menghendakinya demikian. Aamiin, aamiin Ya Robbal ‘Aalamiin.
Memiliki seorang putra atau putri dengan keterbatasan panca indera yang menempuh pendidikan di sekolah umum, memang membutuhkan persiapan mental ekstra. Kita harus mampu menjaga kepercayaan diri mereka, agar tetap mau mengikhtiarkan yang terbaik sesuai kemampuannya. Harus mampu menenangkan, ketika kenyataan tak sejalan dengan harapan. Harus mampu meyakinkan, bahwa apapun yang terjadi, itulah kuasa Allah yang sedang berjalan.
Ketika harapan tak sesuai kenyataan, ketika impian belum dapat kita wujudkan, bukan berarti dunia kita terhenti begitu saja. Namun ketika semangat terhenti seketika, maka itulah kesia-siaan yang sesungguhnya. Berhentilah meratapi nasib dan bergeraklah segera. Idealis boleh, tetapi tetap harus mampu bersikap realistis. Bagaimanapun juga, membuka peluang baru adalah lebih baik daripada meratapi sesuatu yang belum mampu kita genggam. Itulah diantaranya beberapa nasehat yang seringkali kami sampaikan kepada putri kami Azelia, setiap kali ia merasa apa yang diharapkannya belum dapat diwujudkan.
Tinggalkan komentar