Ramadhan 1445 H lalu bertepatan dengan Ramadhan 2024 M itu, merupakan tahun yang mungkin takkan kami lupakan seumur hidup. Moment yang luar biasa syahdu dan mengharu biru, menyesakkan dada kami pada saat itu. Mengharukan, sekaligus membahagiakan. Itulah moment Yudisium angkatan Integrated Generation, angkatan yang menjadi santri di masa Pandemi Covid 19. Kelulusan angkatan putri kami Azelia.

Kami yakin, moment ini merupakan moment paling membahagiakan sekaligus mengharukan bagi seluruh orang tua yang seangkatan dengan putri kami. Bagaimana tidak, didikan Gontor yang sangat terkenal dengan penegakan disiplin yang tinggi itu, akhirnya mampu diselesaikan puteri kami hingga tuntas. Ditambah lagi, masa pandemi yang mengguncang dunia pada saat itu, membuat Pondok dengan sangat terpaksa meniadakan waktu kunjungan untuk para santri. Berangkat dan pulang tanpa didampingi orang tua, hanya bersama rombongan konsulat dari masing-masing daerah. Semua pengalaman itu menyisakan cerita khas tersendiri bagi angkatan integrated generation, termasuk diantaranya, putri kami Azelia. Kemandirian serta kekuatan niat belajar mereka benar-benar di uji.
Tidak mudah untuk mampu bertahan di bawah didikan Pondok ini. Disiplinnya yang tinggi, sistem penilaian kemampuan akademiknya yang mengedepankan kejujuran dan kepercayaan diri tanpa mengenal nilai raport hasil mark up, menyajikan rasa tersendiri di hati para santri. Beragamnya kegiatan yang menjadi rangkaian keseharian di sana, tak jarang menguji kesabaran mereka. Beban tanggung jawab yang diemban masing-masing santri, terkadang menggetarkan hati mereka. Namun, semua itu mereka hadapi dengan berani. Keikhlasan dan kemauan kuat menyelesaikan pendidikan yang dijalani menjadi nafas mereka, sehingga tantangan apapun pasti akan mereka hadapi. Hingga akhirnya sesuatu hal yang dianggap beban pada awalnya, seolah menguap menjadi bulir-bulir semangat yang perlahan tertata dalam hati. Hingga tak terasa masa 4 tahun terlalui, dengan beragam kisah dibaliknya yang meninggalkan kesan tersendiri.
Godaan dan ujian ketika mondok, tak hanya dirasakan para santri. Kami sebagai orang tua-pun turut merasakannya. Termasuk kami berdua sebagai orang tua dari Azelia, putri kami yang terlahir dengan kondisi pendengaran tak sempurna. Sebagai seorang anak tunarungu dengan sepasang alat bantu pendengaran (Alat bantu dengar di telinga kanan, implant koklea di telinga kiri), mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren tentu bukan perkara mudah.
Ketika bertelepon, atau ketika menuliskan sepucuk surat yang diselipkan diantara paket bulanan yang kami kirimkan, kami senantiasa berpesan pada Azel, “Jangan lupakan niat awalmu masuk Gontor. Apa yang kamu cari disana? Luruskan lagi niatnya ya. Niatkan untuk ibadah, agar kamu senantiasa Allah kuatkan. Dijaga pola makannya, agar semua kegiatan terlaksana dengan baik.”
Sistem penilaian pendidikan Gontor yang jujur apa adanya, tanpa memandang status sosial ataupun kondisi putera puteri kami, menjadi satu hal yang membahagiakan, membanggakan sekaligus mendebarkan bagi kami semua.
Dan Azelia, puteri kami yang terlahir dengan kondisi pendengaran tak sempurna, atau kebanyakan orang mengistilahkannya dengan kondisi tuli, tunarungu, atau hard of hearing. Alhamdulillah menjadi salah satu dari 2 ribu lebih lulusan angkatan Integrated Generation. Alhamdulillah putri kami bisa lulus tepat waktu, dan nyaris tanpa drama selama 4 tahun masa pendidikan. Karena memang, mengenyam pendidikan di Gontor Putri 1 betul-betul murni keinginan putri kami sendiri. Mengenyam pendidikan di Gontor Putri 1, merupakan salah satu cita – cita yang berhasil diwujudkannya.

Ada satu cerita unik dari putri kami. Semenjak ia memasuki usia sekolah, tak pernah sekalipun ia mau di privatkan, di les-kan, ataupun dimasukkan dalam sebuah bimbingan belajar apapun. Namun sungguh berbeda halnya ketika ia berniat mengikuti testing Gontor.
Ketika kami infokan bahwa ada pusat bimbingan belajar persiapan masuk Gontor di kota Bekasi ini, ia langsung meminta kami mendaftarkannya untuk belajar disana. Suatu kesungguhan yang sungguh luar biasa yang kami saksikan pada diri Azelia di pertengahan 2019. Ia berkata kepada kami, “Daftarkan aku mengikuti bimbel masuk Gontor di IKPM Bekasi. Aku ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ingin merasakan belajar di Pondok, agar kelak aku dapat mempertanggungjawabkan sisa pendengaranku yang tak seberapa ini.”
Di lain hari, ia kembali mengutarakan niatnya mondok, lalu berkata: “Mah, Allah sudah berbaik hati kepadaku. Memberikan kesempatan bagi telinga kiriku, untuk kembali bisa mendengar dengan baik melalui teknologi implant koklea. Rasanya ini seperti mimpi. Dengan implant koklea ini, aku bisa belajar dengan baik di sekolah. Kali ini, aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin untuk belajar Agama. Izinkan aku mondok ya Mah. InsyaaAllah aku akan baik-baik saja. Mamah dan Ayah sudah memberikan bekal yang cukup untukku selama ini. Aku yakin, kali ini aku mampu bertahan. Aku belajar banyak dari beberapa kasus bullying yang pernah ku alami. Jangan khawatir, InsyaaAllah aku yakin akan mampu melalui masa pendidikan di Pondok hingga lulus nanti.”
Katakanlah, apa mungkin aku menolak permintaan sebaik ini? Aku hanya butuh jaminan keamanan dan kenyamanan bagi putriku untuk belajar disana. Dan aku meminta langsung pada Allah. Tempat bersandar yang sesungguhnya. Tiada daya dan upaya yang aku lakukan kecuali menyerahkan segala urusanku padaNya.
Pada saat itu, bulan Maret 2019, kami berkesempatan menunaikan ibadah Umroh. Kulangitkan do’aku sebanyak mungkin untuk ketiga putriku. Termasuk memohon petunjuk dariNya untuk jawaban atas permintaan yang diajukan putriku. Karena bagiku, menjawab dengan ‘iya’ di mulut itu mudah saja. Namun mengikhlaskan dengan sepenuh hati….. tentu butuh penegasan yang tidak main-main. Agar kami betul-betul mampu melepasnya seikhlas mungkin. Bukan sekedar ikhlas yang seucap bibir semata. Apalagi mengingat putri kami Azelia Salsabila Iskandar yang merupakan seorang pengguna bimodal hearing.
Telinga putri kami kanan dan kirinya menggunakan 2 teknologi pendengaran yang berbeda. Telinga kanannya menggunakan alat bantu dengar (abd), sementara telinga kirinya menggunakan implant koklea. Seperangkat alat pendengaran dalam satu tas khusus, akan menemaninya di Pondok. Dan hal itu tentunya bukan perkara mudah. Apalagi jika mengingat harga dari kedua teknologi tersebut. Kami harus betul-betul melepas seikhlas mungkin. Karena ketika Azel masuk Pondok, maka dialah yang bertanggung jawab atas seluruh perangkat alat-alatnya. Kami tak bisa mengandalkan siapapun untuk itu, kecuali mengandalkan putri kami sendiri dengan segenap rasa tanggung jawabnya.
Alhamdulillah putri kami memahami betul perihal yang terkait kebutuhan pendengarannya. Ia memang kami latih sejak awal mengenai hal itu. Ketika telinga kirinya menggunakan teknologi implant koklea-pun, ia sangat sibuk mempertanyakan tentang perawatan alat tersebut. Meminta kami mengajarinya. Bahkan, ia meminta hearing acquisitionnya menjelaskan tehnik menyetting alat melalui remote assistant yg dimilikinya.
Ia mempertanyakan pada hearing acquisitionnya mengenai apa yang boleh disetting sendiri, dan apa yang tak boleh. Standar settingannya seperti apa, apakah ada batasannya atau tidak, dsb. Awalnya aku melarang keras ia mengotak atik remote tsb. Namun, lama kelamaan kubiarkan ia mempertanyakan semuanya dan belajar untuk lebih memahaminya. Karena suasana Pondok yang ramai, mungkin hanya ia sendiri yang mampu menyesuaikan settingan alatnya sesuai kebutuhan pendengarannya pada saat itu.
Berjalan sejauh 500 m hanya demi menyimpan alat pendengarannya di sebuah alat pengering elektrik setiap malam dan pagi buta, merupakan bagian dari kisah Azel di tahun pertama masuk pondok. Sebetulnya Pak Kyai sudah memberi izin bagi putri kami memanfaatkan colokan listrik yg manapun untuk alat-alat pendengarannya, termasuk yang berada dalam kamar asrama. Namun kami khawatir ada anak yang iseng menjahili Azel dengan alat-alatnya. Dengan alasan keamanan itulah Azel menjalani semuanya hari demi hari, bulan demi bulan. Hingga akhirnya kemudian Azel memindahkan tempat penitipan alat-alat elektrik itu ke tempat yang lebih dekat, yaitu di teras kamar Ustadzah. Itulah salah satu bagian kecil dari perjuangan panjang yang dijalaninya. Menjadi kenangan manis tersendiri yang menyisakan kesan mendalam tentang bagaimana ia mampu bertahan di Pondok dengan segala keterbatasannya. Ternyata putri kami bukan hanya belajar ilmu Agama saja di Pondok. Ia juga mendapatkan beragam ilmu kehidupan disana.

Terima kasih Pondok Modern Darussalam Gontor Putri satu, telah berkenan menerima putri kami menjadi salah satu santrinya, meski ia dengan segala keterbatasannya. Terima kasih yang tak terhingga atas didikan, bimbingan, arahan serta bekal kehidupan yang telah diberikan kepada putri kami. Kami yakin, ilmu yang didapatkannya disana akan sangat berguna bagi kehidupannya kemudian.
Kami, yang ketika Azelia baru berusia 6 tahunan, pernah merasakan betapa putus asa dan kecewanya ketika mendapat penolakan dari sebuah sekolah dasar Islam, pada akhirnya merasakan pelukan hangat penerimaan dari sebuah Pondok Modern sebesar Gontor. Bagi kami, itulah berkah yang Allah hadirkan bagi putri kami Azelia. Pelipur lara setelah ia mengalami begitu banyak ujian dan cobaan dalam perjalanan hidupnya. Buah dari kesabaran dan keikhlasan putri kami menjalani semuanya selama ini. Semoga apa yang didapatnya selama 4 tahun belajar di Pondok, bisa bermanfaat baik bagi Azelia putri kami, maupun bagi lingkungan di sekelilingnya. Itulah do’a dan harapan kami sebagai orang tua.
Tinggalkan komentar