Bukanlah perkara mudah bagi seorang anak berkebutuhan khusus, untuk membuat dirinya layak diterima masyarakat luas. Ia harus melawan begitu banyak stigma masyarakat tentang keberadaan dirinya. Keterbatasan-keterbatasan yang menjadi kelemahannya, seolah menjadi pembenar munculnya perlakuan diskriminatif masyarakat terhadapnya.

Begitu pula apa yang pernah dialami putri pertamaku yang terlahir tunarungu. Di awal membaurnya ia dalam lingkup pergaulan sosial, rasanya begitu sulit bagiku membukakan celah pergaulan untuknya. Kondisinya yang berbeda diantara anak-anak lain, seolah menjadi sekat tak kasat mata yang membuatnya terisolasi dari pergaulan sosial. Aku memutar otak, berusaha keras mencarikan kesempatan yang sekiranya pas untuknya agar dapat diterima di lingkungan masyarakat luas pada umumnya. Bagiku, ia memang terlahir berbeda, namun bukan berarti harus kehilangan hak-hak dan kewajibannya sebagai insan manusia yang terlahir di dunia.
Telinga yang menggunakan sepasang alat pendengaran, ketika ia belum menggunakan hijab penutup kepala, menjadi pemandangan yang cukup menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Termasuk anak-anak seusia putriku di lingkungan rumah kami saat itu. Saat itu usianya masih kurang dari 3 tahun.
“Tante, itu di telinga Azel ada apanya ya tan? Kok kami tidak memakai itu tapi Azel pakai. Kenapa?” Pertanyaan polos yang seringkali kudengar di masa itu. Bagiku. Sesungguhnya itu sebuah pertanyaan yang sangat polos dan sederhana yang terlontar dari bibir mungil anak usia 5-10 tahunan. Namun rupanya tak sesederhana itu untuk mampu menjawabnya.
Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya. Mencoba menguatkan hati dan pikiranku untuk mampu menjelaskannya dalam satu kalimat yang sederhana, singkat, padat, namun jelas. Anakku tidak sama dengan anak lain pada umumnya. Dia terlahir tunarungu, dan kami harus mampu menerima kondisinya. Dia memang terlahir berbeda, namun aku tak boleh membatasi pergaulannya. Ia tetap harus bergaul dan bersosialisasi dengan anak-anak lain pada umumnya. Aku harus mampu memahamkan pada lingkunganku mengenai kondisi putriku yang sebenarnya. Termasuk menjelaskan pada teman-teman sepermainannya ini. Rangkaian monolog itu tiba-tiba terlintas dibenakku saat itu.
Setelah kurasa kata-kata itu terangkai apik di benakku, barulah kujawab pertanyaan polos dan sederhana dari seorang anak yang bermain bersama putriku saat itu. Beberapa pasang mata anak lain menatapku, tampak tak sabar untuk turut mendengarkan penjelasan itu. “Pendengaran Azel ini tidak sama dengan kalian. Kalian tau speaker tidak?”
“Ya tante, kami tau. Itu kan yang biasa dipakai untuk mengeraskan suara saat Adzan, atau waktu kita dengar musik di rumah, biar terdengar lebih jelas.”
“Nah, iya. Betul. Speaker adalah alat untuk membantu mengeraskan suara agar bisa terdengar jelas oleh kita. Jadi gini… Kalian pendengarannya sudah Allah kasi yang bagus. Sudah bisa mendengar baik meski tidak pakai alat bantu apapun di telinga kalian. Tapi Azel pendengarannya tidak sebagus itu. Kalau menurut pendengaran kalian suara ini jelas terdengar, Azel merasa suara itu belum terdengar, atau mungkin terdengar tapi tidak sejelas yang kalian dengar.”
“Pendengaran Azel dibantu alat ini supaya bisa mendengar sama seperti kalian. Alat yang menempel di telinga Azel ini seperti speaker mini bagi Azel. Ukurannya jauh lebih kecil. Fungsinya sama seperti speaker, yaitu untuk mengeraskan suara. Supaya Azel bisa mendengar suara kalian lebih jelas lagi.”
Begitulah aku menjelaskan pertanyaan yang diajukan anak-anak berusia di bawah 10 tahun yang berada di sekitar rumah tinggal kami saat itu. Dengan penjelasan itu, mereka tak menganggap Azel aneh dan berbeda. Mereka mampu memahaminya dengan baik. Bahkan mereka banyak membantuku melatih Azel belajar mendengar dan bicara.
Kuminta meminta mereka datang bermain ke rumah kami setiap hari. Biarlah rumahku berantakan, tapi banyak yang mengajak Azel bermain sambil belajar dan bersenang-senang. Setiap hari selalu ada saja makanan kecil yang kusiapkan untuk tamu-tamu kecilku itu. Aku juga mempersiapkan beragam mainan dan alat untuk menggambar, mewarnai, atau bermain origami. Semua kusiapkan sebagai balasan karena mereka sudah memperlakukan Azel dengan baik dan bahkan bersedia menemaninya sepulang sekolah dan sore hari selepas tidur siang.
Proses mengintervensi Azel memang tidak mudah. Karena suatu penanganan khusus membutuhkan kekuatan hati untuk mampu menerimanya. Kami sebagai orang tuanya, mengawali rangkaian perjalanan panjang itu dengan menguatkan hati dan pikiran kami berdua.

Pada saat awal, kami berupaya keras menanamkan pemahaman dalam hati, bahwa putri kami sesungguhnya tak pernah berharap dirinya terlahir tunarungu. Meski sulit, aku juga berusaha keras menguatkan keyakinan bahwa kelak keterbatasan dalam diri putri kami ini justru akan memberikan banyak keberkahan bagi kami sekeluarga. Aku yakin bahwa Allah itu Maha Adil, tentulah akan memberikan kelebihan dibalik semua keterbatasan yang dimilikinya.
Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, tentunya memiliki kuasa pula akan untuk memutar balik kenyataan yang awalnya terasa buruk bagi kami menjadi jauh lebih baik. Kekuatan itu salah satunya berawal dari syak wasangka kita terhadap ketetapanNya. Terus berusaha keras untuk mampu mensyukuri semuanya, menumbuhkan pemikiran-pemikiran positif mengenai kondisinya, serta mendoakan hal yang baik-baik untuk semuanya. Itulah yang kami lakukan.

Jika bukan kita orang tuanya, siapa lagi yang akan mampu menerima keberadaan putra putri kita ini.
Jika bukan kita sebagai orang tua yang menguatkannya, siapa lagi yang akan membuatnya kuat menghadapi kehidupan.
Jika bukan kita yang membekali kehidupannya dengan pendidikan dasar, siapa lagi yang akan mendidiknya.
Berdamai dengan takdir, berusaha keras menerima kondisinya, dan berusaha keras membantunya melayakkan diri adalah keharusan yang harus kita jalani.
Aku tahu pasti, masyarakat umum yang belum mengenal dan memahami seluk beluk ketunarunguan dan teknologi pendengaran, sontak akan berpikir bahwa putriku seorang tunarungu yang tak mampu mendengar dan berbicara. Seringkali tantrum di tempat umum, terkadang suka menyakiti orang disekitarnya, bahkan dirinya sendiri. Sikapnya-pun seringkali sulit dikendalikan. Mungkin itulah yang ada di benak masyarakat kebanyakan mengenai putera puteri kami yang istimewa ini. Apalagi jika mereka melihat di baju seragam sekolah yang dipakainya terpampang nyata lokasi sekolah tempatnya menuntut ilmu, SLB B (Sekolah Luar Biasa khusus tunarungu), yang menurut orang kebanyakan itu adalah sekolah anak-anak dengan kecacatan pendengaran.
Tak heran setiap kali sepulang sekolah SLB, ketika aku menaiki sebuah mobil angkutan umum, sontak orang-orang di dalam angkutan menggeser tempat duduknya. Tak ada seorangpun yang ingin duduk berdekatan dengan kami. Tatapan nanar yang terkadang nampak meremehkan, mencemooh atau bahkan menunjukkan kecemasan dan ketakutan, adalah suatu hal yang biasa kami jumpai saat membersamai mereka di kendaraan umum, maupun tempat-tempat umum.
Stigma masyarakat mengenai seorang anak berkebutuhan khusus yang menurut mereka sulit dikendalikan emosinya, sering tantrum, suka menyakiti dan sebagainya, seolah menjadi rahasia umum di tengah masyarakat kita. Menjadi isu hangat, yang seringkali membuat banyak orang ketakutan sebelum mereka mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Padahal tak semua anak berkebutuhan khusus seperti itu. Banyak juga diantara mereka yang memiliki empati, simpati dan bahkan keperdulian sosial yang tinggi. Tak jarang diantara mereka justru memiliki kualitas simpati dan empati yang jauh lebih tinggi dibandingkan kita yang terlahir sempurna panca indera. Semuanya, tergantung pada bagaimana orang tua dari anak berkebutuhan khusus itu menyikapi kekhususan putera puteri mereka. Tergantung pada bagaimana mereka menerapkan pola asuh.
Hal yang paling pertama yang perlu kita lakukan adalah, berdamai dengan takdir. Belajar untuk bisa menerima keberadaan mereka seikhlas mungkin, merupakan langkah pembuka yang akan turut menentukan keberhasilan proses intervensi selanjutnya. Terima mereka apa adanya. Itulah langkah awal yang kami lakukan.
Langkah berikutnya adalah menjawab dan menjelaskan kondisi putra putri kita apa adanya ketika ada yang bertanya. Kuatkan hati kita untuk menjelaskan. Kekuatan kita untuk menjelaskan, menggambarkan keikhlasan kita menerima kondisi mereka. Dengan demikian, orang-orang di sekeliling lingkup pergaulan kita justru akan lebih menghargai keberadaan anak istimewa yang Allah anugerahkan pada kita.
Jangan bersikap terlalu protektif apalagi terlalu sensitif setiap kali ada orang yang memperlakukan mereka diskriminatif. Kalau bahasa sekarang mungkin jangan mudah baper. Semakin kita baper, semakin lingkungan pergaulan kita tak mau mendekati anak -anak kita untuk mengajak bergaul dan membaur. Lindungi mereka seperlunya. Anak-anak istimewa juga harus kita didik untuk menjadi pribadi yang kuat, mampu melindungi diri mereka sendiri, dan mampu menghadapi setiap tantangan dengan keberanian. Bersikap terlalu protektif hanya akan melemahkan mereka dalam menentukan sikap untuk melindungi dirinya.
Menumbuhkan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus kita juga merupakan sesuatu yang penting. Agar mereka mampu menghargai keberadaan diri mereka sendiri apa adanya, di tengah lingkup pergaulan sosial. Dengan demikian, meski mereka sadar keistimewaan dan kebutuhan khususnya yang tidak sama dengan anak lain pada umumnya, mereka tidak mengecilkan diri mereka sendiri. Caranya antara lain dengan memperlakukan mereka layaknya memperlakukan anak lain pada umumnya. Namun ketika berkomunikasi verbal, usahakan kita berbicara dengan tempo yang lebih lambat atau tidak terlalu cepat. Kemudian ajari mereka dengan berbagai soft skill atau keterampilan. Anak-anak tunarungu biasanya memiliki kelebihan pada kemampuan visualnya, maka bisa dicoba mengajari mereka beragam keterampilan sederhana melalui visual. Seperti membereskan sesuatu, membersihkan sesuatu, mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasak, keterampilan origami, puzzle, dsb.

Tega tidak tega, nyatanya kita harus tega. Siapkan mereka untuk menghadapi dunia yang sebenarnya. Dunia ini keras, jadi kita harus mampu mempersiapkan anak berkebutuhan khusus kita menjadi pribadi yang memiliki kekuatan mental yang mumpuni. Mengajari mereka untuk sesekali bersikap cuek dan mengabaikan hal-hal yang dirasa tak penting. Lalu melatih mereka untuk mampu memilih skala prioritas ketika menentukan sikap. Juga melatih mereka untuk mampu bersikap fleksibel dalam menghadapi situasi tertentu.
Selain itu, kita juga harus berusaha sebisa mungkin untuk membuka mata dan hati mereka pada kenyataan bahwa kita takkan pernah mampu membuat semua orang menyukai diri ini, dan kita tak bisa memaksa semua orang selalu satu pendapat dengan kita. Merupakan hal lain yang juga dirasa penting untuk kita ajarkan pada mereka.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, biasanya cenderung keras kepala. Mendidik mereka dengan ketegasan sikap, merupakan suatu keharusan. Kebiasaan tersebut akan membuat mereka mampu mengadaptasikan diri untuk mengikuti aturan dimanapun, dan pada saat apapun. Dan yang pasti, ketegasan kita dalam mendidik mereka akan menghindarkan mereka dari kebiasaan tantrum dan semacamnya.
Menanamkan prinsip-prinsip dalam bergaul dan bersosialisasi adalah hal lain yang harus kita lakukan sejak awal penanganan khusus mereka. Agar mereka mampu menyaring mana yang baik dan perlu diikuti, dan mana yang buruk yang harus dihindari. Dengam demikian, mereka akan mampu menjaga diri mereka di tengah pergaulan.
Jangan lupa untuk menyisipkan pembiasaan-pembiasaan terkait sopan santun, etika, adab dan tatakrama. Hal ini sangat penting dikuasai seorang ansk berkebutuhan khusus. Dengan menguasai kebiasaan ini, anak kita takkan terlalu dipsndang sebelah mata. Karena ada satu kelebihan yang mampu mereka perlihatkan di hadapan banyak orang. Dengan memegang teguh adab dan etika, mereka takkan terlalu diremehkan keberadaannya dalam lingkup pergaulan sosial.

Yang terakhir, kami usahakan membekali putri kami Azelia dengan kemampuan beladiri, meski sekedarnya saja. Karena dengan fisik yang terlatih, mereka akan sigap ketika dihadapkan pada marabahaya. Setidaknya, mereka mampu berlari kencang ketika berhadapan dengan sesuatu hal yang mengancam jiwa mereka.
Tinggalkan komentar