Menjadi orang tua dari seorang anak berkebutuhan khusus bukanlah sebuah cita-cita. Setiap orang tua tentu berharap dikaruniai anak-anak yang terlahir dengan fisik yang sehat dan panca indera yang lengkap sempurna layaknya anak-anak pada umumnya.
Menjadi orang tua dari seorang anak berkebutuhan khusus adalah takdir yang harus dijalani, dan harus siap kita terima meski kenyataannya kita merasa tidak siap. Itulah yang kami rasakan pada sekitar bulan Juni 2007 lalu, 17 tahun yang lalu.

Menjalani hari ketika menerima kenyataan bahwa putra/ putri kita ternyata berkebutuhan khusus, sungguh bukan suatu hal yang mudah. Berbagai ujian kesabaran dan emosi sepertinya nyaris setiap hari kita rasakan. Mau tak mau, suka ataupun tak suka. Mulai dari belajar untuk bisa menerima takdirnya, proses mendampingi, mendidik dan mengajarkannya, menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang kebutuhan khususnya, memilih sekolah yang mau menerimanya, proses bersosialisasinya, melatih kemampuan komunikasinya, hingga memastikan ketenangan dan kenyamanannya dalam proses belajar di sekolah.
Seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa proses penerimaan lingkungan terhadap putra putri yang terlahir dengan kebutuhan khusus, bermula dari bagaimana kita sebagai orang tua mampu menerima kondisi mereka. Lingkungan akan terasa selalu menolak, ketika kita sebagai orang tua belum mampu menerima dengan ikhlas kondisi mereka yang istimewa. Orang tua merupakan garda terdepan yang memegang peran penting dalam proses tumbuh kembang anak-anaknya. Terlepas dari apapun kondisi mereka.
Semakin kita ikhlas dan menerima sepenuhnya amanah yang Allah hadirkan untuk kita, semakin terbuka jalan bagi kita untuk mampu mengantarkan mereka pada kemandirian hidup dan kemampuan bertahan. Selalu ada cara, selalu ada kemudahan yang Allah hadirkan dibalik kesulitan. Itulah diantaranya kata-kata yang selalu mampu menguatkan kami setiap kali kami merasa nyaris putus asa dan kehabisan cara.
Ya, impian kami para orang tua anak berkebutuhan khusus ternyata sesederhana itu. Kami hanya ingin putra putri kami mampu berkomunikasi. Dengan demikian kami harapkan mereka secara perlahan akan mampu membaur dan bersosialisasi secara aktif di tengah masyarakat. Kami hanya ingin melihat mereka mampu mandiri dan berdikari untuk menjamin masa depan mereka sendiri, dan kami ingin mereka mampu melindungi diri dan bertahan ditengah kerasnya kehidupan.
Namun ternyata, impian sederhana itu bagi kami laksana mimpi yang harus kami upayakan sekuat tenaga. Biaya ekstra untuk kebutuhan khusus mereka yang tidak murah, juga pandangan masyarakat awam tentang kondisi putra putri kami yang berbeda dari anak-anak lain pada umumnya, menjadi tantangan khusus tersendiri yang luar biasa menguras emosi dan kesabaran.
Ayahnya, bekerja keras untuk penghasilan ekstra agar mampu memenuhi kebutuhan khusus putra putri kami. Disamping itu, kami harus menutup mata dan telinga rapat-rapat akan pandangan dan pembicaraan orang lain terhadap putra putri kami yang istimewa. Semua itu seolah menjadi hidangan wajib yang harus kami nikmati di setiap harinya. Kami harus tetap menjaga mata hati dan kepala agar tetap dingin menghadapi situasi yang sungguh tidak ideal bagi kebanyakan orang itu. Harus mampu menjaga kewarasan ditengah gunjingan dan tatapan mata yang tak nyaman. Sungguh, semua itu sangat tidak mudah. Namun kami tetap harus mampu melakukannya.
Ketika tatapan aneh yang cenderung merendahkan acapkali kami terima di tempat-tempat umum, rasanya sangat aneh bagi kami. Apalagi ketika di seragam putra putri kami bet lokasi sekolah bertuliskan SLB, orang-orang di angkutan umum tiba-tiba serempak menggeser tempat duduknya menjauhi kami. Hati serasa teriris menyaksikan semua itu. Belum lagi bisikan-bisikan para ibu ketika kami memberanikan diri menyekolahkan mereka ke sekolah umum. Yang terparah, kami acapkali menerima penolakan-penolakan ketika hendak mendaftarkan putri kami ke sekolah umum tertentu. Rasanya ingin menangis, sambil berteriak kepada mereka….”Ini bukan takdir yang kami inginkan!!! Allah yang mentakdirkannya semua ini bagi kami. Bisakah kalian sedikit saja berempati terhadap kami??? Setidaknya, pandanglah putra putri kami layaknya kalian memandang anak-anak lain pada umumnya!”
Ya, kami berharap, masyarakat luas memandang kami biasa saja. Tanpa melayangkan pandangan aneh yang mencemooh. Apalagi sampai menggunjingkan kondisi putra putri kami yang istimewa.
Tak jarang diantara kami yang putra putrinya diterima sekolah umum, dibebani dengan biaya ekstra yang lain dari anak lain pada umumnya. Alasannya karena mereka membutuhkan perhatian khusus, maka biayanya pun tentu khusus. Okelah kalau memang putri kami itu membutuhkan pendampingan seorang shadow teacher, mungkin itu masih bisa kami pahami betul. Tapi, tidak semua anak berkebutuhan khusus membutuhkan shadow teacher.
Tidak semua anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian ekstra yang benar-benar khusus. Karena banyak pula diantara mereka yang ketika memasuki sekolah umum, sudah siap menghadapi berbagai tantangannya. Karena tidak sedikit pula diantara kami orang tuanya, yang sudah mempersiapkan mereka secara khusus saat belajar di rumah. Tak jarang, kami para orang tua yang menyadari berbagai konsekuensi ketika berniat memasukkan putra putri kami yang berkebutuhan khusus ke sekolah umum. Kemudian kami berupaya keras mempersiapkannya sejak 2-3 tahun sebelumnya.
Persiapan-persiapan itu meliputi segala aspek yang sekiranya diperlukan. Dari mulai toilet training, penguasaan bahasa dan pemahamannya, pengendalian tantrum, kemampuan bersosialisasi dan beradaptasi, kemampuan calistung, termasuk juga pendidikan tentang etika dan tatakrama.
Bisakah anda semua bayangkan, betapa kerasnya ikhtiar yang kami lakukan untuk mempersiapkan putra putri kami yang berkebutuhan khusus ini memasuki sekolah umum? Kami harus berkejaran dengan waktu. Agar mampu menyelaraskan semua itu dengan usia biologis mereka yang sesungguhnya. Sungguh semua itu bukan perkara mudah. Tidak bisa hanya dengan sim salabim lalu semua tercapai dalam sekejap. Semua berproses, dan proses membutuhkan waktu yang tidak sedikit
Tak terhitung lagi air mata yang tertumpah saat menjalani semua proses persiapan itu. Keputusasaan kami, seolah menjadi bayang-bayang yang selalu mengiringi setiap langkahnya. Bisakah anda semua bayangkan, bagaimana perasaan kami ketika sekolah umum yang kami tuju langsung menolak begitu saja ketika kami hendak mendaftarkan mereka? Tanpa ada sessi wawancara ataupun evaluasi sebelumnya. Sungguh kami merasakan rasa sakit yang luar biasa didalam hati ini. Kami merasa terdzholimi, namun tak kuasa melawan. Hanya mampu berserah diri sambil terus melangitkan doa-doa.

Ketika perkembangan putra putri kami lambat, orang di luar sana berkomentar, bahwa kami tak kunjung mampu menerima takdir, lalu mengabaikan kondisi putra putri kami begitu saja. Tanpa penanganan berarti.
Ketika putra putri kami mengalami perkembangan pesat dan mampu menyaingi kecerdasan putra putri mereka di sekolah umum, mereka bergunjing bahwa putra putri kami pandai mencari perhatian orang. Menggunakan kekhususan mereka sebagai senjata untuk mencuri perhatian orang.
Begitulah dunia yang keras ini memperlakukan kami dan putra putri kami yang berkebutuhan khusus. Semua serasa serba salah, andai kami mendengarkan semua komentar itu. Itulah sebabnya, menguatkan mental putra putri kami dalam menghadapi kerasnya dunia, merupakan agenda wajib yang tak boleh kami lewatkan. Apapun pendapat orang, yang penting mereka tahu apa yang mereka inginkan, apa yang mereka harapkan, dan apa yang mereka cita-citakan. Meneguhkan niat mereka melakukan semuanya itu, sebagai satu bentuk rasa syukur terhadap apa-apa yang telah Allah anugerahkan, lalu memanfaatkan semuanya, semata untuk beribadah kepadaNya, tanpa mengharapkan pandangan manusia terhadap mereka.
Jika masyarakat mengapresiasi semua yang mereka lakukan dengan penilaian positif, ya Alhamdulillah. Jika pandangan masyarakat selalu negatif, ya terserah. Setiap orang berhak menilai. Yang penting apapun yang mereka lakukan tidak boleh menyalahi norma agama, norma etika, norma budaya dan norma sosial kemasyarakatan.
Tak heran, begitu banyak orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus seringkali terkesan menutup nutupi kondisi putra putri mereka. Bukan karena tak mau terbuka, tetapi karena mereka belum siap menghadapi dunia yang keras ini. Kesiapan mental kami ketika membuka kondisi putra putri kami yang berkebutuhan khusus pada masyarakat luas, memang sangat diuji. Disinilah peran berbagai komunitas sharing antar sesama orang tua anak disabilitas sangat diperlukan. Agar kami tidak merasa sendiri menghadapi dunia. Agar kami mampu saling merangkul dan saling menguatkan, juga saling berbagi informasi mengenai berbagai proses pendampingan tumbuh kembang mereka yang memang membutuhkan perlakuan khusus.
Tinggalkan komentar