Saat-Saat yang Tak Terlupakan.

Moment ketika bersiap pulang kembali Jakarta, selepas menunaikan Ibadah Umroh 2019. Ketika hati siap sepenuhnya untuk melepas Azel belajar di Pondok Pesantren.

Suatu hari di sebuah warung mie ayam sederhana, aku bercakap dengan kedua kawanku yang saat itu ku anggap kawan dekat…
“Azel lulus SMP nanti mau melanjutkan ke SMA mana?”

“Bilang ke aku sih minta supaya diikutkan mencoba testing masuk Gontor.”

“Hah??? Nggak salah tuh? Truuus dirimu mengizinkan?”

“Ya anaknya sendiri yang meminta, mana sanggup aku tolak. Apalagi selama ini kan itu tujuanku mengajari Azel mendengar dan wicara. Biar pas Azel seusia ini dia bisa lebih bebas menentukan mau belajar dimana.”

“Dirimu yakin, mau ngizinin dia masuk Gontor? Nggak gampang lho itu. Apalagi… Mohon maaf sebelumnya. Azel itu lain dari yang lain. Dia berkebutuhan khusus. Anakmu itu tunarungu, pakai sepasang alat pendengaran. Apa gak repot nanti? Nanti dia dibully lagi, nanti kamu nangis lagi…”

Dan sebagainya. Mereka berbicara seperti itu sambil diselingi tawa yang bagiku itu terasa bagaikan cemoohan. Berbeda halnya jika mereka bertanya dengan mimik wajah serius dan penuh perhatian.

Sontak pertanyaan yg diselingi tawa renyah itu, membuat hati bergetar menahan geram dan amarah yang luar biasa. Namun aku berusaha keras menahannya dan terus berdzikir dalam hati, agar pikiran ini tetap tenang dan mampu mengendalikan emosi sebaik mungkin. Aku hanya ingin menjaga agar pikiranku tetap jernih dan mampu berpikir tenang. Karena aku sadar, emosi sesaat takkan menyelesaikan masalah, namun justru akan menambah masalah.

Barang bawaan Azel ketika bersiap mengikuti testing masuk Gontor Putri tahun 2020 lalu. Dia meminta dibawakan pakaian dan perlengkapan sekaligus untuk setahun ke depan. Karena yakin tidak akan pulang setelah testing. Ini artinya ia mempunyai keyakinan akan diterima langsung masuk Pondok.

Obrolan semacam ini sudah seringkali aku hadapi. Sebuah obrolan berkesan yg sukses menusuk hati. Sakit, tapi tak berdarah.

Pertanyaan serupa seringkali mampir di telinga ini sejak dia bersekolah di TK-LB Persiapan 1. Bahkan sejak TLO (semacam Play Group di masa SLB). Jika diingat-ingat, sudah tak terhitung entah berapa banyak orang yang meragukan putri pertamaku yang terlahir tunarungu ini. Terkadang aku berpikir, apakah mereka yang melontarkan pertanyaan ataupun komentar semacam itu lupa, bahwa Allah itu Maha Kuasa? Apakah mereka lupa bahwa dunia dan seisinya, termasuk semua makhluk yang berada didalamnya ada dalam kendali Allah SWT. ? Yang ketika Allah berkata Jadi, maka jadilah ia. Tak ada yang tak mungkin bagi kuasa-Nya.

Mungkin bagi orang-orang yang tak dikaruniai anak berkebutuhan khusus, obrolan semacam itu tak lebih obrolan ringan yang sifatnya biasa saja. Tapi bagi kami yg merasakan betapa sulit dan rumitnya proses intervensi, dari mulai hal termudah dan sederhana, hingga hal tersulit, itu sungguh menguras emosi dan kesabaran. 

Mereka tidak tahu, bahwa untuk sekedar membiasakan pemakaian alat pendengaran pada seorang anak tunarungu saja butuh banyak trik dan juga butuh waktu yang tidak sedikit. Ada yang hanya dalam beberapa hari saja, ada yang beberapa minggu, bulan, bahkan ada juga yang mengusahakannya bertahun-tahun.

Melatih mendengar dan wicara juga tak bisa dikatakan mudah. Untuk sekedar melatih mendengar bunyi ling six sounds ( 6 bunyi huruf yang mewakili masing-masing frekwensi, a, i, u, m, s dan ssshhh) saja butuh waktu berbulan bulan, bahkan ada juga yang butuh waktu lebih dari setahun. Begitu pula halnya dengan melatih wicara. Membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dari mulai belajar mengucap huruf vokal, per-suku kata, per-kata, belajar merangkai kalimat dari mulai kalimat pendek hingga kalimat panjang yang kompleks, termasuk didalamnya juga melatih pemahaman kata dan kalimatnya. Semua berproses dalam rangkaian upaya yang berkesinambungan dan tak mudah.

Ketika kami berani mengatakan bahwa kami harap putri atau putra kami dapat bersekolah di sekolah umum ini, di pondok ini, di sekolah umum itu, atau di pondok itu, itu artinya kami siap mempertaruhkan setiap upaya yang sudah kami jalani dalam rangkaian proses yang sudah kami jalani sebelumnya. 

Memberanikan diri untuk mengambil keputusan menyekolahkan anak di sekolah umum itu tidak mudah. Apalagi mengizinkan seorang anak tunarungu mengikuti sebuah Pondok Pesantren sebesar Gontor, yang dikenal dengan disiplin berbahasa asingnya (Arab dan Inggris), itu lebih tidak mudah lagi sebetulnya.

Tak heran, ketika pertanyaan semacam ini terdengar oleh kami, dengan tanggapan mereka yang seperti itu, hati kami merasa sakit. Kami merasakan emosi ini seketika terpancing, dan semua pertanyaan itu akan selalu terekam jelas dalam ingatan, langsung menusuk hati yang terdalam.

Mengumpulkan keberanian itu tak mudah, kawan. Maka dari itu, tolonglah…jangan sampaikan pertanyaan semacam itu pada kami. Cukup doakan dan bantu kami dengan support terbaik.

Moment mengharukan di masa Pandemi, saat melepas Azel berangkat mengikuti testing masuk Gontor Putri. “Aku tidak ingin melihat Ayah dan Mamah menangis. Cukup doakan aku, semoga lulus testing. Aku ingin belajar dan menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Mamah dan Ayah harus bahagia melepasku.”  

Rasa sakit dari pertanyaan semacam itu, bukan tersimpan sebagai amarah berbalut dendam. Tetapi lebih sebagai bahan untuk kembali mengevaluasi setiap perkembangannya.


“Apakah kamu yakin sudah mempersiapkan diri untuk melepas anakmu menghadapi dunianya sendirian? Apakah waktunya sudah tepat?”
“Apa saja yang sudah kamu siapkan? Sejauh mana kamu mempersiapkannya?”, dan sebagainya.

Melepas anak mondok itu memang pertaruhan yang luar biasa. Kita harus bersiap lahir dan batin untuk itu. Tega tak tega, kita dituntut harus tega. Bukan hanya bagiku yang hendak melepas seorang anak berkebutuhan khusus, tetapi hal ini juga berlaku untuk anak lain pada umumnya. Aku yakin, orang tuanya merasakan hal yang sama. Terlepas dari apapun kondisi anak kita.

Kita berpikir akan hal itu, karena  mengetahui betul bahwa, ketika anak kita mondok di suatu daerah,  kita takkan pernah tau apa yang akan mereka hadapi disana dalam kesehariannya. Mereka jauh dari pantauan kita, dan tak bisa kita dekap sesering yang biasa dilakukan saat mereka bersekolah di dekat rumah tinggal. Hanya sebatas doa tiada henti yang dapat kita panjatkan untuknya. Mendoakan agar ia senantiasa dikuatkan menghadapi hal apapun.

Jiwa kreatif, kecepatan berpikir, semangat pantang menyerah, dan yang terutama kesiapan mental anak, menjadi beberapa hal yang perlu kita tinjau sebelum mengirim mereka belajar ke sebuah Pondok Pesantren. Bekal sekecil apapun terkait hal itu, akan menjadi penentu kuat atau tidaknya mereka menjalani hari-harinya di pondok. Keikhlasan kita, turut mempengaruhi kekuatan batin mereka dalam menghadapi segudang aktivitas dan kegiatan belajar yang dilakukan di pondok. Ikhlas yang bukan hanya di bibir, tetapi juga di hati, dan pikiran kita.

Kubekali Azel dengan sebuah buku harian saat berangkat ke Pondok untuk pertama kali. Berharap ia mencurahkan isi hatinya dalam sebentuk tulisan, jika menghadapi sesuatu yang dirasa sulit agar semangatnya kembali muncul. Tulisan ini sepertinya merupakan salah satu penguat hati Azel saat itu.  

Bagiku secara pribadi, nyatanya memang tak mudah untuk melepas Azel belajar di Pondok. Namun demikian, doa-doa yang kupanjatkan di depan Ka’bah saat Umroh 2019 lalu betul-betul membantuku untuk mengikhlaskannya.


“Ya Allah, jika benar putriku yang tunarungu ini Engkau kehendaki untuk mempelajari ajaran agama-Mu secara lebih mendalam, aku ikhlaskan ia untuk itu. Hanya saja, aku meminta Engkau berkenan menjaga dan melindunginya selalu, kemanapun kelak ia akan melangkahkan kaki. Angkatlah semua kesedihan dan rasa sakit hatinya selama ini akibat perundungan-perundungan yang pernah diterimanya. Gantikanlah dengan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, dan kenyamanan dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Dekatkan ia dengan orang-orang baik yang selalu mendukung keberadaannya. Semoga ikhtiar kami melepasnya belajar di Pondok, mampu menjadi pengobat hati sekaligus menjadi keberkahan tersendiri bagi pendengaran dan lisannya…..”

Keceriaan Azel diantara teman-teman konsulat Bekasi saat perpulangan kelas 3.

#selfnotes #catatankecil #memorablemoments #duniapesantren #duniapendidikan #cochlearindonesia #bimodalhearing #unilateralimplant #hearingaids

Doa Azel untuk berumroh dan berdoa di depan ka’bah sebelum kenaikan ke kelas 5 KMI terkabul. Ia mengharapkannya untuk semakin menguatkan diri menghadapi tantangan di tahun ajaran berikutnya. Karena menurutnya mengandalkan kemampuan akademik saja tidak cukup.

4 tahun yang serasa sekejap mata. Yudisium Azel Alhamdulillah sudah kami lalui. Azelia dinyatakan lulus bersama 2.219 santri Gontor Putri lainnya dari berbagai cabang di Indonesia. Sekarang tinggal menjalani masa Pengabdian.

Salah satu foto yang kami abadikan sesaat setelah pengumuman tempat pengabdian. Alhamdulillah Azel merupakan salah satu dari 2.219 santri Gontor Putri Integrated Generation yang dinyatakan lulus.

Berhasilnya Azel melalui masa Yudisium ini, bukanlah suatu perayaan atau pembuktian semata bagi kami. Karena kami rasa, keberhasilan Azel ini bukanlah sesuatu yang layak untuk dijadikan sebagai suatu perayaan ataupun pembuktian.

Kami mengharapkan hal yang lebih dari itu. Kami berharap Azel memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk menghadapi masa depannya kemudian. Ia perlu memiliki keberanian, kekuatan mental, dan semangat untuk menghadapi babak kehidupan berikutnya. Hidup ini sangat keras bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti dirinya. Dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan yang kelak akan dihadapinya. Sesederhana itulah harapan kami. Namun tak sesederhana itu mempersiapkannya.

Terima kasih yang sebesar besarnya kami haturkan pada Pondok Pesantren Gontor Putri 1, yang telah berkenan mendidik dan mengajarkan putri kami tentang begitu banyak hal yang bermakna dalam hidup ini. Memberikan begitu banyak kesempatan bagi Azel untuk berkiprah dalam berbagai kegiatan, dan mengasah segenap bakat serta potensi yang ada dalam dirinya. Semoga di masa-masa mendatang Pondok Pesantren Gontor semakin berkah, semakin maju dan berkembang lagi lebih dari sebelumnya. Aamiin….🤲🏻🤲🏻🤲🏻

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑