
Memasuki pondok pesantren, merupakan tantangan tersendiri bagi Azelia putriku yang berkebutuhan khusus. Ia dituntut mampu bertanggung jawab atas kebutuhan khususnya sendiri.
Setiap malam sebelum tidur, putriku harus memastikan alat pendengarannya tersimpan dengan baik di kotak pengering baik itu dalam dying box atau kotak portabel drying palette. Hal ini untuk menjaga agar tidak lembab dan tidak mudah rusak alat implant nya.
Bahkan dalam kondisi capek sekalipun, ia harus mampu meluangkan waktunya untuk sekedar menaruh semua perangkat pendengarannya di kotak pengering. Lalu mengecas ulang baterai, remote assistant dan mini mic-nya. Tugas tambahan khusus baginya yang memang berkebutuhan khusus.
Pada kenyataannya semua hal itu memang tidak mudah baginya. Sejak masuk pondok, putriku seringkali meminta kiriman paket berupa tablet pengering alat (drying pallete). Yang fungsinya sama dengan pengering elektrik, hanya saja pengering ini tak menggunakan listrik, itu saja perbedaannya.
Setiap kali bertelepon, Azel lebih banyak membahas soal kebutuhan alat pendengarannya. Karena waktu untuk bertelepon terbatas. Baginya, itulah hal terpenting yang betul-betul harus diprioritaskan. Bagaimanapun juga akses pendengaran, merupakan hal utama yang akan menentukan keberhasilannya dalam menyerap pelajaran.
Malam itu telpon HP berdering. Kuangkat telepon, dan terdengar suara panik Azel di seberang sana. Setengah terisak, ia mencoba bercerita.
“Mamah, maafkan aku. Alat implantku mati pagi tadi. Hari ini hari pertamaku ujian tengah semester. Bagaimana ini Mah? Baterainya sudah kuganti, kabel coilnya pun sudah kuganti dengan cadangan yang baru. Tapi tetap suara tak terdengar. Kubuka coil yang bulatnya itu, memang terlihat kotor. Mungkin karena keringat. Sudah kucoba membersihkannya dengan berbagai cara. Tetap kotor, dan tak ada suara masuk. Padahal kan sound processor itu baru diganti ya Mah saat aku berangkat beberapa waktu lalu. Mah…. Aku harus bagaimana?”
Aku ikut panik, tapi mencoba menyembunyikannya. Kebingungan dan kesedihannya, juga turut kurasakan. Namun kucoba menenangkannya sebaik mungkin.
“Kakak harus tetap tenang dan usahakan jangan panik ya. Biar tetap bisa mengikuti ujian dengan baik. Telinga kanan kakak iritasinya sudah sembuh kan? Sekarang sudah bisa dipakai lagi alat bantu dengarnya?”
“Sudah Mah. Alhamdulillah telinga kananku sudah sembuh dari iritasinya. Dan alat bantu dengar kanan sudah bisa dipakai lagi. Tapi sekarang malah sound processor kiriku yang mati. Gimana ini mah?”
“Ya sudah, begini saja. Nanti mamah dan ayah tanyakan dulu ke Mas Dani dari hearing center-nya ya, kira-kira kalau begitu kendalanya biasanya dimana. Tapi nanti Mamah juga pesankan lagi kabel koil dari Jakarta atau Surabaya, biar dikirim ke pondok sesegera mungkin. Nanti Azel coba lagi ganti kabel koilnya sekali lagi. Kalau masih belum menyala juga, mungkin nanti Azel harus kirim alat implant-nya itu ke rumah. Biar nanti Mamah bawa ke Kasoem Hearing Center, Cikini.”
“Truss, aku ujian ini bagaimana Mah? Telinga kiriku gak bisa dengar kalau alat implant-nya mati begini.”
“Ujiannya terpaksa hanya pakai ABD kanan dulu ya sementara waktu. Dibantu baca bibir. Kakak bisa kan? Makanya mamah bilang, kakak tak usah panik, agar fokus mendengar kakak bisa tetap dimanfaatkan. Meski itu hanya satu telinga dan hanya pakai ABD. Ya, kakak harus tenang. Tetap usahakan fokus ke pelajaran. Insyaallah nanti ayah dan mamah pasti bantu.”
“Kalau nilainya jelek nanti bagaimana Mah?”
“Gak usah pikirkan itu. Yang terpenting mamah dan ayah tau kalau kakak sudah berusaha maksimal untuk belajar, dan memaksimalkan pendengaran kanan. Ini di luar skenario kita kak. Mamah percaya kakak mampu menghadapinya. Tetap tenang, jaga fokus dan jernihkan pikiran ke pelajaran yang diujikan ya. Itu saja yang mamah minta.”
“Hasilnya nanti, berapapun nilainya, itu adalah yang terbaik buat ayah dan mamah. Kamu menunjukkannya dengan hanya pendengaran di telinga kanan saja. Itu sudah luar biasa buat ayah dan mamah kak. Usahakan tetap tenang dan fokus ya. “
“Baiklah mah kalau begitu semampu aku saja ya.”
“Iya kak, semampu kakak saja. Lagipula ini baru pertengahan semester. Nanti kakak bisa maksimalkan di ujian semester yang sebenarnya. Yang sabar yaa. Ini bagian dari perjuangan kakak di pondok.”
Aku tak tau apakah putriku mampu mendengarkan semua yang kusampaikan atau tidak. Mengingat ia hanya menggunakan satu telinga dengan teknologi alat bantu dengar di telinga kanan saja saat itu. Satu hal yang pasti hati kami terpaut begitu erat. Meski ia mendengar suaraku lamat-lamat, ia pasti mengerti apa yang kumaksudkan. Bahwa ia harus tetap tenang, jangan panik dan berusaha tetap fokus. Menunggu kiriman kabel koil terbaru lagi, dan mencobanya kembali. Berharap alat implant-nya itu kembali menyala.
Hal yang paling mendebarkan terjadi, ketika paket kabel koil 8 cm yang dikirim dari Surabaya, ternyata belum diterima Azel. Kabel itu memang sangat kecil ukurannya, tapi harganya tak sekecil itu. Kami harus merogoh kocek hingga Rp1,8 juta untuk dapat menyediakannya untuk Azel.
Kami berusaha untuk tetap positif thinking, bahwa paket tersebut terselip entah dimana. Karena ukuran paketnya layaknya surat biasa yang dikirim dengan menggunakan amplop coklat seukuran surat biasa. Pihak pondok membantu kami sedemikian rupa hingga akhirnya paket mungil itu Alhamdulillah ditemukan. Kabel koil sound processor-pun segera diganti oleh Azel.
Tak lama kemudian putri kami mengabarkan, bahwa alat implant-nya tak kunjung menyala. Meski kabel koil sudah diganti sebanyak 2x kali dengan yang baru. Itu berarti sudah 2x lipat biaya yang kami keluarkan untuk membeli kabel koil. Hingga ujian berakhir, alat implant-nya tak kunjung menyala. Otomatis Azel melalui ujian murojaah tanpa pendengaran telinga kiri.
Ia hanya mengandalkan telinga kanan dengan bantuan alat bantu dengar biasa. Dibantu lips reading (membaca bibir).
Tak dapat kubayangkan bagaimana perasaan Azel saat itu. Tapi nyatanya, jika hidup harus berdampingan dengan teknologi, maka kita harus selalu siap dengan beragam konsekwensinya. Termasuk ketika teknologi yang kita andalkan ternyata mengalami kerusakan sementara. Itulah salah satu hal paling tak mengenakkan, ketika pendengaran kita tergantung pada alat elektronik dan baterai.
Jika saja harga alat implant kurang dari 20 juta, mungkin kami dapat mengusahakannya. Seperti halnya saat Azel masih tergantung pada teknologi alat bantu dengar biasa. Kami memiliki hingga 2 pasang alat bantu dengar cadangan. Yang jika alat yang satu rusak atau harus di service, kami masih dapat melihatnya tetap mendengar dengan 2 alat cadangan lainnya.
Masalahnya adalah, harga alat implant itu seharga sebuah mobil baru atau second. Sekitar 100 juta. Dan itu belum termasuk baterai rechargeablenya. Baterai recargeablenya sendiri mencapai harga hampir menyentuh 5 juta rupiah.
Kami sudah memprediksi tentang kemungkinan semacam ini ketika memutuskan melepas Azel memasuki pondok pesantren. Tapi itu tak menggoyahkan kami untuk tetap melepasnya mewujudkan cita-citanya. Kami yakin Allahlah yang akan menjamin rezeki kami. Mencukupkan apa yang kami butuhkan. Apalagi cita-cita Azel ini adalah untuk menuntut ilmu agama. Rasanya tak pantas kami menghalanginya begitu saja. Lebih tak pantas lagi jika kami berhitung soal kebutuhan alat pendengarannya.
“Mamah, alat implant-nya tetap tidak menyala. Ujian mid semester juga sudah berakhir. Aku tidak tau lagi bagaimana nilaiku kali ini. Yang jelas aku sudah berusaha maksimal sesuai kemampuanku. Sedih sekali rasanya menghadapi ujian hanya dengan mengandalkan satu telinga yang dibantu lips reading. Maafkan aku jika ternyata nilaiku nanti banyak yang dibawah 4 ya mah…”
“Iya kak. Mamah dan Ayah mengerti. Tak usah pikirkan nilainya nanti ya. Ini baru mid semester. Masih ada kesempatan saat ujian semester nanti. Bagi mamah dan ayah, kakak sudah mau menghadapi ujian dengan usaha maksimal saja rasanya sudah lebih dari cukup. Terima kasih ya sayang sudah mau mengusahakan yang terbaik. Selebihnya, biarkah Allah yang mengatur. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kakak.”
“Truss ini bagaimana dengan alat implant-nya mah?”
“Kakak bisa mengirimnya melalui paket ke alamat rumah, biar mamah nanti bawa ke hearing centernya. Tapi, nanti deh mamah caritau dulu kira-kira apa yang menjadi kendala. Jika masih bisa mamah menanganinya, mamah nanti ke pondok sama ayah ya. Untuk melihat langsung kondisi alatnya, siapa tau hanya harus ganti suku cadang yang lain. Nanti mamah kabari lagi ya. Mamah cari tau dulu kemungkinannya.”
Aku belajar untuk tidak panik menghadapi hal semacam ini. Belajar sebisa mungkin mengendalikan diri tentang apapun hal yang terkait alat pendengaran Azel.
Kepanikan hanya akan membuat segalanya menjadi semakin rumit.
Saat itu kami pasrahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata. Kami yakin, akan ada pertolongan dari-Nya, meski kami tak tau pasti seperti apa bentuk pertolongan itu. Namun sepenuhnya kami meyakini, bahwa Allah akan senantiasa membantu kesulitan yang dihadapi para pencari ilmu. Dan Azel merupakan salah satunya.
Meski ia menyadari keterbatasan pada indera pendengarannya, ia tetap bertekad mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren yang terkenal dengan disiplin penggunaan bahasa arab dan inggrisnya. Bahkan ketika ia baru saja mampu beradaptasi dengan implant kokleanya.
Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk berangkat ke pondok. Hanya sekedar melihat kondisi implant koklea Azel secara langsung.
Kami berkoordinasi dengan Ustadzah BKSM (Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat), dan pihak Hearing Center. Hingga akhirnya BKSM memberikan izin khusus untuk kami kesana, sekedar melihat kondisi sound processor Azel. Pihak hearing center pun membantu kami. Memberikan pinjaman koil untuk dicobakan ke sound processor putri kami.
“Mungkin memang bukan kabel koilnya Bu yang rusak. Tetapi koilnya. Ibu bawa saja dulu koil dari kami. Nanti kalau betul masalahnya disana, ibu bisa pesan melalui kami.”
Pagi itu, sebelum berangkat ke Mantingan, kami menuju Cikini terlebih dahulu. Untuk mengambil koil yang akan dipinjamkan sementara pada kami.
Alhamdulillah, support dari pihak Hearing Center begitu besar terhadap Azel. Mereka tak langsung meminta kami membeli koilnya. Tapi meminta kami memastikan dulu bahwa kerusakannya ada pada koilnya. Harga koil memang tidak murah, meski barangnya hanya sebesar bulatan uang koin Rp. 100 rupiah zaman dulu. Harga koil kurang lebih Rp. 2,4 juta. Itulah sebabnya pihak Hearing Center meminta kami memastikan dulu bahwa kerusakannya ada disana. Jika betul yang menjadi masalah adalah koilnya, maka kami akan memesan koil baru sesegera mungkin, dan mengembalikan koil pinjaman begitu koil baru diterima.
Jika ternyata setelah mengganti koilnya alat implant tetap tidak menyala, itu berarti unit sound processor implant-nya harus kami bawa ke Jakarta untuk dilakukan pengecekan.
Sebetulnya, bisa saja semua alat itu dipaketkan, hanya saja bisa memakan waktu kurang lebih 2 minggu hingga 3 minggu untuk Azel bisa memakainya kembali. Waktu yang sangat lama. Mengingat kegiatan pondok dan pembelajaran menjelang ujian semester terus berjalan. Akan semakin banyak hal yang tak dapat didengarnya. Azel akan banyak tertinggal. Membayangkannya saja sudah menyedihkan, apalagi jika harus mengalaminya. Akhirnya, kami meminta izin pada BKSM agar diberikan akses untuk dapat melakukan pengecekan alat implant Azel. Izin itu kami dapatkan, dengan syarat kami tak bisa menemui Azel. Hanya bisa bertemu alat implantnya saja. Dan kami menyetujuinya.
Bagi kami, hal terpenting adalah alat implant segera bisa menyala, dan Azel bisa mendengar lagi. Meskipun itu berarti kami tak bertemu dengannya secara langsung. Kami yakin sepenuhnya, ia dalam kondisi baik-baik saja. Hanya saja tak bisa mendengar karena alat implantnya mati. Tugas kami hanyalah memastikan alat implant kembali menyala, dan Azel kembali bisa mendengar.
Jarak Bekasi-Mantingan kami tempuh. Hampir 600 km sekali jalan, hanya untuk mengecek kondisi alat implant, mengganti koil, dan melihat hasilnya. Menyala, ataukah tidak. Jika menyala, itu berarti alat implant tak perlu lagi dibawa ke Jakarta untuk di servis. Cukup kami memesan koil baru, lalu meminta Azel mengirim kembali koil pinjaman itu ke Bekasi. Jika setelah ganti koil tetap alat tak bisa menyala, itu berarti alat implant tersebut harus kami bawa ke Jakarta untuk diservis.
Setibanya di Mantingan, kami langsung menghubungi pihak BKSM keesokan harinya. Pagi hari itu, sekitar jam 7 – 8, kami bertemu di Pos satpam. Ustadzah BKSM membawakan alat implant Azel. Dan aku langsung mengganti koilnya dengan koil yg dibawa dari Jakarta. Lalu menitip pesan pada Ustadzah agar alat tersebut dipakai Azel. Apakah menyala, ataukah tidak. Saat itu di Pondok sedang ada kegiatan drama kontes. Jadi, kami harus bersabar menunggu kabar dari Azel. Karena ia baru dapat berkabar setelah kegiatan usai.
Tak sabar, aku menelpon Ustadzah, menanyakan apakah alat Azel sudah dicoba dipakaikan pada Azel. Menurut info dari Ustadzah saat itu, alatnya langsung dicoba dan menyala. Azel kembali mampu mendengar. Tetapi langsung bergabung bersama teman-temannya untuk menyaksikan drama kontes. Ia tak mau meninggalkan kegiatan untuk menelpon kami. Kami harus menunggu hingga acara usai agar dapat berkabar langsung dengan Azel. Barangkali ada hal lain yang harus kami lakukan terkait alat-alat pendengarannya.
Jam 2 siang itu HP ku berdering. Terdengar suara Azel di seberang sana. Langsung saja kutanyakan kabarnya, dan kabar tentang alat implantnya.
“Alhamdulillah sudah menyala lagi mah implantnya. Akhirnyaa aku bisa mendengar lagi. Suaranya jernih kok Mah. Enak dipakai mendengar. Tapi sayang, ujian murojaah sudah selesai dan aku hanya bisa pasrah dengan hasilnya nanti. Maafkan aku kalau nilainya banyak yang jelek ya Mah. Aku mengerjakannya semampuku saja. Karena telinga kiriku tak bisa mendengar selama ujian.”
“Alhamdulillah, syukurlah kak kalau alat implantnya bisa menyala lagi. Ada keluhan lain tidak soal alatnya? Selagi mamah dan ayah ada disini. Barangkali ada lagi yang harus kami cek alat pendengarannya?”
“Insyaallah cukup mah. Tak ada keluhan lain lagi. Hanya implant yang mati saja. Sekarang sudah menyala lagi alatnya. Maaf ya Mah Azel tidak bisa menemui ayah dan mamah. Ini sudah peraturan pondok. Azel juga paham kok kenapa ayah dan mamah juga tidak bisa menemui Azel. Terima kasih sudah mau datang kesini jauh-jauh hanya untuk memastikan alat implantku bisa menyala lagi. Mohon doanya dari ayah dan mamah. Semoga Azel bisa memperbaiki nilai murojaah kemarin saat ujian semester nanti.”
“Alhamdulillah, syukurlah kalau tak ada keluhan lain. Baik-baik di Pondok ya. Jaga diri dan jaga kesehatan. Belajarnya yang semangat ya kak, jangan mudah panik kalau alat pendengaran ada yang bermasalah. Kabari saja ayah dan mamah. Insyaallah nanti pasti dibantu.”
Sejak Azel memutuskan belajar di sebuah pondok pesantren, kami sudah memprediksi apa saja yang akan kami hadapi dalam perjalanannya. Karena ia harus merawat dan menjaga alat-alat pendengarannya sendiri, ketersediaan suku cadang alat adalah satu kebutuhan pasti. Yang harus siap kapanpun ia membutuhkannya. Bagi kami, cukuplah kiranya kebutuhan itu dapat kami penuhi, tanpa harus menghitung-hitung berapa juta rupiah yang harus kami keluarkan. Karena Allah akan selalu mencukupkan apa yang kami butuhkan. Apalagi kebutuhan ini terkait erat dengan kegiatan menuntut ilmu, yang tentunya akan bertabur keberkahan dalam perjalanannya. Semoga Azel tetap semangat dalam menuntut ilmu disana, apapun kendala yang dihadapinya. Semoga selalu dikuatkan.
Apa yang dihadapinya saat ini, merupakan latihan bagi apa yang akan dihadapinya kemudian. Tugas kami adalah terus menguatkannya, bukan justru melemahkannya. Jika ingin melihatnya mampu mewujudkan mimpinya, maka kami harus berani melepasnya.
Tinggalkan komentar