Keterampilan Berbicara di Depan Umum Bagi Anak Tunarungu.

Dokumentasi foto saat Azelia mengikuti lomba pidato sekitar tahun 2016 lalu. Ketika masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar.

Azelia dan pidato, seolah menjadi dua hal yang begitu lekat dalam ingatan kami. Cerita yang seolah tak terasa asing bagi kawan-kawan kami yang tergabung dalam beberapa komunitas orang tua anak-anak tunarungu. Menjadi satu cerita unik tersendiri karena beberapa kali dalam beberapa kesempatan ia melakukannya.

Unik, karena kemampuan berpidato menuntut kemampuan berbicara dan berbahasa. Sementara mayoritas masyarakat di negara ini masih beranggapan bahwa tunarungu identik dengan kebisuan dan atau penggunaan Bahasa Isyaratnya.

Bagaimana Azelia mulai berbicara di depan umum?

Ia mulai belajar berbicara di depan banyak orang, ketika usia 5 tahun 8 bulan. Saat itu, ia membacakan secarik kertas yang berisikan ucapan terima kasih dan kata-kata perpisahan untuk Bapak/ Ibu Guru serta teman-teman sekelas dari SDIT Al – Hijrah – Medan Tuntungan – Kota Medan, yang telah menemani keseruannya menapaki Sekolah Dasar Umum pertama selepas dari SLB B Karya Murni – Medan.

Hal itu dilakukannya dalam satu kegiatan home visit. Ketika teman-teman sekelas beserta wali kelasnya berkunjung ke rumah yang kami tinggali saat itu,  di Pasar 2 Tanjung Sari – Medan.

Azel hanya menikmati bersekolah di SDIT Al-Hijrah selama 3 minggu saja. Karena ia kemudian harus mengikuti kepindahan tugas ayahnya ke Jakarta. Namun baginya, 3 minggu itu merupakan 3 minggu yang sangat berkesan. Karena itulah pertama kalinya ia bersekolah di sekolah dasar umum pertama, setelah ia mampu mendengar dan berbicara. Meski kemampuan mendengar dan berbicaranya saat itu masih harus banyak dilatih.

Itulah pertama kalinya aku menyaksikan Azel dengan kepercayaan dirinya, berbicara di depan banyak orang. Meski perkembangan artikulasinya masih jauh dari kata sempurna, ia memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang cukup memadai, di usianya yang masih kurang dari 6 tahun.

Aku membuatkan secarik kertas berisikan kata-kata perpisahan dan ucapan terima kasih untuk Azel bukan tanpa alasan. Berharap semua itu dapat meninggalkan kesan mendalam. Mengingat Azel merupakan seorang anak tunarungu satu-satunya pada saat itu, yang akhirnya mampu melalui testing masuk SDIT Al-Hijrah yang cukup ketat.

Dengan harapan, di masa mendatang, ketika ada seorang anak tunarungu lainnya mendaftar di sekolah tersebut, pihak sekolah memberikan kesempatan yang sama, seperti yang pernah Azel lalui. Karena tak selamanya seorang tunarungu itu identik dengan kebisuan. Karena tak semestinya seorang tunarungu itu diragukan kemampuan akademiknya. Mereka mampu melakukan apapun yang bisa dilakukan anak-anak lain pada umumnya. Kesan itulah yang ingin aku tanamkan pada SDIT tersebut, meski hanya sesingkat itulah Azel bersekolah disana.  

Kapankah kesempatan berbicara di depan umum berikutnya dilakukan Azel?

Kesempatan kedua Azel mengasah kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), adalah, ketika usianya 6 tahunan dan ia masih duduk di kursi Taman Kanak – Kanak sebuah TK Islam di Karawang.

Kenapa mengulang TK? Bukankah sebelum pindah Azel sudah bersekolah di SDIT? Begitulah yang selalu dialami oleh kami, para orang tua dari anak-anak istimewa ini. Kesulitan mencari sekolah yang bersedia menerima putra putri kami sebagai salah satu siswanya. Kenyataan itu pernah juga dialami Azel.

Azel yang ketika itu mulai merasakan jenuh, bosan dan enggan menjalani rangkaian proses intervensi, membuatku merasa sedikit khawatir. Karena ia masih harus banyak belajar dan terus mengasah keterampilan berbicaranya. Agar kualitas artikulasinya semakin baik.  Akhirnya, aku meminta kesediaan Kepala Sekolah TK tempat Azel belajar, agar berkenan menugasi putriku berpidato di acara wisuda TK.

Kepala sekolah TK-nya menyetujui usulanku. Beliau menugaskan Azel untuk berpidato mewakili teman-teman  satu angkatannya di atas panggung. Naskah pidato dipersiapkan oleh salah satu guru TK-nya, dan dilatih oleh beliau saat di sekolah. Ketika di rumah, akulah yang melatihnya.

Kesempatan melatih Azel berpidato itu, benar-benar kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki banyak hal. Diantaranya, memperbaiki kejelasan artikulasi, pengaturan nafas ketika berbicara, melatih intonasi dan tempo ketika berbicara, sekaligus pemahaman isi pidato.

Bukan hanya itu, kesempatan Berbicara di depan umum juga sangat efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus keberanian untuk tampil di depan umum. Merupakan sesuatu hal yang sangat penting bagiku untuk meningkatkan kepercayaan diri Azel di tengah segala keterbatasan terkait pendengarannya. Karena bagiku, ia memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain pada umumnya. Berhak untuk bisa mengemukakan apa yang ada dalam pemikirannya melalui naskah pidato yang kelak akan disampaikan. Itulah sebetulnya tujuan akhirku. 

Bagaimana caraku melatih Azelia berpidato?

Hal pertama yang kulakukan untuk melatihnya adalah. Memfotokopi ulang naskah pidato yang diberikan. Lalu, menandai setiap jeda dengan garis miring. Kemudian aku jelaskan pada Azel, “Setiap kamu melihat tanda garis miring ini, berhenti sebentar, atur nafas, baru lanjutkan lagi pidatomu.”

“Buat apa aku harus mengatur nafas?” Tanyanya kemudian.

“Supaya suaramu terdengar jelas pengucapannya dan tetap terdengar kuat hingga akhir kamu berpidato.”

“Berhenti sejenaknya kamu untuk mengatur nafas, itu namanya jeda. Pengaturan jeda saat berbicara di depan orang banyak itu sangat penting. Supaya kamu bisa mengatur nafas dengan baik, sekaligus  menenangkan mu. Irama bicaramu juga jangan terlalu cepat. Supaya orang lain dapat memahami apa yang kamu sampaikan.”

Ketika Azel membacakan pidatonya dengan tempo cepat, aku menghentikannya. “Stop!” Kataku.

“Kenapa Mamah?”

“Jangan terlalu cepat bicaranya. Pelan-pelan saja. Yang penting jelas dibacanya. Supaya orang lain paham kamu bicara apa…”

Tak jarang Azel merasa kesal dengan caraku melatihnya. Jika sudah begitu, sesi berlatih aku hentikan. Lalu memberikan cemilan favorit dan minuman kesukaannya. Setelah dia mulai nampak menikmati cemilannya, ku ajak ia berbicara.

“Maaf ya Kak, jangan marah kalau mamah betulkan pengucapannya. Katanya kakak tidak mau terapi lagi. Kalau tidak mau terapi lagi, ya begini latihan bicaranya. Harus mau mamah betulkan pengucapannya. Kalau tidak begitu, Kakak nanti banyak tertinggal..  “

Mengajari seorang anak tunarungu agar terus mau mengasah keterampilan berbicaranya, memang bukan suatu hal yang mudah. Hal itu menjadi satu tantangan tersendiri bagiku. Alhamdulillah kami sudah melalui semua proses itu. Bahkan Azel sendiri merasakan banyak manfaatnya. 

Kini, ia bukan hanya mampu berpidato. Tetapi juga mampu mengemukakan apa yang menjadi pemikirannya dalam naskah-naskah pidato yang dibuat. Sesuai dengan harapanku dahulu, ketika pertama kali mengajarinya berbicara di depan umum.

Salah satu naskah pidato yang dibuat Azel ketika mengikuti lomba pidato di lingkungan pondok. Masih banyak typo, namun tema yang diambil membuatku merinding.

Kemampuan berbicara di depan umum yang dimiliki Azel juga tak hanya sebatas menyampaikan pidato saja. Ia juga mampu mendeklamasikan puisi, menyampaikan presentasi, bahkan pernah juga mengikuti lomba story telling dalam bahasa Arab.

Semua yang dilakukannya, tak diperoleh secara instant. Namun melalui rangkaian proses yang begitu panjang, dengan motivasi yang tiada henti yang kami berikan.

Karena bagi kami, setiap orang berhak untuk menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Tak terkecuali anak-anak tunarungu kita. Tentu saja dengan cara yang betul-betul mereka kuasai. Entah itu dengan seni, hasil karya, atau melalui pidato-pidato, puisi-puisi, juga novel-novel yang mereka tuliskan. Berbicara di depan umum, hanya merupakan satu bagian kecilnya saja.

Bagi orang tua anak tunarungu yang memilih pendekatan bahasa verbal, tentu saja keterampilan berbicara di depan umum akan mampu memberikan banyak manfaat. Diantaranya, meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan kualitas artikulasi, membuat kemampuan berkomunikasi dan berbicara semakin terasah, dan anak-anak kita tentunya akan mampu menguatkan posisi mereka dalam lingkup pergaulan yang lebih luas lagi.

Dengan demikian, diharapkan perlakuan diskriminatif terhadap para penyandang tunarungu lambat laun akan semakin berkurang. Peluang mereka untuk berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat akan semakin terbuka lebar.

Tulisan kali ini saya buat, sekaligus dalam rangka memperingati milad Azel yang ke-18 di bulan November ini. Semoga lisan dan pendengarannya dapat memberikan manfaat yang luar biasa, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang berada di sekitarnya.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑