Keberkahan Belajar di Pondok Bagi Azelia

Hasil FFT terbaik selama belasan tahun mendampingi Azel. Sebelum mapping implant dan setting ulang ABD, ternyata semua frekwensi sudah masuk area wicara.

Berkah pondok, kalau boleh kami katakan demikian. Perkembangan pesat respon mendengar dan wicara Azelia putri kami, tak terlepas dari hal yang satu ini.

Bahkan dari sebelum putri kami dinyatakan lolos testing masuk dan menjadi salah satu santri disana, kami sudah merasakan keberkahan ini. Keikutsertaannya dalam sebuah bimbingan belajar khusus untuk mempersiapkannya mengikuti testing Gontor, berhasil menumbuhkembangkan semangat belajarnya lebih pesat lagi pada saat itu. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin. Bukan hanya dalam persiapan materi testing saja, melainkan hampir semua hal.

Kegagalan yang diterima dalam beberapa try out yang diadakan tempat bimbel tersebut, justru membuat semangat belajarnya semakin menjadi. Aku ingat, saat ia kembali gagal dalam try out tahap ketiga. Ia berkata…”Mah, mungkin tidak seharusnya aku berharap banyak untuk bisa lolos testing.”

Aku ingat, saat ia kembali gagal dalam try out tahap ketiga. Ia berkata…”Mah, mungkin tidak seharusnya aku berharap banyak untuk bisa lolos testing.”

“Lho, memangnya kenapa?”

“Ini sudah try out ketiga. Dan aku gagal lagi. Padahal aku merasa sudah betul-betul serius dan hati-hati menuliskan jawaban dari soal-soal yang diberikan.”

“Baru try out ketiga, belum testing yang sebenarnya lho ini. Masa sudah menyerah?”

“Susah sekali Mah. Mungkin memang anak tunarungu seperti aku tak boleh berharap terlalu tinggi. Sudah bisa belajar di sekolah umum saja sudah lebih dari cukup.”

“Zel…kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Tapi justru itu adalah awal untuk memulai segalanya. Mamah sudah katakan berulang kali sama kamu. Sederhanakan cara berpikirmu. Jangan dibuat terlalu rumit. Coba asah lagi hal-hal yang paling mendasar dari setiap pelajaran yang diujikan. Contoh, untuk matematika….latih keterampilan calistung kamu lebih intens lagi. Untuk Bahasa Indonesia, latih pemahaman bacaan, makna imbuhan, peribahasa dan hal-hal paling mendasar dari bahasa Indonesia.”

“Buatlah cara berpikirnya lebih sederhana. Jangan mikir yang mumet-mumet, tapi yang mendasar justru dilupakan. Itu keliru.”

“Kamu lihat kan, begitu banyak gedung yang berdiri di sekitar kita. Menurutmu, apa yang membuat sebuah gedung itu menjadi begitu istimewa? Apakah tampilan luar gedungnya yang tampak mewah, ataukah pondasi gedungnya yang kuat?”

“Mungkin keduanya Mah?”

“Jika kamu diminta memilih satu diantara dua pilihan gedung itu, mana yang kamu pilih? Gedung dengan tampilan luar seadanya tapi berpondasi kuat, atau gedung yang tampak mewah, tapi pondasinya ringkih?”

“Tentu aku memilih gedung dengan penampilan sederhana tetapi berpondasi kuat mah. Untuk apa tampilan luar mewah, tetapi mudah ambruk…”

“Nah, itu kamu paham. Sebuah gedung yang berpondasi kuat, meski tampilannya sederhana, akan mampu lebih bertahan lama daripada yang mewah, tetapi pondasinya ringkih. Begitu juga dengan ilmu.”

” Pikiran kamu yang mumet-mumet soal pelajaran itu ibarat tampilan luar sebuah gedung yang tampak mewah. Penguasaan dasar-dasar pelajaran, adalah pondasinya. Pikirkan dulu pondasinya, sebelum memikirkan tampilan luar. Kuasai dulu hal-hal paling mendasar dari sebuah pelajaran, baru kamu pikirkan cara menyelesaikan variasi soalnya kemudian. Itu maksud mamah. Berpikir yang rumit itu nanti, setelah kita menguasai dasar- dasarnya sekuat mungkin.”

“Kamu mikir yang mumet-mumet dulu tapi lupa hal yang justru paling mendasarnya, itu ibarat kamu bikin bangunan gedung yang lebih menitikberatkan tampilan luarnya daripada kualitas pondasinya. Hasilnya, tentu bangunan itu akan mudah ambruk.”

“Tapi kalau kamu lebih memfokuskan diri memperhatikan kualitas pondasinya, pasti gedung yang kamu buat akan mampu berdiri kokoh. Setelah itu, kamu bisa memperbagus tampilan luarnya secara bertahap.”

“Maksud mamah, kamu pelajari dan kuasai dulu hal-hal yang paling dasarnya dari suatu pelajaran. Setelah itu, barulah kamu kembangkan cara berpikirmu tentang pelajaran tersebut. Kalau kamu berpikirnya seperti itu, Mamah yakin kamu pasti bisa lolos testing. Kalau tidak percaya, silahkan buktikan sendiri. Ubah cara berpikirmu yang mumet-mumet itu. Buatlah menjadi lebih sederhana.”

Setelah obrolan kami diatas sepeda motor sepulang sekolah senja itu, aku perhatikan Azel mulai termotivasi untuk kembali belajar hal-hal paling dasar dari setiap pelajaran yang diujikan. Dia kembali mengasah perkalian dasar dari 1 sampai 10, lalu menambahkan secara bertahap hingga perkalian 20. Ia mengasah kemampuan membagi kurung operasi calistung satu hingga 100, pecahan, desimal, dsb. Intinya memperbanyak latihan soal untuk melancarkan pengerjaan soal matematika. Untuk bahasa Indonesia, ia kembali membaca baca beragam peribahasa, sinonim, antonim, berbagai jenis majas, dsb. Mengasah ulang kemampuan menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an beradasarkan ingatannya, melatih pendengarannya untuk mengerjakan soal imla’, dsb. Hingga akhirnya, di try out yang ke – 4, akhirnya ia berhasil lolos.

Setelah dinyatakan lolos try out, kembali ku ingatkan Azel agar tidak mudah puas apalagi sampai takabur. Ia harus mampu menjaga kestabilan emosinya. Agar tak lupa diri dan tetap mampu berpikir jernih, hingga testing yang sebenarnya dilaksanakan.

Alhamdulillah Azel mendengarkan saran dariku dan ayahnya. Akhirnya ia lolos testing masuk Gontor, dan ditempatkan di Kampus Gontor Putri 1-Mantingan. Sesuai impian dan harapannya.

Keberkahan itu tak cukup sampai disitu. Hal berikutnya yang kurasakan adalah, kepekaan respon pendengarannya semakin terlatih. Meski aku tahu betul, hal ini tentu tak mudah bagi putri kami yang terlahir dalam kondisi tunarungu. Ia membutuhkan motivasi luar biasa dan upaya ekstra untuk dapat melalui kesehariannya di pondok.

Satu hal yang menjadi catatanku hingga saat ini. Melepas seorang anak berkebutuhan khusus, tak selamanya membuat anak kita menjadi semakin tak berdaya. Semua tergantung pada mentalitas anaknya sendiri.

Ada kalanya ketika kita melepas mereka, justru mereka akan fight lebih ekstra lagi. Karena kita memberikan kepercayaan penuh, tanpa sedikitpun keraguan. Hal itu membuat mereka justru termotivasi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kita sebagai orang tuanya, sekaligus bagi mereka sebagai tokoh utamanya.

Lingkungan pondok, merupakan suatu lingkungan yang jauh lebih besar dari sebuah rumah. Jumlah orang yang berada di lingkungan pondok, ratusan kali lebih banyak dari lingkungan rumah. Dengan keberagaman yang juga lebih variatif. Logat bahasa dan warna suara dari setiap orangnya yang berbeda – beda, belum lagi bahasa yang digunakan. Penggunaan Bahasa Arab dan Inggris dalam kesehariannya, membuat Azel mau tak mau semakin terpacu untuk terus melatih kepekaan respon dengar juga kemampuannya merespon pembicaraan teman-teman.

Begitulah antara lain caraku menumbuhkembangkan kemampuan bersaing Azel dengan anak-anak lain pada umumnya. Dengan senantiasa berusaha keras memberinya kepercayaan penuh. Bahwa ia mampu melakukan yang terbaik dalam berbagai hal. Terlepas dari apapun kondisinya.

Bagaimanapun juga, keberagaman situasi yang didapatinya di Pondok, memacu kemauan keras putri kami Azelia, untuk terus menerus mengadaptasikan pendengaran dengan sepasang alat bantu pendengaran (Alat Bantu Dengar dan implant koklea) yang digunakan telinga kanan dan kirinya.

Hal yang paling dirasakan setelah ia melalui setahun pertamanya di pondok adalah, nada bicaranya yang semakin santun dengan volume yang tidak terlalu keras. Dan gaya berbicaranya yang juga semakin natural. Aku dan suami sangat yakin, hal ini tak terlepas dari keseharian yang dihadapinya di lingkungan pondok. Ia mungkin sungkan meminta teman-temannya berbicara dengan nada yang keras, karena ada aturan penggunaan tatakrama yang begitu ketat disana. Walhasil, Azel-lah yang justru berusaha keras mengadaptasikan dirinya sendiri dengan suasana Pondok dengan beragam aturan disiplin dan tatakramanya.

Melepas seorang anak ke dunia luar ternyata tak selalu buruk. Nyatanya, setiap kali perpulangan (Perpulangan saat Ramadhan dan perpulangan izin khusus), ketika ia melakukan FFT Aided (Free field Test Aided), selalu menampakkan hasil berupa peningkatan respon dengar yang semakin membaik. Meski pernah suatu ketika ia melakukan audiometri nada murni, ternyata mengalami penurunan respon dengar. Tetapi tidak demikian hasil dari tes pendengaran aidednya. Yang justru malah semakin membaik. Sesuatu yang sungguh sulit rasanya untuk dapat dicerna logika kita.

Namun demikian, tak kami pungkiri, memondokkan Azel pun turut berdampak pada pengeluaran kami untuk pembelian baterai dispossible, baterai rechargeable, dan beberapa suku cadang lainnya. Pengeluaran kami untuk hal-hal tersebut cukup membengkak. Karena durasi penggunaan alat pendengarannya pun mengalami peningkatan yang luar biasa di setiap harinya.

Atas Kuasa Allah, segala kebutuhan putri kami untuk mensupport kelancarannya dalam belajar selalu dapat kami penuhi. Ia hanya bertugas menjaga, merawat serta memaksimalkan manfaat dari penggunaan alat-alat pendengaran yang digunakannya.

Sesekali mungkin rasa lelah datang menyapa. Putri kami seringkali bercerita mengenai hal itu. Biasanya pada saat perpulangan. Karena tak seperti anak santri lain pada umumnya, putri kami memiliki tugas tambahan lain terkait pemenuhan akan kebutuhan khususnya. Namun ia berkata, tak ada waktu untuk mengeluhkan semua itu. Ketika lelah menyapa, ia berusaha keras mengalihkan fokusnya pada tugas dan kegiatan apa yang harus segera diselesaikan. Karena ia tak ingin terjebak pada rasa yang tidak nyaman.

Keberkahan, akan selalu didapatkan oleh siapapun yang benar-benar memiliki niat yang teguh untuk menuntut ilmu. Keberkahan itu ada dalam beragam bentuk. Entah itu kemudahan dalam menyerap pelajaran, kemudahan dalam mengingat dan memahami pelajaran, atau seperti halnya yang dialami Azel. Peningkatan yang signifikan dalam kepekaan respon pendengarannya. Yang kesemuanya itu tentu akan sangat berpengaruh pada masa depan mereka kemudian. Termasuk bagi Azel sendiri, yang saat ini sedang berupaya keras mewujudkan mimpi bagi masa depannya sendiri.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑