
Saat itu tahun 2016, Suamiku meminta kesediaanku untuk belajar menulis. Ia ingin agar pengalamanku mendampingi proses intervensi pendengaran Azelia putri kami, tercatat dalam sejumlah tulisan.
Tulisan yang mungkin akan dibaca kembali olehku atau para orang tua lain yang mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti Azelia.
Azelia adalah putri pertama kami yang terlahir tunarungu. Ia juga merupakan cucu pertama bagi keluarga suamiku. Kami baru mengetahui keterbatasan pada indera pendengarannya, saat usianya menjelang 3 tahun. Tepatnya, saat putri kami berusia 2 tahun 8 bulan.
Begitu banyak kisah dan pengalaman yang kami dapatkan selama mendampingi proses intervensi Azel. Dari yang tak terbiasa mendengar, kemudian akhirnya mampu membedakan begitu banyak suara. Dari yang tak mampu mengucap sepatah kata-pun hingga akhirnya menjadi anak kritis, yang memiliki banyak pertanyaan yang nyaris tiada habis seperti saat ini.
Suamiku berharap, tulisan-tulisan yang kelak terlahir dari tanganku ini, dapat bermanfaat dan mampu menginspirasi banyak orang. Terutama para orang tua yang juga memiliki anak-anak tunarungu. Sesederhana itulah tujuan awal kami membuat blog dengan domain personal ini.
Awal membuat tulisan di blog 2016,tapi kok postingan paling awal yang terteranya 2017?
Belajar secara otodidak, memang tak jarang membuat kita melakukan try & error berulang kali. Maksud hati hanya ingin melihat postingan awal menulis dulu, ternyata yg kita klik sunting tulisan. Walhasil, kita terbitkan ulang tulisan tersebut. Dan membuat tahun penulisan-pun ikut berubah.
Mengesalkan memang, tapi itulah proses belajar. Salah, gagal menjadi teman setia yang mendampingi kesuksesan dan keberhasilan tulisan-tulisan yang ditampilkan dalam blog ini. Tapi justru dari kesalahan dan kegagalan itulah lambat laun kita menjadi semakin paham. Bagaimana menulis yang baik. Bagaimana memanfaatkan setiap icon yang tertera, dan sebagainya.
Aku sendiri merasa masih banyak kekurangan dalam menulis. Itu sebabnya keinginan untuk mempelajari lebih dalam mengenai bagaimana menulis yang ideal, semakin hari semakin menguat. Meski sadar diri usiaku tak lagi semuda beberapa tahun yang lalu, namun semangat menuliskan perjalanan mendampingi intervensi Azelialah yang membuat aku terus menulis dan update blog ini.
Bagiku, belajar adalah sesuatu yang harus dilakukan di sepanjang usia. Karena ketika kita berupaya mempelajari sesuatu, justru ketika itulah kita semakin merasa tidak mengetahui apapun. Itulah salah satu keajaiban ilmu, yang menunjukkan begitu luasnya ilmu Allah. Yang takkan pernah habis meski kita terus menggalinya hingga akhir usia. Aku juga teringat perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sahabat Rasulullah, yang mengatakan bahwa “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, sehingga aku berharap tulisanku di blog ini dapat menjadi ladang amal buatku kelak.
Bergabung dengan Forum Lingkar Pena Bekasi (FLP Bekasi), merupakan salah satu upaya yang kutempuh, guna meningkatkan keterampilan menulisku. Di Forum inilah kami diberikan serangkaian pelatihan untuk melihat keterampilan menulis apa yang betul-betul kami kuasai. Beragam bentuk tulisan diajarkan dan dilatih disini. Menulis kerangka Novel fiksi dan non fiksi, menulis artikel jurnalistik, puisi, opini, esai, dan bahkan mengenai bagaimana menulis blog.
Hari Minggu kemarin, pelatihan mengenai penulisan blog disampaikan. Dari pertemuan itulah wawasanku semakin bertambah. Ternyata, tujuanku yang sederhana ketika mulai menulis blog, sebetulnya hanya merupakan bagian kecil dari tujuan-tujuan lain yang ternyata sangat memungkinkan untuk dapat dicapai.
Menulis blog selain bermanfaat untuk mengasah kemampuan menulis, juga sangat bermanfaat untuk mengembangkan wawasan kita. Sudut pandang kita mengenai suatu hal dapat berkembang seiring berkembangnya kualitas tulisan kita. Selain itu juga dengan menulis blog, kemampuan kita yang terkait dengan pengembangan teknologi ikut terasah. Ilmu kita semakin bertambah, jejaring pertemanan kita semakin meluas, bahkan tidak tertutup kemungkinan kita dapat menambah pundi-pundi penghasilan dari menulis blog.
Namun syarat untuk point manfaat menulis blog yang terakhir, lumayan membuat keningku berkerut. Aku harus tergabung dengan komunitas para penulis blog, yang biasa dikenal dengan istilah Blogger.
Di Indonesia, ternyata keberadaan komunitas itu sungguh sangat banyak dan beragam. Ada komunitas yang terbentuk berdasarkan tema tulisan yang diusung, ada yang berdasarkan gender, berdasarkan domisili blogger itu sendiri, dan sebagainya.
Beberapa Komunitas Blogger yang sempat diperkenalkan di sesi pelatihan hari Minggu lalu, antara lain: Komunitas Emak Blogger (KEB), Blogger Perempuan, Mom Blogger Community, Bloggercrony Community, Blogger Jakarta, Blogger Bekasi.
Jadi bagaimana, apakah anda tertarik untuk menjadi blogger?
***
Tinggalkan komentar