Ketika Anak Mengalami Penurunan Respon Dengar Berulang.

Perangkat implant koklea yang mensupport pendengaran telinga kiri Azelia.

Awalnya, kukira ketika seseorang terdiagnosa tunarungu, takkan ia mengalami lagi penurunan respon dengar. Ternyata ada beberapa diantaranya yang masih harus mengalami penurunan respon dengar. Progressive Hearing Loss, demikian istilahnya.

Aku baru mengetahuinya, ketika Azel putriku mengalaminya di akhir tahun 2015 lalu. Kembali terulang di awal maret tahun 2016. Kemudian tahun 2021 dan bahkan beberapa waktu lalu-pun demikian. Entah apa saja yang menjadi penyebabnya. Yang pasti, menurut dokter yang pernah kami ajak berkonsultasi di tahun 2016 lalu, demam tinggi merupakan salah satunya.

Aku tuliskan pengalaman ini, bukan untuk menimbulkan keresahan diantara para orang tua anak tunarungu. Sama sekali tidak ada maksud seperti itu. Kutuliskan cerita ini hanya sekedar sharing pengalaman. Agar para orang tua anak tunarungu lebih memperhatikan lagi pentingnya monitoring dan evaluasi perkembangan respon dengar putra putrinya secara berkala.

Kami, yang bahkan melakukan rangkaian perawatan alat pendengaran, FFT (Free Field Test) aided pada Azel secara rutin dan berkala setiap 4 – 6 bulan sekali, masih bisa kecolongan. Hingga harus menyaksikan terjadinya penurunan respon dengar berulang pada putri kami.

Pada akhir tahun 2015 lalu, penurunan respon dengar pertama terjadi pada diri Azel. Yang awalnya hanya 70-90 db saat bera awal 2007 untuk telinga kanan dan kirinya, menjadi 80-95 dB saat itu.

Kemudian di awal maret 2016, kembali turun menjadi 85-105.

Saat penurunan respon dengar kedua inilah, kami mulai memperhitungkan rencana untuk melakukan operasi implant koklea pada putri kami. Demi menyelamatkan sisa pendengaran dan masa depannya. Agar ia tetap tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain pada umumnya. Karena bagi kami, pendengaran merupakan aset penting yang dapat mempengaruhi masa depan pendidikan yang akan dijalaninya.

Pertimbangan itu kami ambil, setelah memperhatikan dan mengamati rentang masa dari penurunan respon dengar yang pertama dan kedua. Yang ternyata kurang dari 6 bulan.

Menurut kami, hal itu sangatlah memprihatinkan. Dalam rentang waktu yang kurang dari satu tahun, Azelia harus kembali kehilangan pendengarannya sebanyak 5 – 10 db. Sisa pendengarannya yang tidak seberapa, harus turun lagi. Apa yang akan terjadi jika kami membiarkannya? Sementara pada saat itu suara sengau mulai terdengar ketika ia berkomunikasi verbal. Dan ia mulai mengeluhkan kesulitannya saat belajar di kelas. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah nampak pada diri Azel.

Perlahan-lahan nilai yang diperolehnya untuk semua mata pelajaran mulai menurun. Ia selalu nampak sangat kelelahan setiap kali pulang sekolah. Karena harus memfokuskan pendengarannya ketika mendengar penjelasan Ibu guru. Belum lagi keharusannya untuk mendengar sambil berbagi konsentrasi untuk membaca bibir ketika belajar di kelas. Semua aktivitas itu membuatnya kelelahan. Karena energinya betul-betul terkuras untuk melakuka semua itu.

Sepasang alat bantu dengar yang berjasa membantu proses intervensi awal.

Sejak awal masa intervensi, Azel adalah seorang anak tunarungu yang benar-benar mengandalkan pendengarannya. Aku masih ingat betul ketika walikelasnya saat belajar di TLO sebuah SLB B di Kota Medan menyampaikan kepadaku tentang tingkah laku Azel saat belajar. Ia tak pernah mau duduk diam dan memperhatikan bibir, ketika sedang diajari cara membaca suatu kata yang tertulis di papan tulis. Bahkan Kepala Sekolahnya pernah mengatakan terus terang kepadaku, mengenai keresahannya akan kemampuan Azel dalam mengikuti pelajaran di sekolah, dan kemampuan berkomunikasinya. Karena semasa sekolah di SLB B itu, Azelia putriku memang tak mau duduk diam dan memperhatikan dengan seksama guru yang mengajar. Ia selalu nampak sibuk dengan dirinya sendiri, karena motoriknya sangat aktif.

Namun ternyata, seiring berjalannya waktu, justru perkembangan komunikasi verbalnya melesat begitu cepat melampaui apa yang kami perkirakan. Begitu pula dengan perkembangan kemampuan akademiknya. Kurasa, saat itu aktifnya Azel adalah untuk mengamati dan mencaritau apapun yang membuatnya merasa tertarik. Ia belajar memahami sesuatu dengan caranya sendiri.

Dari siswa sekelas ketika di TK persiapan 1 SLB B tunarungu, Azelia adalah siswa dengan usia termuda, dan postur tubuh termungil. Saat itu usianya 4,5 tahun. Sementara teman – temannya berusia 5 – 13 tahun. Meskipun demikian, ia merupakan siswa pertama dari kelas tersebut, yang akhirnya mampu bergabung di sekolah umum.

Bahkan kepindahannya ke sekolah umum begitu resmi, karena disertai surat keterangan mampu inklusi yang ditandatangani oleh Ibu Kepala Sekolah. Inilah yang membuatku semakin yakin, bahwa Azelia putriku akan mampu mengembangkan kemampuan verbal dan akademiknya. Karena ia belajar dengan mengandalkan pendengaran dan penglihatannya, sama dengan anak lain pada umumnya. Yang membedakan hanyalah sepasang alat pendengaran yang harus selalu dipakainya.

Ketika penurunan pendengaran terjadi untuk kedua kalinya di awal maret 2016, aku langsung meminta suamiku untuk bersegera mempertimbangkan operasi implant koklea guna menyelamatkan pendengaran Azel. Aku khawatir, potensi baik yang dimilikinya akan menguap begitu saja, jika akses pendengaran yang optimal tak didapatkan.

Jujur saja, sebagai ibu dari seorang anak tunarungu, aku begitu terpukul mendengar kenyataan bahwa putriku mengalami penurunan respon dengar hingga berulang kali. Aku khawatir akan masa depannya. Khawatir ia akan mengalami hambatan dalam mengikuti pelajaran, serta begitu banyak hal terkait kemampuan komunikasi verbalnya.

Semua pencapaian yang diraih putriku pada tahun 2015 -2016 itu, merupakan hasil dari suatu proses panjang. Perlu waktu bertahun – tahun untuk mengusahakannya. Aku khawatir semua pencapaiannya akan menguap begitu saja. Sementara potensi baik yang kulihat dari putriku begitu jelas. Ibarat sebuah pohon, pohon itu sudah mulai berbuah, dan aku tinggal memetik hasilnya. Namun, kenyataan mengenai penurunan respon dengar yang dialaminya, nyaris meruntuhkan segenap asa-ku untuknya.

Awalnya, kabar penurunan respon dengar itu kembali membuatku lemas tanpa daya. Tiba – tiba saja aku merasakan kelelahan yang luar biasa. Yang sebenarnya aku berusaha keras menahannya selama bertahun – tahun. Rasa kesal yang teramat sangat, sukses membuatku kembali berlinangan air mata. Sejuta tanya kembali muncul dalam pikiranku.

Kenapa harus aku, kenapa harus putriku, kenapa terjadi lagi di saat aku mulai yakin ujian ini akan segera berakhir. Kenapa harus Azel lagi yang mengalaminya, kenapa ujian ini tak kunjung berakhir, dan sebagainya. Hingga derasnya air mata yang mengalir ini rasanya sulit kuhentikan.

Hingga akhirnya aku kelelahan dan kembali tersadar, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupanku, merupakan takdir yang Allah tetapkan untukku. Dan aku akhirnya kembali yakin bahwa takdir yang terasa pahit ini, akan mampu ku ubah, jika aku dan suami mengikhtiarkannya sebaik mungkin. Implant koklea, merupakan satu peluang yang tersedia bagi kami.

Rasa khawatir, takut, dan gelisah yang sempat mengkristal menjadi sebentuk kekecewaan terhadap takdir yang ada, akhirnya kembali pupus begitu saja. Aku pernah mengalami masa sulit yang hampir sama, dan akhirnya mampu melewatinya. Karena menurut pengalamanku, takkan Allah ciptakan permasalahan tanpa jalan keluar. Hanya saja, untuk menemukan jalan keluar itu, aku harus mampu berpikir jernih.

Hal pertama yang kulakukan adalah menenagkan diri. Hati yang tenang, mampu menjernihkan akal dan pikiran. Hingga akhirnya secara berangsur aku kembali pada satu titik penerimaan. Bahwa Allah sudah menetapkan semua ini untukku, dan mau tidak mau aku harus menghadapinya. Lalu mengikhtiarkannya sebaik mungkin.

Dengan sisa-sisa keyakinan yang ada, aku berupaya kembali menguatkan diri, bahwa aku dan suami akan mampu menghadapinya (lagi).

Hingga akhirnya, sampailah aku pada satu titik. Bahwa sebenarnya Allah tak ingin aku menjadi seorang yang takabur. Hingga memberiku ujian yang hampir sama secara berulang. Lalu aku beristigfar sesering mungkin semampuku. Meski tak merasa memiliki sifat takabur, siapa tahu sempat terbetik dalam diriku rasa yang tak baik itu. Aku terus memohon ampunanNya, mengharapkan petunjukNya, dan memohon keridhoanNya atas apapun yang ku ikhtiarkan bersama Azel.

Ketika Azelia putriku memintaku mengikhlaskannya untuk belajar di sebuah pondok pesantren, rasa hati begitu terharu. Kekhawatiran jelas ada, namun jika mengingat penurunan respon dengar yang terjadi secara berulang ini, rasa haru sekaligus rasa syukur yang tiada terperi tiba – tiba muncul begitu saja.

Putriku, dengan sisa pendengaran yang tidak seberapa memiliki keinginan kuat untuk mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi. Dan aku merasa terharu karenanya. Ia mungkin memiliki keterbatasan pada salah satu inderanya, namun ternyata tak mau membatasi dirinya untuk mempelajari apapun yang diinginkannya. Dari yang sisa pendengaran yang tidak seberapa itu, ia justru ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Itulah yang membuat rasa haru, dan rasa syukur ini muncul bersamaan.

Hasil FFT aided test terakhir di bulan April 2022 lalu. Semoga bisa menjadi bekal terbaik untuk kembali mengikuti pelajaran & berkegiatan di Pondok.

Putriku bukanlah milikku sepenuhnya. Aku hanya sekedar dititipi. Tugasku hanyalah mendidik dan mengarahkannya sebaik mungkin, terlepas dari apapun kondisinya. Dan hal itu sudah kulakukan. Kini sudah saatnya ia menentukan masa depannya sendiri. Meski penurunan respon dengar di telinga kanannya kembali terjadi di tahun 2021 lalu dan April 2022 ini, tapi Insyaallah, aku berusaha ikhlas menerima apapun kehendakNya. Sembari tak lupa hati terus merapalkan doa, semoga April lalu, adalah penurunan respon dengar terakhir yang harus dialaminya. Kini, ambang batas pendengaran Azel untuk telinga kanan dan kirinya adalah 96 dan 105 dB.

Meski telinga kanan mengalami 2x penurunan respon dengar sejak masuk pondok selama 2 tahun ini, namun perkembangan kepekaan respon dengar untuk telinga kirinya justru mengalami peningkatan pesat. Semakin stabil dari waktu ke waktu. Kini berada di kisaran 20-25 dB.

Selain itu, meski pendengaran telinga kanannya mengalami penurunan respon dengar, nyatanya putriku Azelia Alhamdulillah masih dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Ia mengatakan implant koklea sangat membantunya ketika belajar di kelas. Tidak seperti ketika ia mengalami penurunan respon dengar saat masih menggunakan 2 alat bantu dengar untuk kedua telinga.

Mungkin itulah yang Allah harapkan dari kami. Mengikhlaskannya untuk belajar ilmu agama kemanapun ia inginkan. Kami hanya perlu mengikhlaskannya. Ikhlas yang begitu mudah diucapkan, namun sulit nyatanya dipraktekkan Semoga saja keikhlasan kami itu hadir menyertai setiap perjalanan hidupnya. Demi Azel dan masa depannya.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑