
Mungkin bagi para santri lain pada umumnya, berkegiatan semacam ini terkesan biasa saja. Sesuatu yang biasa dijalani, sebagai upaya meningkatkan kualitas diri dan kedisiplinan serta kreativitas.
Namun tidak demikian halnya bagi seorang anak tunarungu seperti Azel. Menjalani kegiatan seperti ini membutuhkan keberanian ekstra. Membutuhkan kemauan kuat, untuk menantang diri melompati setiap keterbatasan yang terkait pendengarannya.
Berkegiatan, berarti ia tak boleh merasa lelah untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan adaptasi pendengarannya. Mencoba fokus untuk melatih pendengarannya lebih ekstra.
Ia harus mampu beradaptasi cepat dengan beragam warna suara dari setiap orang yang berkomunikasi dengannya. Ia juga harus melatih fokusnya ketika mendengar suara seseorang yang memberikan arahan, penjelasan, atau mungkin intruksi. Diantara suara background noise sekeliling yang melingkupinya. Dan itu semua tentu tidak mudah. Memerlukan tekad yang benar-benar kuat untuk mau terus belajar dan berupaya.
Membayangkannya saja membuat mataku berkaca-kaca. Karena aku tahu semua itu tentu tak mudah dan menghadirkan tantangan tersendiri baginya.
Satu hal yang menguatkannya. Ia yakin bahwa pada akhirnya, Allah lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Keterbatasan pada indera pendengaran, bukanlah halangan baginya untuk melakukan apapun yang diinginkan.
“Selagi masih muda, aku ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Mengikuti suatu seminar di ruang auditorium, bukan perkara mudah bagiku, Mah. Karena ada suara gema disana.”
” Tapi, dari sanalah justru aku berkesempatan melatih pendengaranku sebaik mungkin. Ada kesempatan baik yang datang padaku untuk terus meningkatkan kemampuan fokus mendengarku. Sengaja aku mengikuti seminar-seminar dan semua kegiatan itu. Itulah kesempatanku untuk banyak belajar, mencari pengalaman dan terus mengasah kemampuan fokus mendengarku.”
Dan sungguh hasilnya luar biasa. Kestabilan pada pendengaran kirinya semakin nampak. Ia terhabilitasi dengan sangat baik. Hasil aided test beberapa waktu lalu menunjukkan respon dengarnya relatif stabil, jika dibandingkan dengan hasil aided test sebelumnya. Berada di rentang 20 – 25 db. Nyaris menyentuh string bean. Yang merupakan mimpi dan dambaan para orang tua dari anak-anak tunarungu. Itulah pencapaian tertinggi dari seorang anak tunarungu. Ketika alat pendengaran yang digunakannya mampu mencapai kemampuan respon dengar layaknya kita semua pada umumnya.
Team yang melakukan mapping, mengupayakan berbagai strategi dan trik untuk membekali Azel dengan settingan yang benar-benar ideal sesuai kebutuhannya.
Aku masih ingat, tahun lalu Azel hanya dibekali satu program settingan. Dan ketika aided test dilakukan, terlihat jelas dari datalog, bahwa ia mengubah settingan melalui remote assistance sebanyak lebih dari 30 kali dalam rentang waktu sekitar 6 bulanan saja.
“Aku mengubah ubah settingan, karena terkadang merasa kesulitan mendengar. Dan kulakukan itu semampuku saja. Karena aku blm paham betul bagaimana memanfaatkan remote assitance ini. Mungkin justru aku malah mengacaukan settingan. Karena belakangan ini, aku merasa ada yang tak beres dengan settingan implantku.”
“Azel, kapan kamu merasakan moment-moment settingan alatmu terasa tidak pas? Di suasana seperti apa? Apakah ketika kamu sedang mendapatkan siklus bulanan juga kamu merasakan hal yang sama?”
Itulah pertanyaan yang diajukan Audiologist dan mapping clinician, saat Azel melakukan mapping di bulan Oktober tahun lalu.
“Ya,betul aku merasakan perubahan itu. Salah satunya setiap kali aku mendapat siklus bulanan. Tapi selain dari itu, aku juga merasakannya ketika sedang berada di ruang auditorium. Ada suara gema yang membuat pendengaranku terasa tidak nyaman. Aku kesulitan menyimak penjelasan yang disampaikan melalui microphone. Apakah siklus bulanan dan kondisi di ruang auditorium itu memang bisa mempengaruhi perubahan respon dengarku dari settingan awal?”
“Ya, tentu itu sangat berpengaruh. Karena mungkin kamu belum terbiasa. Dan settingan implant yang kami tetapkan disini tidak sesuai dengan kebutuhan pendengaran yang kamu hadapi disana. Kita menyetting alat disini dalam suasana senyap, di dalam ruangan. Sementara disana, situasi yang kamu hadapi mungkin jauh lebih ramai. Banyak suara background noise. Hanya kamu yang tahu persis seperti apa suasananya. But, i’m sure you can handle it well. Kamu hanya harus terus melatih fokus mendengarmu pelan-pelan.”
Dari hasil pembicaraan saat mapping itulah, Azelia putri kami kemudian di bekali dengan 3 program settingan implant. Settingan pertama, adalah settingan standard yang tidak boleh diubah sedikitpun oleh Azel. Dapat digunakan ketika ia kebingungan setelah mengubah ubah settingan sedemikian rupa sesuai kebutuhannya. Karena ia belum paham betul bagaimana settingan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pendengarannya. Ibarat kata, itu adalah rumah utama untuk settingan alatnya, ketika ia merasa bingung dan kehilangan jejak settingan yang membuatnya nyaman.
Program settingan kedua, sama persis dengan program settingan pertama. Yang membedakannya adalah, Azel dapat mengubah settingan sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kegiatan yang dihadapinya didalam pondok.
Di program kedua inilah Azel diperbolehkan mempelajari lebih dalam lagi tentang bagaimana ia menyesuaikan settingan alatnya, sesuai kebutuhan.
Ada kalanya ia berkegiatan di ruang auditorium dengan suara speaker dan microphone. Ada juga kalanya ia berkegiatan di ruang terbuka. Sensasi mendengar di dua situasi ini tentu berbeda. Dan ia merasa butuh menyesuaikan settingan alatnya. Itulah antara lain kenapa di mappingan sebelumnya ia mengubah hingga tiga puluh kali lebih settingan alatnya, yang akhirnya justru membuatnya kehilangan jejak settingan standard awal.
Alasan ini jugalah yang membuat Audiologist dan mapping cliniciannya mencoba membuatkan 3 alternatif program settingan tersebut. Agar ketika ia kehilangan jejak, ia bisa kembali ke settingan awal tanpa harus merasa bingung.
Program settingan ketiga dibuat khusus untuk Azel, manakala ia sedang mendapatkan siklus bulanan. Karena kondisi hormon yang berubah, turut mempengaruhi kinerja internal device yang tertanam didalam rumah siputnya.
Rumit, detail dan lumayan bikin mumet. Mungkin begitulah sekilas yang kita tangkap ketika mendengar cerita ini. Tapi sebetulnya, semua ini tak serumit yang kita bayangkan. Jika kita menyikapinya dengan penuh keikhlasan dan fokus pada manfaat akhir yang akan didapatkan putra putri kita yang menggunakan alat pendengaran ini.
Alat pendengaran merupakan kebutuhan mereka. Support utama, agar dapat mendengar dengan baik dan mampu mengikuti pelajaran saat di sekolah. Jika kita memilih penguasaan verbal sebagai pilihan dalam cara mereka berkomunikasi.
Setiap pilihan pasti memunculkan satu konsekwensi. Dan jika ingin mendapat hasil yang sesuai dengan apa yang kita harapkan, dibutuhkan sikap konsisten dan kemauan keras untuk mau menjalani rangkaian prosesnya.
Mempelajari manajemen audiologi, menjalani proses habilitasi dan rangkaian proses intervensi, merupakan prasyarat lain yang sangat diperlukan untuk mewujudkan apa yang menjadi harapan kita sebagai orang tua, dan anak -anak kita yang menggunakan implant koklea maupun alat bantu dengar.
Banyaknya kegiatan yang dilakukan Azel di tahun ajaran lalu, memberikan begitu banyak pelajaran berharga bagi Azel. Pengalaman mendengarnya menjadi lebih beragam. Ia juga berkesempatan melatih fokus pendengarannya di berbagai situasi dan kondisi, dengan beragam warna suara dan bunyi-bunyian yang menjadi background noisenya.
Aku sendiri tak pernah menyangka putriku akan memiliki keberanian hingga sejauh ini, untuk mengeksplore dan terus mengeksplore kedua alat pendengaran yang digunakannya. Meski itu berbeda teknologi. Satu hal yang aku yakini betul dari sikapnya, ia sadar tak semua orang seberuntung dirinya. Berkesempatan menggunakan 2 teknologi alat pendengaran ini. Dan ia berupaya keras mengeksplore keduanya, sebagai satu bentuk ungkapan rasa syukur akan nikmat dan karunia yang Allah berikan untuknya.
Bersyukurlah kita yang dianugerahi Allah pendengaran yang sempurna. Sudahkah kita memanfaatkannya dengan baik?
Berkegiatan, akan membuat pengalaman mendengar anak menjadi semakin kaya. Akan banyak kesempatan baginya melatih fokus mendengar, fokus berpikir dan berbicara.
Dengan melakukan banyak kegiatan yang beragam, terutama kegiatan yang melibatkan banyak bahasa dan komunikasi verbal, tentunya juga akan membuat anak kita menyerap lebih banyak kosakata baru. Yang membuatnya semakin kaya dengan bahasa reseptif dan ekspresif. Sehingga kemampuan literasinya-pun semakin berkembang pesat.
Tinggalkan komentar