
Usia 17 tahun merupakan gerbang menuju kedewasaan. Di usia ini pula seorang anak mulai bisa mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Mengemudi (SIM)-nya untuk pertama kali dalam hidup mereka.
Tak sedikit pula anak-anak remaja yang merayakannya bersama teman-teman mereka. Istilah perayaan sweet seventeen begitu akrab di telinga mereka. Tapi tidak demikian halnya dengan kami sekeluarga. Bagi kami, setiap tahun…ketika milad Azel tiba, merupakan moment untuk mengevaluasi perkembangan bahasa dan pemahamannya. Hal itu berlaku sejak kami mengetahui kondisinya yang tunarungu di usia jelang 3 tahun.
Kami tak memungkiri, pernah merayakannya dengan cara yang sederhana. Dengan membagikan makanan dan sedikit cemilan untuk kawan-kawan sekelas, dan membawakannya cake ulang tahun ketika Azel bersekolah di sekolah umum. Itu merupakan upaya kami mengungkapkan rasa syukur, sekaligus kesempatan bagi Azel menjalin kedekatan dengan kawan-kawannya.
Kondisi Azel yang tunarungu, dan bersekolah di sekolah umum, membuatnya mau tak mau harus mampu membaur dengan anak-anak lain pada umumnya. Yang tentu saja kondisinya tak sama dengan Azel. Hal ini tak jarang membuat Azel merasa sedikit ‘rendah diri’ di hadapan teman-temannya karena kondisinya yang memang ‘berbeda’.
Berbagai cara kami tempuh guna menumbuhkan kepercayaan dirinya. Dari mulai menumbuhkan minat baca padanya, kemudian mengikutkannya les mewarnai, mendaftarkannya les piano dan keyboard, terus mendorongnya untuk berani tampil ketika guru meminta, dan sebagainya. Termasuk berbagi sedikit kebahagiaan bersama teman sekelas saat ulang tahunnya tiba.
Ya, perayaan ulang tahun bagi seorang anak berkebutuhan khusus, nyatanya bukan hanya sekedar perayaan biasa yang ‘mengikuti trend’ semata. Maknanya lebih dari sekedar sebuah perayaan. Itulah yang kurasakan pada masa-masa itu. Jika bisa kugambarkan, saat itu dalam hati kami membatin…
“Izinkanlah putri kami merasa ‘diakui’ dan ‘dianggap’. Setidaknya dalam satu hari istimewanya ini saja. Ketika hari kelahirannya.”
Berbeda dengan masa-masa itu, sejak tahun lalu sebuah perayaan tak lagi mewarnai ulang tahun Azel. Bagi kami masa itu sudah terlewati. Azel mengingat hari kelahirannya dalam kesederhanaan. Ia hanya meminta doa yang penuh keikhlasan & keridhoan dari kami.
“Aku hanya minta mamah dan ayah mengikhlaskanku belajar di Pondok. Doakan agar aku senantiasa dikuatkan, dan dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-citaku.”
Sesuatu yang tak pernah kami bayangkan jauh sebelumnya. Sungguh sangat jauh melampaui apa yang kami harapkan. Kenyataan yang terjadi pada 2 tahun belakangan ini rasanya begitu indah. Setelah ia mengalami tahun-tahun yang penuh dengan tempaan yang luar biasa.
Dulu, semua yang pernah dijalaninya selalu terasa tidak mudah. Begitu banyak cobaan hidup yang sudah pernah dilaluinya. Dari yang paling ringan, hingga yang terberat. Kami berusaha mendampinginya sebaik mungkin.
Memanjakan, menghiburnya dengan kata- kata manis semata, menyalahkan orang lain, sungguh bukan cara kami melalui semua cobaan itu.
Kami selalu berupaya mengajaknya berbicara dari hati ke hati, mendiskusikan semuanya. Dari mulai akar permasalahan, cara menyiasati keadaan, dan bagaimana upaya untuk menemukan solusi terbaik.
Kami mengajaknya agar tetap mampu berpikir jernih dalam mengatasi setiap permasalahan, meski tak jarang itu tentu sangat tidak mudah. Dan tanpa kami sadari, kebiasaan itu kami tanamkan sejak usianya masih sangat belia.
Sebuah keputusan besar terkait masa depannya, pernah ia ambil ketika usianya barulah 11-12 tahunan. Sebuah keputusan yang akhirnya tercetus, setelah dibicarakan selama kurang lebih 1 tahun.
“Ayah, aku perlu banyak membaca dulu mengenai apa itu implant cochlear. Aku perlu waktu untuk mempelajari 3 brand yang beredar di Indonesia. Aku perlu mempelajari dulu semuanya, sebelum mengambil keputusan. Tolong bantu aku, beri aku waktu untuk berpikir.”
“Mamah, aku perlu waktu untuk mempelajari semuanya. Aku yang akan mengalami semuanya. Tolong, beri aku waktu.”
Dan keputusan menjalani operasi implant koklea itu, merupakam keputusan pertama yang betul-betul diambil dari hasil pemikiran dan pertimbangannya sendiri. Sejak saat itulah, ia terus dilatih oleh kami, terutama ayahnya. Untuk merencanakan masa depan yang diinginkannya, paling tidak untuk 5 tahun ke depan.
Suatu hal yg tidak bisa diajarkan secara instant, dan tidak ada mata pelajarannya di sekolah manapun. Dimana kami sebagai orang tua menjadi tutor utamanya.
Kini, saat usianya menginjak 17 tahun, pemikirannya semakin matang dan dewasa. Mulai menjelma menjadi sosok gadis yang bisa diajak untuk bertukar pikiran.
Hobi membacanya, turut meluaskan cara berpikir yang dimilikinya. Aku merasa sangat bersyukur dengan semua pencapaian itu.
Terlintas kembali dalam benakku. Ketika menghadapi awal masa ketunarunguannya. Semua terasa begitu sulit. Penugasan ayahnya ke kota Medan, layaknya tugas belajar bagi keluarga kecil kami. Di kota itulah diagnosa mengenai keterbatasan pendengarannya pertama kali kami dengar. Disana pula kemandirianku sebagai ibu dari seorang anak tunarungu benar-benar diuji. Karena suamiku kerap kali melakukan perjalanan dinas hampir di setiap hari, membuatku harus mampu mengurus segala hal terkait proses intervensi seorang diri. Meski pada prakteknya aku dan ayahnya kerap kali berdiskusi melalui ujung telepon. Ya, ayahnya tetap ikut memonitor segala kegiatan kami dan perkembangan proses intervensi yang dijalani, meski tidak terlibat secara langsung setiap hari.
Duka yang mendalam, rumah yang terasa sepi karena tak ada yang bisa diajak bicara. Anak yang bibirnya senantiasa terkatup rapat karena tak mampu mendengar, nyaris membuatku frustasi karena putus asa saat itu. Menangis, hanya itu satu-satunya cara mengeluarkan rasa sesak di dada dan meredakan rasa sakit di kepala, ketika rasa putus asa mulai datang menyapa.
Berulang kali aku merasa lemas tiada daya, namun berulangkali pula aku berusaha menguatkan hati untuk mencoba berbagai cara. Telp yang berdering sebelum tidur dan saat bangun tidur dari ayahnya, adalah penyemangat yang luar biasa.
“Gimana Nita, apa saja kegiatan Nita dan Azel hari ini? Kalian berdua mempelajari kosakata tentang apa? Berapa jam alatnya dipakai? Latihan mendengarnya apa saja? Kooperatif atau tidak? Teman-teman yang dekat rumah ada yang main atau tidak?…”
“Azel tidur jam berapa tadi malam. Begadang lagi atau tidak? Rencananya hari ini mau belajar apa? Jangan lupa ya, durasi pemakaian alatnya ditambah lagi dari hari kemarin. Ingat, jangan nangis di depan Azel. Nita harus kuat. Maafkan ayah yang tidak bisa menemani dan mendampingi Nita dari dekat. Tapi…. Ayah janji, akan selalu menelp setiap malam sebelum tidur, dan pagi hari setelah bangun tidur….”
Waktu berlalu begitu cepat. Saat masa intervensi, rasanya setiap harinya penuh dengan teka teki yang harus dipecahkan. Ibarat benang basah yang kusut, satu per satu kucoba mengurainya dengan berbagai cara. Meski itu sungguh tidak mudah.
Kadang, tak cukup satu cara untuk mengurai masalah demi masalah terkait perkembangan mendengar dan wicaranya. Rasa cemas dan kekhawatiran membayang setiap tahun, jelang hari kelahirannya.
Akankah ia mampu mendengar suaraku suatu saat nanti? Akankah kudengar ia memanggilku mamah? Mungkinkah aku dapat bercakap dengannya tentang banyak hal suatu saat nanti?
Apakah ia akan mampu bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak? Akankah peluang demi peluang terbuka untuknya? Apakah ia akan mampu menentukan masa depan seperti apa yang diinginkannya?
Begitu banyak pertanyaan yang berputar – putar dalam benakku. Tak jarang kecemasan itu berakhir dengan keputusasaan. Jika sudah kurasakan keputusasaan datang membayang, kuungkapkan segala resah dan gelisah dalam sujud – sujud panjang dan doa-doaku.
“Allah….kuatkan aku menghadapi takdir yang Engkau gariskan. Tenangkan hatiku, agar aku dapat kembali berpikir jernih. Bantulah aku ‘membaca’ situasi yang kuhadapi, agar dapat kuurai setiap permasalahan itu satu per satu. Izinkan aku berikhtiar dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Laa haula walaa quwwata Illaa billaah….”
Tanpa terasa pada akhirnya semua berproses. Berat pada awalnya, namun ringan pada akhirnya. Hingga aku sendiri tak sadar, kapan sesungguhnya semua permasalahan itu terpecahkan. Yang aku tau hanyalah mengikhtiarkannya sesuai batas kemampuanku.
Menanamkan motivasi yang kuat kepada putriku, merupakan satu cara yang aku tempuh. Mengajarkannya untuk selalu bersyukur atas apapun kondisinya, merupakan Pondasi paling mendasar yang aku letakkan dalam pola asuh yang ku terapkan.
Aku juga berupaya keras menumbuhkan kreativitas berpikirnya. Serta memunculkan rasa ingin tahunya agar terus meningkat. Semua kuterapkan sebagai langkah lanjutan. Untuk membuat putriku yang terlahir tunarungu tak kalah perkembangannya, dengan anak-anak lain seusianya yang terlahir dengan panca indera sempurna.
Menanamkan kebiasaan gemar membaca adalah strategi berikutnya. Kuupayakan agar ia merasa terus tertarik untuk belajar dan menambah wawasannya.
Dan dengan semua modal dasar itulah, pada akhirnya di usianya yang ke- 17 ini ia mampu tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain pada umumnya. Siap menghadapi dunia, dengan kemandirian dan keberanian menghadapi setiap permasalahan yang dihadapinya.
Setiap rasa tidak nyaman yang pernah dilaluinya, dijadikannya sebagai pembelajaran berharga. Diambil hikmahnya sedemikian rupa, agar dapat menjadi peringatan di masa mendatang.
Kuharap, putriku kelak menjadi seorang anak yang percaya diri dan selalu haus akan ilmu. Dengan tetap menampilkan kesederhanaan dalam tingkah lakunya.
Pendengarannya boleh terbatas, tapi jangan sampai membatasi langkahnya menapaki masa depan yang penuh dengan harapan-harapan baik.
Tinggalkan komentar