Mendengar dengan 2 Telinga, Lebih Baik.

Part 2_Bimodal Hearing

Perangkat implant koklea dari atas. Drying box, remote assistance, minimic, baterai rechargeable , baterai dispossible dan sound processor.

Pada tahun 2015 lalu, Azelia mengalami penurunan respon dengar untuk pertama kalinya. Ia selalu nampak begitu kelelahan setiap kali pulang sekolah.

Bukan hanya itu saja, emosinya pun nampak sangat tidak stabil. Sering memarahi kedua adiknya tanpa alasan yang jelas. Dan ternyata, setelah ditanyakan padanya, ia mengaku sangat kelelahan. Karena merasa telinga kirinya tak lagi mampu mendengar. Merasa pendengaran di satu telinganya seperti dimampatkan. Dan itu membuatnya tak nyaman.

Ia kesulitan mendengar penjelasan guru saat mengajar, dan harus dibantu dengan membaca bibir ketika berusaha memahami apa yang disampaikan. Dan itu membuatnya merasa sangat kelelahan, karena harus lebih fokus lagi ketika mendengar.

Dan hal ini kembali berulang, pada pemeriksaan FFT (Free Field Test) di awal Maret 2016. Hasil FFT nya kembali kacau. Aku dan Azel kemudian mencoba membahasnya. Hingga akhirnya, terbukalah cerita itu.

“Mamah, pernahkah merasa kesulitan mendengar di salah satu telinga?”

“Pernah. Biasanya ketika sedang flu berat, atau memakan sesuatu yang pedas luar biasa, atau saat berenang. Ketika sebelah telinga kemasukan air.”

“Bagaimana rasanya menurut Mamah?”

“Sangat tidak nyaman. Rasanya aneh, bikin gak betah.”

“Nah, itulah yang aku rasakan sekarang. Aku sulit sekali fokus untuk mendengar suara ibu guru mengajar. Rasanya, dipakai atau tidak dipakai ABD (Alat Bantu Dengar) ku sama saja. Capek banget rasanya, Mah.”

“Apakah itu juga berarti kamu tidak lagi bisa membedakan antara baterai masih ada dayanya atau  tidak?”

“Ya, begitulah…”, Azel berkata dengan nada lirih sambil menunduk.

“Pantas saja belakangan ini baterai alat pendengaran kirimu sampai berair. Sampe harus ganti ampli. Padahal baru setahun lalu mamah dan ayah mengganti ampli ABD yang telinga kiri. Kamu rupanya tidak bisa lagi membedakan baterai masih ada dayanya ataukah sudah habis. Kenapa baru bilang sekarang?”

“Akupun awalnya tidak tau mengenai hal itu. Kukira, itu hanya karena aku sedang tidak fokus mendengar saja. Dan baru sadar setelah mamah menegurku karena ABD berair dan amplinya harus ganti lagi. Ternyata setelah ku perhatikan, itu karena telinga kiriku tak merasa bisa digunakan lagi untuk mendengar. Jujur saja, aku merasa betul-betul kesulitan mendengar belakangan ini, Mah.”

“Rasanya belakangan ini semakin parah Mah. Aku berusaha keras memfokuskan diri ketika belajar di kelas, tetap saja merasa kesulitan. Suara Ibu Guru yang mengajar, tak lagi kudengar sejelas ketika aku kelas 1 dulu. Apakah aku kehilangan pendengaranku lagi, Mah? Apakah telinga kiri ku selamanya takkan bisa mendengar lagi? Apakah sekarang aku benar-benar kehilangan pendengaranku? Bagaimana sekolahku nanti ya, Mah. Aku takut tidak bisa mendengar lagi.”

“Mamah sedang mengobservasi hasil fitting terakhir kak. Mamah lihat di fitting terakhir, audiogram hasil (Free Field Test) nya tidak seperti biasa. Benar-benar berantakan. Mamah curiga terjadi sesuatu dengan respon pendengaran kakak. Apakah orang yang melakukan FFT nya yang tidak mampu mengerjakan pekerjaannya dengan benar, ataukah kamu yang respon pendengarannya bergeser dan menjadi kacau.”

“Mamah akan mengkomunikasikan terlebih dahulu apa yang kamu keluhkan. Dan akan bertanya, apa yang sebaiknya ayah dan mamah lakukan agar bisa membantumu. Yang sabar ya kak, kakak tidak akan kami biarkan menghadapi semua masalah pendengaran kakak ini sendirian. Mamah dan ayah akan berusaha mencari tahu apa yang menjadi sumber masalah yang sebenarnya. Setelah itu kita cari solusinya bersama- sama.”

“Baiklah Mah. Aku akan menunggu. Mulai sekarang aku akan bercerita tentang apapun terkait pendengaranku. Azel minta maaf tidak menceritakan semua ini. Aku khawatir akan merepotkan ayah dan mamah lagi. Ayah dan mamah sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk memenuhi kebutuhan pendengaranku. Azel malu, hanya bisa menyusahkan mamah dan ayah.”

Kulihat Azel berkata dengan mata berkaca-kaca. Ia terlihat begitu sedih dan merasa tak berdaya.

Inilah sosok Azel yang kukenal sejak kecil. Tak pernah ingin menyulitkan kami. Andai ia diberi pendengaran yang sempurna, mungkin ia akan menjadi terlalu sempurna bagi kami. Itulah sebabnya, kenapa Allah takdirkan ia dengan keterbatasan pada pendengarannya. Agar kami tidak menjadi hambaNya yang lupa diri. Masyaallah, Allah begitu menyayangi kami.

Keesokan harinya, aku menghubungi salah satu orang dari Hearing Center yang sering kali kuajak berkonsultasi. Meminta saran beliau mengenai langkah-langkah yang harus kami lakukan terkait keluhan Azel terhadap pendengarannya. Dan kami disarankan untuk melakukan Audiometri Nada Murni, kemudian melanjutkannya dengan pemeriksaan Tympanometri. Setelah itu kembali melakukan FFT, dan berkonsultasi dengan dokter yang ahli mengenai hal ini. Dokter yang 8 tahun lalu membacakan hasil pemeriksaan BERA putri kami.

Semua tahapan itu kami jalani dengan hati berdebar. Berbagai kemungkinan mulai kami pikirkan. Kami berusaha kembali menguatkan hati. Setelah sempat beberapa tahun terakhir merasakan kebahagiaan memuncak terkait perkembangan pesat kemampuan respon dengar putri kami, dan perkembangan pesat kemampuannya berkomunikasi verbal 2 arahnya.

Termasuk kemampuannya mengikuti pelajaran dengan baik, di sebuah sekolah umum Negeri. Yang jumlah siswanya  lebih dari 50 org dalam satu kelas.

Hasil Tes Audiometri Nada Murni menunjukkan adanya penurunan respon dengar. Namun kami tetap harus mensyukurinya, karena hasil tympanometrinya masih menunjukkan hasil yang baik. Meski tak sebaik sebelumnya.

Untuk memastikan penurunan respon dengar itu, kami mengulangnya hingga berulang kali. Kurasa kami melakukannya hingga lebih dari 3x, karena merasa penasaran dan betul-betul memastikan semuanya. Dan pemeriksaan itu dilakukan hingga di 2 tempat yang berbeda. Di Cikini dan CTEC (Cochlear Training and Education Center) Lebak Bulus. Keduanya masih Hearing Center yang sama, namun unit alat yang berbeda. Untuk lebih meyakinkan diri kami. Hanya itu tujuannya.

Setelah hasilnya benar-benar menyatakan penurunan respon dengar yang tidak mungkin bisa dikembalikan lagi ke posisi sebelumnya, aku kembali merasa terpukul. Jangan tanyakan bagaimana rasanya mendengar diagnosa ke sekian sekian tentang kehilangan pendengaran. Duniaku serasa kembali runtuh diterpa gempa susulan.

Teringat kembali pertanyaan Azel padaku, “Apakah kali ini aku benar-benar kehilangan pendengaran telinga kiriku? Apakah telinga kiriku benar-benar takkan pernah lagi bisa mendengar? Bagaimana dengan sekolahku nanti Mah?”

Selama ini putriku memang sangat tergantung pada sepasang ABD-nya. Ia sudah bertahun-tahun memaksimalkan pemanfaatan sepasang alat bantu dengar itu. Kami bahkan memiliki 3 pasang alat yang berbeda tipe untuk memenuhi kebutuhan pendengarannya. Dan kami tak bisa membayangkan bagaimana  jika telinga kirinya tak dapat lagi dibantu dengan ABD.

Sengau… Ya, tiba-tiba saja suaranya kian hari kian terdengar sengau. Artikulasi (kejelasan pengucapannya) nya semakin menurun. Beberapa huruf terdengar tak begitu jelas diucapnya. Dan semakin nampak begitu jelas penurunan kualitas suaranya, ketika ia mengalami penurunan respon dengar yang kedua di awal Maret 2016.

Mengaji, adalah salah satu kegiatan rutin yang kami lakukan sejak usianya 5 tahunan. Kami melakukannya bukan hanya sebagai kewajiban memperkenalkan ayat suci agama kami kepadanya. Namun juga, memperkenalkan membaca Al-Qur’an juga salah satu upaya kami melatih respon dengar dan kualitas artikulasinya.

Saat penurunan respon dengar terjadi, dan kualitas artikulasinya saat berbicara menurun, semakin terdengar jelas ketika ia membacakan beberapa penggalan ayat Al-Qur’an. Ia tak lagi mampu membacanya dengan suara yang terdengar terang dan jernih. Beberapa makhorijul kurang tepat diucapnya. Dan itu semakin menambah kesedihanku. Satu hal yang mampu menghiburku, kebiasaan bertilawah tak henti dilakukannya setiap hari.

Ternyata, suaranya yang kian hari kian terdengar sengau itu merupakan salah satu efek dari ketidakmampuan salah satu telinga dalam mendengar. Karena sebenarnya suara yang keluar, merupakan gambaran bagaimana ia mendengar suara yang masuk melalui pendengarannya. Sounds in = Sounds out, begitulah prinsip dalam pendengaran dan produksi suara kita menurut para ahli. Suara yang didengar = suara yang dikeluarkan. Hal ini baru kuketahui setelah mempertanyakannya pada beberapa speech therapist juga AVTist.

Untuk itulah, akhirnya kami membujuk putri kami Azelia, agar mau mempertimbangkan pemasangan implant untuk telinga kirinya. Agar ia kembali dapat kembali menyeimbangkan pendengaran di otak pusat bahasanya. Mengurangi bahkan menghilangkan suara sengaunya, dan kembali mendengar ia berkata dengan suara yang jernih sebagaimana sebelum mengalami penurunan respon dengar.

Apakah begitu implant terpasang semua selesai begitu saja? Tidak seinstant yang dibayangkan. Meski kuakui harga implant bisa mencapai hingga 350 – 700 juta untuk satu telinga, hasilnya tak dapat kita nikmati secepat itu. Ada proses panjang yang harus kita lalui sebelumnya. Dan untuk Azel, semua harus kembali berulang. Meski ia sudah begitu menguasai verbal. Ia harus kembali melatih pendengarannya dari awal lagi. Melatih mendengar bunyi ling six sounds, dari jarak 30 cm hingga 3 – 6 meter. Melatih kembali mendengar kosakata, melakukan mapping (penyettingan alat implant) berulang kali, melatih kembali auditory memory, dan sebagainya.

Sebuah alat pendengaran, secanggih apapun itu. Tetap harus melalui proses habilitasi (pembiasaan penggunaan), dan adaptasi (pembiasaan untuk menemukan titik kenyamanan). Agar dapat mengenal cara kerjanya, dan tau apa yang didengarnya. Selain itu, untuk memastikan pula ketepatan mengenai apa yang seharusnya ia dengar.

Bayangkan, jika seseorang mendengar tak sesuai dengan apa yang diucapkan seseorang. Betapa fatal akibatnya kemudian. Akan terjadi kesalahpahaman yang mungkin akan memunculkan beragam permasalahan. Bahkan, bukan tak mungkin, bisa berujung pada terjadinya perpecahan. Hanya karena salah dengar, atau salah tafsir tentang apa yang didengar.

Itulah sebabnya, kenapa proses habilitasi penggunaan Alat Bantu Dengar atau Implant Koklea begitu penting. Itu juga sebabnya kenapa melatih pendengaran dan pemahaman bahasa bagi mereka, sangat berperan bagi kebermanfaatan alat pendengaran.

Teknologi, hanyalah pembuka jalan di awal perjuangan. Bukan akhir dari suatu pencapaian. Pada tulisan berikutnya, akan kuceritakan bagaimana proses habilitasi dan adaptasi yang dilalui putriku pasca operasi. Semua yang kutulis ini, tak lebih sekedar berbagi cerita berdasarkan pengalaman yang sudah kulalui bersama putriku Azelia.

Menggunakan dua teknologi yang berbeda cara kerja, bukanlah perkara mudah. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Azel untuk mengadaptasikannya. Manakah alat yang seharusnya dijadikan tumpuan dalam mendengar, jika putri kita mengenakan 2 alat pendengaran yang berbeda teknologi?

Bagaimana cara melatihnya? Apa saja yang harus dilakukan untuk merealisasikannya? Lantas, apa saja keuntungan dari penggunaan Bimodal Hearing? Semua akan coba kuceritakan pada tulisan berikutnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkannya. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑