Mendengar dengan Dua Telinga, Lebih baik.

Beberapa alat bantu dengar dan fm system yang pernah dipakai Azelia sebelum menjalani operasi implant koklea.

Part 1_Binaural Hearing.

Menerima kenyataan putri pertama kami terlahir dengan kondisi tunarungu, awalnya terasa begitu berat. Bahkan sangat berat. Namun seiring berjalannya waktu, rasanya tiada putus hati ini mensyukuri apa yang telah Allah karuniakan kepada kami. Ada begitu banyak pelajaran berharga yang dapat kami petik dari takdir yang Allah anugerahkan kepada kami. Begitu beragam, dan penuh warna. Turut memperkaya kami dengan pengalaman – pengalaman baru yang menakjubkan. 

Putri kami Azelia, memiliki banyak pengalaman terkait dengan keharusannya menggunakan alat bantu pendengaran. Bagaimana tidak, ia mengenakannya di usia yang masih sangat belia. Pertama kali ia mengenakan alat bantu dengar,  adalah ketika usianya masih kurang dari 3 tahun. Hingga saat ini, usianya menginjak 17 tahun. 

Penurunan respon dengar pertama yang kemudian dialaminya di akhir tahun 2015, dan penurunan respon dengar kedua yang kembali harus dialami di awal maret 2016, turut memberikan warna baru dalam kehidupan mendengarnya. Membuat pengalamannya menjadi semakin beragam. Karena akhirnya, ia mengalami hal baru yang tak pernah sekalipun terbersit dalam benaknya.

Sejak lahir, dunianya sunyi tanpa suara. Awalnya kami tidak mengetahuinya, hingga kemudian kesunyian itu terdiagnosa melalui tes BERA. Dari hasil pemeriksaan itulah barulah kami tahu, bahwa putri pertama kami ini harus dilengkapi dengan alat bantu dengar, agar dapat mendengar dan berbicara seperti kita.

Kemudian Azelia kami lengkapi dengan sebuah alat bantu dengar di telinga kanannya. Karena baru sebatas itulah kemampuan kami pada saat itu. Itupun kami hanya mampu membelikan sebuah alat bantu dengar kualitas menengah, yang hanya 2 chanel seharga 4,5 juta. Yang menurut kami ‘sangat mahal’.

Sebetulnya kami ingin sekali membelikannya sekaligus sepasang. Tapi kemampuan finansial kami pada saat itu masih sangat terbatas. Lagipula, kami belum begitu yakin, apakah alat bantu dengar tersebut akan mampu membantu keterbatasan pendengaran pada putri kami, ataukah tidak. Satu hal yang pasti yang kami tahu adalah, kami harus mampu memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang datang. Sekecil apapun itu, untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal.

Secara perlahan, atas kehendak Allah, putri kami mulai memperlihatkan hasil dari ikhtiar yang kami jalani. Akhirnya ia mampu memanggilku mamah, mampu memanggil ayahnya, meminta ‘mimi’ atau ‘mium’ untuk ‘minum’, ‘mam-mam’, ‘ma-am’ atau ‘ma-an’ untuk kata ‘makan’, ‘oi’ untuk kata ‘roti’, ‘au’ untuk ‘mau’ atau ‘tahu, ‘aam’ untuk ayam, dsb. Dan kami semakin dibuat semakin penasaran pada saat itu. Dalam benak kami terbersit pertanyaan… Jika alat yang digunakan sepasang, bukan hanya satu. Akankah hasilnya semakin baik? Akankah perkembangan wicaranya mampu meningkat lebih pesat lagi? Dan begitu banyak pertanyaan lainnya, yang membuat kami semakin bersemangat untuk kembali mengikhtiarkan yang terbaik bagi putri kami.

Pemakaian alat bantu dengar, meski baru satu telinga dengan derajat gangguan dengar 70 dB. Kemudian dilengkapi dengan serangkaian terapi wicara yang berlangsung selama 3 kali seminggu, serta pendampingan yang nyaris sepanjang waktu sepanjang putri kami terjaga, adalah hal-hal yang kami lakukan saat itu. Hingga hasilnya mulai nampak setahun kemudian. Memacu kami untuk terus mengejar ketertinggalan dalam kemampuan verbal putri kami. 

Terkait dengan capaian-capaian dalam kemampuan mendengar dan kemampuan verbalnya, kemudian kami melengkapi putri kami dengan sepasang Alat Bantu Dengar (ABD) sejak tahun 2008. Sejak itulah putri kami menjadi seorang anak pengguna sepasang alat bantu dengar (Binaural Hearing). Telinga kanan, di lengkapi sebuah ABD 2 channel, telinga kiri dilengkapi ABD 4 channel. Seri Go Power dan Go Pro Power dari Oticon.

Kami berharap, kemajuannya dalam berkomunikasi verbal dapat meningkat lebih pesat lagi setelah menggunakan sepasang Alat Bantu Dengar. Hal itu kami harapkan, setelah kami memperhatikan kemajuan mendengar dan bicaranya di setahun pertama, dengan sebuah alat bantu dengar saja.

Apa yang kami harapkan menjadi kenyataan. Perlahan tapi pasti, respon mendengar, kemampuan verbal juga kualitas artikulasinya mengalami peningkatan yang luar biasa. Demikian pula kemampuannya dalam berkomunikasi 2 arah. Tanpa harus menengok untuk memperhatikan pergerakan bibir lawan bicaranya, ia sudah bisa merespon isi pembicaraan. Sejak saat itulah, bercakap-cakap dengannya terasa sangat mengasyikkan.

Secara perlahan, putri kami yang terlahir tunarungu ini menjadi seorang anak yang sangat kritis. Banyak bertanya, dan selalu sibuk bercerita tentang banyak hal. Tak jarang pada moment seperti inilah, kami lupa pada keterbatasan pendengaran yang menjadi bagian dari hidupnya.

Manusia itu terkadang menjadi makhluk yang serakah. Itu pula yang melingkupi perasaan kami pada saat itu. Perbedaan jumlah channel pada alat bantu dengar yang dimilikinya, serta perkembangan pesat yang berhasil dicapainya, membuat kami ingin kembali meraih capaian yang lain. Memacu kami untuk mengejar ketertinggalan lainnya. Kami ingin, putri kami mampu bersekolah di sekolah umum. Apakah ini sudah saatnya? Begitu pikir kami pada saat itu.

Berbagai persiapan kami lakukan. Sebagai seorang ibu yang kerap kali menemaninya belajar dan beraktivitas di rumah,  aku mulai mengevaluasi semua hal terkait kemampuan mendengar, wicara dan pemahaman bahasanya. Termasuk juga kemampuan akademiknya.

Aku dan suami, mulai berpikir untuk membelikan sepasang alat bantu dengar baru yang sama kualitasnya, antara telinga kanan dan telinga kiri. Kami juga ingin kualitas alat bantu dengar yang akan kami beli kemudian, berada diatas alat bantu dengar sebelumnya.

Bukan hanya itu saja, aku juga membujuk suamiku agar berkenan membelikan seperangkat fm system untuk putri kami. Sebuah perangkat alat pelengkap ABD, yang berfungsi memperjelas suara guru yang mengajar di depan kelas. Agar anak pengguna ABD tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik, tanpa harus terganggu suara background noise di dalam kelas.

Ini merupakan salah satu persiapan yang kurancang, agar Azelia putri kami tetap dapat belajar dengan baik saat bersekolah di sekolah umumnya nanti. Meski ia ‘berbeda’ kondisi pendengarannya dari teman lain pada umumnya, ia tetap harus mampu mengikuti pelajaran dengan baik saat belajar di kelas. Menyediakan teknologi pendengaran yang mampu memenuhi kebutuhan pendengarannya, merupakan satu syarat mutlak yang harus kami penuhi. 

Menjual mobil pribadi, dan menggunakan sebagian uangnya untuk membeli sepasang alat bantu dengar baru dengan kualitas yang sama antara telinga kanan dan kiri, plus seperangkat fm system (sebuah transmitter yg dilengkapi microphone mini untuk digunakan guru, serta sebuah receiver mini yg dilekatkan pada ABD putri kami). Dana yang kami keluarkan saat itu sekitar 45 juta. Hanya untuk membuat putri kami tetap merasa nyaman mendengar, ketika belajar di sekolah umumnya nanti.

Di tahun ajaran 2010 – 2011, putri kami Azelia, akhirnya berhasil lolos testing persiapan masuk SDIT, dengan hasil memuaskan. Rasanya dana yang sudah kami keluarkan untuk memenuhi kebutuhan pendengarannya terbayar sudah. Ia mampu mengejar satu lagi ketertinggalannya.

Bukan hanya itu saja, di tahun yang sama, akhirnya kami bisa melihatnya mampu membacakan bacaan- bacaan sholat, mendengarnya membacakan doa-doa pendek, dan mendengarnya membacakan  hapalan beberapa surah pendek dari juz 30, serta mendengarnya membacakan Iqro’ 1.

Di tahun itu pula kami menerima secarik kertas yang berisikan pernyataan, bahwa putri kami dianggap sudah mampu mengikuti pelajaran secara inklusif di sekolah umum.

Kami berdua, kedua orang tuanya mengamati bahwa perkembangan kemampuan berbahasa Azel memang mengalami peningkatan luar biasa, semenjak ia menjadi pengguna binaural hearing.

Azelia kecil yang mampu merespon pertanyaan secara verbal tanpa menoleh dan mencari sumber suara, merupakan hal yang kami tangkap dari penggunaan sepasang alat bantu dengar.

Dan ternyata, memang para ahli menyatakan hal itu. Bahwa penggunaan dua alat bantu dengar memang pada kenyataannya sangat membantu seorang anak tunarungu mampu melokalisasi dan memperjelas suara yang didengarnya. Sehingga ia akan mampu merespon apa yang diucapkan oleh seseorang, tanpa harus menoleh untuk mencari sumber suara.

Perkembangan dan kemajuan pesat Azelia putri kami dalam mendengar dan berbicara, membuat kami semakin memprioritaskan kebutuhan pendengarannya. Agar ia semakin semangat dalam belajar dan beraktivitas, layaknya anak lain pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan memiliki banyak potensi. Terkadang kami lupa, bahwa sebetulnya ia adalah putri kami yang memiliki keterbatasan dalam pendengarannya.

Pindah dari Medan ke Karawang, membuat Azel kembali harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sekolah baru, dan teman-teman baru. Ia kembali melanjutkan sekolahnya di kota Karawang. Di kota inilah pencapaian baru kembali diraihnya.

Ia terbukti mampu bersaing dengan anak-anak lain pada umumnya dalam hal kemampuan akademik. Selalu masuk peringkat 10 besar di kelas. Kemampuan berkomunikasinya-pun meningkat pesat. Semakin terdengar natural, dan kami kembali terpacu untuk kembali menyediakan alat pendengaran baru sesuai kebutuhannya.

Pilihan kami jatuh kepada ino pro power dan safari 600 SP. Aku lupa berapa harga sebuah ino pro power. Safari 600 SP seingatku saat itu sekitar 16 juta. Harga yang sungguh tidak murah. Tapi nyatanya, lagi-lagi itu sebanding dengan pencapaian baru yang diraih putriku. Prestasinya semakin meningkat. Aku yakin, ini karena putri kami selalu ditunjang dengan teknologi pendengaran yang sesuai dengan kebutuhan pendengarannya.

Selain berusaha menyediakan kebutuhan alatnya secara rutin per 5 tahun sekali, kami juga memperhatikan settingan alatnya. Tiap 4 – 6 bulan sekali kami lakukan FFT rutin. Lalu memperhatikan audiogramnya, dan menyesuaikan settingan alat sesuai hasil FFT (Free Field Test) terbaru. Tidak lupa pula kami menginformasikan huruf apa saja yang kami rasa harus kami ulang mengucapnya, agar frekwensi yang diubah bisa semakin tepat sasaran. Begitulah cara kami mengawal proses intervensi putri kami. Bukan hanya sekedar membelikan dan memakaikan alatnya saja, tetapi juga turut mempelajari dan mendampingi setiap prosesnya.

Sebuah teknologi buatan manusia, sungguh jauh berbeda dengan buatan Allah Yang Maha Sempurna. Ada kalanya rusak, atau berkurang kinerjanya. Itu sebabnya penggantian rutin alat bantu dengar, merupakan sesuatu yang harus kami perhatikan. Menjadi satu kebutuhan khusus yang senantiasa harus kami sediakan, untuk menunjang masa depannya. 

Azel juga bercerita bahwa dengan menggunakan sepasang alat pendengaran, ia merasa lebih nyaman ketika mendengar. Tidak merasa lelah ketika harus beraktivitas ataupun belajar di kelas. Hal inipun disampaikan oleh dr. Madhita Kasoem dalam uraiannya pada webinar yang mengupas tuntas tentang mendengar dengan 2 telinga.

Ketika pendengaran anak kita harus bergantung pada sebuah teknologi, maka menyediakan kebutuhannya adalah satu keharusan. Rezeki Allah begitu luasnya, sudah diatur sedemikian rupa untuk ummatNya. Terkadang, ada hal di luar nalar, yang membuat kita mampu menyediakannya untuk mereka.

Tak usah mengeluhkan lagi berapa yang sudah kita keluarkan untuk mereka. Perhatikan saja bagaimana Allah mencukupkan rezeki kita untuk memenuhinya, dan lihat keajaiban demi keajaiban yang Allah hadirkan dibaliknya. Rasa syukur yang tiada henti, hanya itu yang akan muncul di hati, pikiran dan bibir kita.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi ketika mendampingi masa intervensi Azelia, putri kami yang terlahir tunarungu di kedua telinganya. Dilengkapi dengan hasil mengikuti pelatihan AVT for parents, yang diadakan oleh Yayasan Aurica – Surabaya, serta webinar yang diadakan Kasoem Hearing & Speech Center mengenai Mendengar dengan 2 Telinga, Lebih Baik.

Terima kasih kepada Ibu Sinta Nursimah, Pak Sri Gutomo, Yayasan Aurica, juga Dr. Madhita Kasoem, dan Kasoem Hearing & Speech Center, atas tambahan pengetahuannya yang turut menambah wawasan dan pengetahuan saya seputar ketunarunguan dan proses intervensinya. Semoga sharing cerita yang saya tuliskan ini, bisa bermanfaat bagi kita semua.

Di part kedua nanti, saya akan menceritakan kembali proses intervensi kedua Azel pasca operasi implant koklea di telinga kirinya. Apakah ia akhirnya hanya menggunakan 1 alat pendengaran, ataukah 2 alat pendengaran. Bagaimana proses yang harus dilalui untuk mampu menyeimbangkan pendengaran dengan teknologi berbeda dalam 1 kepala, apa saja kelebihan dan kekurangannya, bagaimana mengatasinya, dan sebagainya. Semua akan saya ceritakan di part 2 tulisan ini. 

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑