Bimodal Hearing, Pendidikan, Masa Depan dan Tantangannya.

Perangkat Alat Pendengaran yang pernah dan masih digunakan Azel untuk mensupport kebutuhannya akan pendidikan. 

Ketika menyaksikan putriku harus tergantung pada baterai, sound processor implant koklea, dan alat bantu dengar hanya untuk mendengar…. Ada rasa sedih terbetik jauh di relung hati.

Tapi ketika ingat apa yang sudah dicapainya sejauh ini, dan ingat betapa saat ini dia merasa tenang dan bahagia menikmati kehidupan pondok dengan alat – alat pendengaran yang merepotkan ini, yang tersisa hanya rasa syukur yang tiada henti. Sebab investasi yang kami berikan padanya saat ini bukan lagi sekedar investasi suara, atau investasi verbal semata. Tapi juga investasi akhirat.

Setiap kata yang terucap dari bibirnya, yang dulu begitu sulit mengajarkannya, kelak bukan sekedar kata biasa. Karena dia saat ini sedang mengisinya dengan lebih dari sekedar kata.

“Mamah, sebentar lagi aku ujian. Mohon do’anya ya mah, semoga dilancarkan. Aku hanya pakai sound processor kiri sekarang. Alat bantu dengar kanan sepertinya sering feed back, aku terganggu dengan suara feedback itu. Jadi tidak kupakai alat bantu dengar kanannya. Tapi, mamah tidak usah khawatir, Alhamdulillah aku sudah merasa cukup jelas mendengar meski hanya dengan telinga kiri saja. Minta do’anya dari ayah, mamah dan adik – adik. Semoga aku dimudahkan dalam menghadapi ujian semester 1 ini “.

Tak ada nada gelisah, khawatir, ataupun cemas dalam irama bicaramu saat itu.
Kamu bisa bersikap setenang itu nak, meski akan menghadapi ujian, dan hanya mengandalkan pendengaran telinga kiri saja. MasyaaAllah……..
Semoga Allah mudahkan dan lancarkan segala sesuatunya untukmu disana. Aamiin. Selamat belajar, selamat berjuang, enjoy your hearing journey @ Pondok Gontor Putri 1.

#Azelia #Hearinglosschild #Profoundhearingloss #Bimodalhearing #Hearinglife #Hearingjourney #PondokDarussalam #Gontorputri1

“Hearing loss isn’t about the ear. It’s all about the brain.” #CarolFlexer#

Allah Maha Kuasa, Allah Maha adil, Allah Maha segalanya. Lantas, apa lagi yang kita takutkan?
Cukuplah Allah bagiku. Titip Azel Ya Allah…. 🙏🙏🙏😌

Dari Azel aku belajar, betapa Allah begitu luar biasa. Menciptakan indera pendengaran pada manusia dengan begitu sempurna. Setiap bunyi dan huruf yang kita dengar, ternyata berada di frekwensi yang berbeda – beda, dengan decible yang juga tidak sama. Alat Pendengaran Azel bahkan harus di setting tiap frekwensinya, agar bisa mendengar semua huruf dari a sampai z. Dari alif sampai ya’.
MasyaaAllah….

“Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Pendengaran yang Allah karuniakan kepada kita adalah harta berharga yang kita miliki. Gerbang masuknya pengetahuan, selain dari nikmat penglihatan. Dengan semua itulah kita bisa mencari ilmu dunia dan akhirat. Sudah sepatutnya kita mensyukuri dan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk mencari ilmu sebanyak banyaknya. 

Itu pula yang mendasari kami mengusahakan berbagai cara untuk mengembalikan semangat Azelia putri kami, ketika dia mengalami penurunan respon dengar. Yang mengakibatkan turunnya minat membaca dan belajar Azel. Kami mengajaknya mempertimbangkan upaya penanaman implant koklea untuk membantu pendengarannya. Kami ikhlas, ketika harus merelakan sebuah rumah di lokasi yang sangat strategis di kota Karawang untuk merealisasikan hal ini.

Menjual rumah hanya agar dapat menyaksikan putri kami kembali bisa mendengar, kembali semangat membaca buku dan belajar. Karena tau betul bahwa di balik kesunyian yang dirasakannya, dia seorang  anak dengan kemauan yang kuat untuk mempelajari sesuatu. Sayang, kalau kemauan yang dimilikinya itu harus meredup untuk kemudian padam secara perlahan, hanya karena tak mampu mendengar.

Apalah artinya memiliki lebih dari satu rumah jika kami tak dapat mengantarkan putri kami meraih masa depannya.

“Ilmu, adalah warisan yang jauh lebih berharga dari sekedar harta”.

Harta bisa dicari, namun waktu dan kesempatan takkan pernah terganti. Tanpa membuang waktu, kami memilih implant koklea sebagai satu solusi. Investasi suara yang akan sangat berharga bagi masa depan putri kami. Dia akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya dengan itu semua.

Saat itu, tahun 2016 – 2017, satu set implant koklea N6 ada di kisaran harga 300 jutaan untuk satu telinga. Seharga satu unit mobil baru dari dealer mungkin. Itulah harga pendengaran sebuah telinga dengan teknologi implant koklea. Betapa mahal, dengan segala keterbatasannya. Harus di setting dalam kurun waktu tertentu, karena bisa berubah sekali waktu. Tidak seperti telinga yang Allah ciptakan. Sudah sempurna dan mampu digunakan untuk mendengar berbagai suara, tanpa harus di setting ulang .

Harga ratusan juta itu, adalah harga awal untuk sebuah investasi suara, investasi pengetahuan, dan pastinya investasi masa depan bagi seorang tunarungu yang memilih teknologi implant koklea sebagai solusi. Selanjutnya, tentu saja tidak semahal itu. Hanya harus merawat alat dengan baik dan mengganti  beberapa suku cadang secara rutin dalam kurun waktu tertentu. Seperti baterai, kabel coil, mic protector, hook, dsb. Alhamdulillah Allah Maha Kuasa. Memberikan apa yang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan pendengaran Azel. Rasanya semua dimudahkan. Rezekinya selalu ada saja. MasyaaAllah….

Bagaimana dengan kita yang sudah diberi Allah pendengaran dan penglihatan yang begitu sempurna. Sudahkah kita memanfaatkannya dengan baik?”

Tak ada sedikitpun sesal melepas sebuah rumah, ketika kami melihat Azel kembali semangat belajar. Meski sempat agak melemah di tahun pertama SMP, karena kasus bullying yang dihadapinya.

Kasus bullying yang Azel hadapi saat tahun pertamanya di SMP saat itu, memang termasuk yang terberat. Dari berbagai kasus bullying yang pernah dihadapinya selama 6 tahun bersekolah di SD umum. Karena dampaknya begitu terlihat jelas. Bullying yang terjadi saat itu mengakibatkan kondisi psikis Azel tertekan begitu hebat.

Putriku saat itu tak berani menatap lawan bicara ketika berkomunikasi verbal, tak seperti biasanya. Dan ketika ditanya sesuatu hal jawabannya tidak connect. Aku bertanya ke barat, dijawabnya ke timur. Benar – benar kacau. Rasa percaya dirinya terjun bebas. Tak seperti Azel yang kukenal. Tiba – tiba aku seperti tak mengenali putriku sendiri.

Hampir setiap tiba saatnya berangkat sekolah, dia selalu bertanya. “Aku harus bersikap bagaimana jika ketemu temanku yg suka membully aku itu? Setiap kali berpapasan dengannya jantungku berdebar kencang mamah. Aku takut…. Dia selalu mengeluarkan kata – kata kasar setiap bertemu. Padahal dia juga sering memintaku menjelaskan pelajaran yang tidak dimengertinya. Dan aku selalu membantunya. Menjelaskan hingga dia betul-betul paham. Tapi setelah itu, saat jam istirahat, ketika berpapasan kata – kata kasarnya untukku kembali terdengar. Aku kira setelah kubantu dia akan bersikap lebih lembut padaku. Ternyata sama saja”.

Saat mendengar ceritanya, aku merasa sakit hati. Terbayang olehku apa yang dirasakannya. Terlebih ketika memperhatikannya seperti orang yang was – was, nampak ketakutan dan gelisah hampir sepanjang waktu. Yang paling menyakitkan adalah…Azel yang biasanya bersemangat dalam belajar,  tak lagi nampak begitu. Tak lagi kulihat bergairah untuk membaca buku. Betul – betul tak seperti Azel yang kukenal. Berubah total.

Aku menangis di saat dia tertidur di malam hari. Rasanya hatiku ikut hancur bersamaan dengan kehancuran hatinya. Tak mudah buatku membuat Azel memiliki rasa percaya diri. Butuh waktu bertahun – tahun membuatnya mampu berkomunikasi verbal dengan sangat baik. Setiap huruf yang terucap darinya penuh perjuangan. Dan saat itu kulihat semuanya kacau. Benar – benar kaccau. Rasanya sakit hati saja tak cukup untuk menggambarkan apa yang aku rasakan saat itu.

Kami memindahkan sekolahnya saat itu, karena Azel memintanya. Aku hapal betul dengan sikap putriku. Dia takkan meminta sesuatu ketika merasa masih sanggup menghadapinya. Jika dia sudah meminta sesuatu yang di luar kebiasaannya, itu artinya dia betul – betul tidak sanggup.

Akhirnya kami mengikuti apa yang diinginkannya memindahkan sekolahnya. Azel meminta dipindahkan ke sebuah SMP Islam yang masih ada pelajaran B. Arab, Fiqih, Akidah Akhlak, Al Qur’an hadits, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Seperti sekolah sebelumnya. Karena dia memang sangat menyukai pelajaran – pelajaran tersebut.

Jarak sekolah SMP sebelum dia pindah hanya sekitar 2 km dari rumah. Jarak yang begitu dekat sebetulnya. Tapi dia sampai mengalami guncangan psikis begitu hebatnya. Jarak sekolah yang ditujunya kemudian lebih jauh, kurang lebih 9 km dari rumah dengan beberapa titik kemacetan yang harus kami lalui. Sebelum memindahkannya, aku kembali mengajak Azelia berbicara. Kucoba mempertanyakan kesiapannya untuk menjalani suasana baru di sekolah baru, dengan beragam konsekuensinya terkait dengan jarak yang harus ditempuh. “Jarak yang jauh, dengan beberapa titik kemacetan yang harus dilalui. Apakah kamu yakin bersedia berangkat sekolah jauh lebih pagi dari sebelumnya, dan sampai di rumah lebih sore dari sekolah sebelumnya?” Kuberikan gambaran tentang kemungkinan rasa lelah yang akan dirasakannya. Dan dia tetap pada pendiriannya. Bersedia menerima semua konsekuensinya, yang penting segera pindah dari sekolah lama.

Rasanya masa – masa itu, tahun 2016 – 2018 merupakan puncak masa yang betul – betul menantang bagi Azelia putri kami. Menjual rumah, pindah domisili, adaptasi dengan sekolah baru, menjalani operasi implant koklea di bulan Januari 2017, mempersiapkan UN dengan telinga lain dgn hanya mengandalkan alat bantu dengar sebelum switch on implant, menjalani UN SD, masuk ke SMP mengalami bullying hingga tertekan psikisnya, akhirnya pindah sekolah dan kembali memulihkan kondisi psikisnya.

Di sekolah sebelumnya, mid semester semester 1, dia sudah berhasil mendapat peringkat 1 dari 20 siswa. Bukan tanpa sebab, itu adalah upayanya membuktikan diri pada teman – temannya bahwa tak seharusnya mereka meremehkan, hanya karena sepasang alat bantu pendengaran yang digunakannya. Masih kuingat kata – kata Azel…”Mereka membullyku mah, mungkin karena aku belum memperlihatkan prestasi terbaikku. Aku belum mendapatkan peringkat terbaik di kelas, dan belum pernah mempersembahkan medali emas untuk kejuaraan karate yang kuikuti. Mungkin jika aku dapat memperoleh prestasi terbaik itu, mereka akan berhenti membullyku”. Tak lama setelah dia berkata seperti itu semua yang dikatakannya terpenuhi. Azel mendapat dua medali emas sekaligus dalam dua kelas pertandingan di sebuah turnamen karate, dan memperoleh peringkat 1 di kelas. Tapi nyatanya, bullying itu tetap terjadi. Dan justru semakin parah.

Kami hampir membawanya berkonsultasi ke seorang psikolog atau psikiater. Tapi ayahnya berkata, sebelum mencoba hal tersebut, kami berdualah yang harus memulihkannya. Mengajaknya berkomunikasi sesering mungkin, menemaninya hampir setiap saat,  menghibur dan membesarkan hatinya, serta mengajaknya bertukar pikiran sesering mungkin. Mencoba mengambil hikmah dari kejadian buruk yang menimpanya dan mengupasnya satu demi satu. Dan berupaya mengambil hikmah dari kejadian itu.

Butuh waktu lebih dari 3 bulan kami mengembalikan kondisinya untuk kembali mau menatap lawan bicara ketika berkomunikasi. Butuh waktu hampir setahun kami memulihkan rasa percaya dirinya. 

Bullying yang terjadi, mungkin merupakan  skenario yang Allah hadirkan, untuk menempa Azel menjadi seorang anak yang jauh lebih tangguh dari sebelumnya. Sekaligus menempa kami orang tuanya, agar terus ikhlas menerima Azel dengan segala kondisinya. Kami terus berusaha positif thinking menyikapi kejadian buruk yang menimpa Azel saat itu.

Setelah pindah sekolah, Azelia putri kami secara perlahan memulai lagi babak baru kehidupannya. Menyemangati diri, adalah hal yang pertama dilakukan. Kemudian mencoba memulihkan kepercayaan dirinya untuk kembali tampil di depan. Mengikuti lagi beberapa  turnamen karate dan mencoba mengikuti lomba deklamasi puisi. Begitu juga dengan prestasi akademiknya. Dimulai lagi dari awal.  Peringkat ke-7 di kelas, lalu ke – 5, hingga akhirnya berhasil meraih peringkat ke-2 di akhir tahun ajarannya di jenjang SMP.

Azelia terlihat semakin bersemangat ketika akhirnya keinginannya mencoba testing Gontor di restui oleh kami berdua, juga oleh kakek neneknya. Keinginannya untuk belajar mandiri dan jauh dari orang tua begitu besar. Sebesar keinginannya untuk mempelajari pengetahuan keislaman yang lebih luas lagi. Dikatakannya bahwa dirinya sekarang lebih siap menghadapi hal apapun yang akan terjadi. Karena kasus bullying yang sempat membuatnya tertekan itu ternyata memberikan banyak pembelajaran berharga baginya. Semakin membuatnya paham bahwa karakter orang tidaklah sama. Ada yang suka dengan diri kita, ada juga yang membenci. Karena kita tak bisa berharap semua orang menyukai kita. Dan dia semakin paham
tentang bagaimana cara menghadapi orang – orang yang mungkin tidak menyukainya.

“Sikapnya justru menjadi jauh lebih fleksibel setelah menghadapi cobaan yang begitu berat”.

Kini, melihat putri kami kembali semangat membaca buku dan belajar, juga melihat upayanya memperluas pergaulan, rasanya semua yang kami lepaskan beberapa waktu lalu, mendapat balasan yang jauh lebih baik. Jarak yang dekat tak menjamin seseorang terbebas dari kejadian buruk. Dan jarak yang jauh, juga tak menjamin seseorang akan selalu mengalami kejadian buruk. Ketentuan Allah tetap berlaku dimanapun, pada saat apapun, dalam kondisi siap atau tidak siap. Yang penting ikhlas, ikhtiar dan selalu mengingatNya dimanapun. Sehingga kita bisa siap menghadapi apapun. Intinya, itulah yang membuatku tenang melepas Azel masuk pondok yang jaraknya hingga 500 km lebih dari kota ini. Tak akan ada apapun yang akan terjadi, jika Allah tak menghendakinya. Cukup mintakan saja perlindungan dariNya. Dan jangan lupa minta agar putri kita senantiasa dikuatkan dalam beraktivitas disana.

Saat perpulangan beberapa waktu lalu, Azel turun dari bis dengan wajah ceria. Senyum tak hentinya diperlihatkan. Auranya nampak semakin memancar.Pemandangan itu rasanya cukuplah kiranya menggambarkan bahwa dia baik – baik saja, merasa bahagia dan sangat menikmati kehidupannya di pondok. Meski jarak rumah dan pondok lebih dari 500 km.

Saat sampai rumah langsung kami tanyakan padanya, apa kamu betah tinggal di pondok? Jawabannya dia betah dan sangat menikmati berbagai aktivitas disana. Meski kadang dirasa tidak mudah baginya, tapi dia bilang justru itulah keseruan yang dirasakannya. Jadi bisa memiliki banyak pengalaman. Bisa mengenal begitu banyak orang dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari beberapa negara tetangga, dengan karakter dan watak yang beragam. Pengalaman mendengarnyapun menjadi semakin kaya. MasyaaAllah…..

Do’a kami saat ini adalah… Semoga putri kami mampu menghadapi masa depannya lebih baik lagi dari sebelumnya. Semakin dikuatkan mentalnya, dan semakin bijak dalam menyikapi hal apapun yang akan terjadi di depan sana. Aamiin….

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑