
Nama yang tertulis di jilbab dan baju – baju yang dibawanya ke pondok saat itu memang terkesan tak rapi. Tidak serapi nama yang tercetak melalui mesin bordir.
Karena memang tulisan ini tercipta dari jahitan tangan. Sulaman tangan seorang ibu yang sebetulnya tak begitu mahir menyulam.
Ada begitu banyak makna dari setiap jahitan dan tusukannya.
Sulaman ini adalah gambaran keikhlasanku melepasnya. Anak yang selama ini tak pernah jauh dari sisiku. Yang saat usianya 2,8 tahun hingga 3,5 tahunan kuhabiskan dengan berlari – lari sambil menggenggam setumpuk flashcards. Berharap ia bersedia menghentikan langkahnya barang beberapa detik saja untuk mendengarku mengucap sebuah kata berikut melihat gambarnya. Berharap suatu saat dia mampu mengucapnya. Time flies……. ☺🤗😊
Setiap tusukannya adalah do’a bagi putriku. Do’a yang penuh harap dan pinta kepada Sang Khalik. Agar berkenan memudahkan dan meringankan langkahnya dalam menggapai segenap cita – cita dan harapannya. Harapan akan masa depan yang diinginkannya.
Aku tau apa yang akan dihadapi tentu tak akan mudah. Dia membutuhkan kekuatan dan energi ekstra untuk dapat mewujudkannya. Biarlah kehadiranku dirasakannya melalui sulaman sederhana bertuliskan namanya. Karena ikatan batinnya begitu lekat denganku. Apa yang dirasakannya, tentu kurasakan. Begitu juga sebaliknya.
Melepasnya dengan penuh keikhlasan setidaknya akan membuat langkahnya menjadi lebih ringan. Dia berhak akan hidupnya. Azeliaku berhak akan pendidikan yang diinginkannya. Aku tak ingin keterbatasannya membuat langkahnya tak sebebas anak – anak lain. Dia bebas merealisasikan mimpi – mimpinya. Itulah sebabnya selama ini kupersiapkan segala sesuatu untuknya.

“Kak, kalaupun mamah belum bisa menengok, mamah ada bersama kakak selalu. Kehadiran mamah diwakili sulaman ini saja ya kak. Kalau rindu mamah, doakan mamah dan lihat saja sulaman ini. Maaf kalo jahitannya berantakan. “
“Terimakasih mah, ini sulaman terindah yang aku punya. Walaupun tak serapi jahitan bordir, aku bisa merasakan mamah selalu didekatku. Buatku ini sangat istimewa. Aku suka sekali. Good idea mah. “
Semua persiapan itu kuawali sejak awal dia menggunakan sepasang alat pendengarannya. Bagaimana merawat alat dengan baik, bagaimana bersikap dan bertatakrama, bagaimana menyelesaikan setiap permasalahan, bagaimana memanaje rasa kecewa, bagaimana menyiasati keadaan, dsb. Semoga Azel menyerap apa yang kami ajarkan selama ini.
Karena sekedar lolos testing saja tidak cukup. Perjalanannya masih sangat panjang. Tentu membutuhkan strategi khusus baginya agar mampu bertahan dan mempelajari semuanya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Dan dia sedang belajar untuk itu. Tanpa kami di sampingnya. Azeliaku bukan lagi seorang anak berkebutuhan khusus yang senantiasa ada di dekat kami. Sudah saatnya dia belajar mandiri dan berdikari dengan segenap kekuatan yang dimilikinya sendiri.
Jika anak normal membaca sesuatu 1 – 3x saja sudah cukup, Azel membutuhkan pengulangan hingga puluhan kali. Kurang lebih seperti itulah gambaran saat awal menanamkan pemahaman bacaan padanya. Karena ada gap antara usia biologis dengan usia me dengar dan wicaranya. Namun seiring berjalannya waktu, pemahamannya semakin terlatih. Semakin tajam karena ketelatenannya sendiri. Semangat dan niat yang kuat, adalah kunci kemudahan baginya mempelajari semua hal yang diinginkannya.
Semoga sukses selalu untuk kakak. Dilancarkan, dimudahkan dan diringankan langkahnya dalam beraktivitas dan belajar di Pondok Darussalam Gontor Putri 1. Selamat belajar nak, selamat berpetualang dan menikmati pengalaman yang mengesankan disana. Enjoy your hearing journey in there yaa…….
Jangan lupa kabari mamah kalau perlu baterai dan sparepart untuk alat – alatnya. Jaga kesehatan dan semua alat pendengarannya dengan baik. Jangan lupa makan. Itu saja pesan mamah untuk kakak. 🤗😊🙏
Tinggalkan komentar