Bagaimana Memperkenalkan Konsep Puasa pada Anak Tunarungu?

Sejak menjelang masuk Bulan Ramadhan pertanyaan semacam ini seringkali kubaca pada postingan status di FB. Membacanya, membuatku kembali berusaha mengingat bagaimana dulu aku memperkenalkan konsep – konsep ibadah yang harus dijalani seorang muslim pada Azelia putriku yang  memang terlahir tunarungu.

Jujur, rasanya agak sulit mengingatnya. Karena semua yang kuajarkan pada Azel dalam proses intervensinya dulu, rasanya mengalir begitu Saja. Aku menjalaninya dengan proses yang jika sekedar dipikirkan, memang tidak mudah. Itu sebabnya aku berupaya menjalaninya dengan upaya nyata. Langsung dipraktekkan. Karena meyakini bahwa, meski telinganya mungkin tak mampu mendengar, putriku yang terlahir tunarungu ini memiliki naluri yang tajam.

Ketika memulai proses intervensi, aku terbiasa mengajarinya dengan cara yang ekspresif. Dimaksudkan agar mampu menarik perhatian dan  ketertarikannya untuk belajar mendengar dan berbicara. Meski itu dilakukan sambil bermain – main. Itulah yang kuingat.

Bermain tepuk tepuk, bernyanyi sambil memainkan mimik wajah atau sambil bergerak gerak memainkan tangan dan kaki, merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menarik perhatian dan minat belajarnya.

Begitu juga dengan memperkenalkan konsep Dienul Islam yang paling mendasar. Tentang identitasnya sebagai muslim yang beragama Islam, memperkenalkan Rukun Islam, Rukun Iman, sholat 5 waktu, dsb kuperkenalkan melalui tepuk atau nyanyian. Jadi, aku merasa tidak mengajarkan, dan Azel juga merasa tidak diajarkan. Kami merasa sedang bermain – main, tapi apa yg kusampaikan dapat tertanam di memorinya dengan sangat baik. Sehingga tak terlalu sulit bagiku di kemudian hari untuk memahamkan tentang apa itu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.

Berawal dari memperkenalkan identitasnya sebagai muslim, melalui tepuk.

Tepuk Anak sholeh, prok prok prok. Aku, prok prok prok,anak Sholeh. Agamaku, prok prok prok, Islam. Tuhanku, prok prok prok, Allah. Nabiku, prok prok prok, Muhammad. Kitabku, prok prok prok, Al – Qur’an. Kiblatku, prok prok prok  Ka’bah. Saudaraku, prok prok prok, Muslimin. Musuhku, prok prok prok, Syaithon.Laa ilaaha illallaah Muhammadar Rasulullah.Yes!!

Lalu berlanjut dengan memperkenalkan Rukun Islam dan Rukun Iman melalui nyanyian.

Rukun Islam yang 5, Syahadat, shalat puasa… Zakat untuk si papa, Haji bagi yang kuasa. Siapa tidak sholat, Narr!! Siapa tak bayar  zakat. Oleh Allah dilaknat, kan rugi di akhirat.

Ingat kawan, ingatkanlah selalu… Rukun iman rukun yang 6 itu. Satu iman kepada Allah… Dua iman kepada malaikat. Tiga iman kepada kitab – kitab, empat iman kepada Rasul. Lima iman kepada hari akhir….enam iman kepada takdir.

Saat pertama mendengarkan semua itu, tentu saja Azel belum bisa bereaksi. Dia tetap asik dengan mainannya…Tanpa bisa menirukan. Ketika respon pendengarannya mulai terlatih, dia menengok ke arahku. Lalu mengikuti saat aku bertepuk. Sesekali dia tertawa geli. Tetapi blm bisa ikut mengucapkan isi yang kusampaikan dalam tepukan itu. Semua teruuuus berproses. Hingga tibalah akhirnya dia mulai bambling,  lalu mulai bisa mengikuti, meski itu hanya satu suku kata di tiap akhir kata. Proses terus berlanjut secara bertahap, dan Azel mulai bisa mengikuti apa yang kuucapkan. Alhamdulillah….aku merasa senang.

Hingga tibalah saat itu. Ketika dia dengan sikap kritisnya mulai bertanya agar dapat lebih memahami apa yang dia ucapkan. Apa itu anak Sholeh? Apa itu Islam? Apa itu Nabi? Siapa itu Nabi Muhammad? Apa itu Al Qur’an, apa itu Ka’bah.

Teruuus berlanjut dengan mempertanyakan… Apa itu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Semua ditanyakannya. Dan aku berusaha keras menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin.

Ketika usianya 5 tahun, aku mulai memperkenalkannya dengan kegiatan mengaji dan shalat. Lagi – lagi aku memperkenalkan apa itu mengaji, dan apa itu shalat. Bagaimana caranya agar bisa mengaji dan mulai memperkenalkannya nama – nama  gerakan sholat. Setelah hapal nama gerakannya, barulah memperdengarkan bacaan sholatnya. Semua proses itu terus berlanjut. Hingga akhirnya dia paham apa itu sholat fardhu. Berapa waktu yang harus dikerjakan dalam sehari semalam, apa saja nama sholat 5 waktu itu dan berapa raka’at masing – masingnya. Menjadi role model sambil membahasakannya, adalah salah satu upaya paling awal dalam semua konsep tentang ibadah yang harus kita ajarkan. Untuk memancing rasa ingin taunya, aku gunakan aneka tepukan dan nyanyian.

Begitu juga dengan shalat. Dia mempelajarinya secara perlahan dan bertahap. Hingga akhirnya terbiasa dan terlatih melaksanakan sholat 5 waktu, meski masih harus diingatkan sesekali hingga usianya 15 tahunan.

Ketika tiba bulan Ramadhan. Saat usianya 5 tahunan. Dia bertanya, kenapa mamah tidak ikut makan dan minum dengannya, ketika dia makan siang. Aku katakan, “Sekarang ini bulan Ramadhan. Mamah sedang melaksanakan Rukun Islam ketiga. Azel ingat apa itu Rukun Islam yang ketiga?” Lantas dia mencoba mengingatnya. Lalu dia katakan, “Mamah sedang berpuasa”. Aku jawab, iya. Lalu kutanya lagi Azel.  “Azel ingat apa itu puasa? Mamah pernah menjelaskannya pada Azel”. Lalu dia kembali berusaha mengingatnya. Kemudian aku menjelaskannya kembali. Bahwa puasa itu tidak boleh makan dan minum kecuali pada saat sahur dan berbuka di waktu Maghrib. Saat itu juga Azel berkata. “Aku ingin belajar berpuasa. Boleh?” Aku bilang boleh. Tapi Azel barus mau dibangunkan saat sahur nanti. Dia bertanya, apa itu sahur. Lagi – lagi aku menjelaskannya. Dan dia bersedia. Sejak itulah secara bertahap Azel belajar berpuasa. Aku biasakan secara bertahap. Awalnya hanya sampai jam 10. Setelah berbuka, berpuasa lagi sekuatnya. Lalu  berbuka lagi, jika blm kuat. Ramadhan berikutnya, saat usianya 6 tahun, sudah bisa sampai Dzuhur. Hingga akhirnya dia mulai melaksanakan puasa sampai Maghrib, saat usianya 7 tahun.

Mengajarkan sesuatu pada anak tunarungu, apapun itu, memang tak jarang menghadirkan keraguan dalam hati kita.  Apakah anak kita mengerti apa yang kita ajarkan? Karena dia tidak merespon apa yang kita ucapkan. Apakah dengan diamnya itu mereka menyimak apa yang kita sampaikan? Karena jangankan bertanya, mungkin mendengarpun mereka belum tentu. Demikianlah keraguan – keraguan itu selalu membayangi pemikiran kita para orang tua. Namun sekali lagi, di dunia ini, kadang ada hal – hal tertentu yang memang di luar daya nalar kita sebagai manusia. Meski mungkin telinga mereka tak mendengar, bisa jadi hati mereka mendengar dan menyimak. Meski bibir mereka masih terkatup rapat, bisa jadi apa yang kita sampaikan sampai ke otak mereka untuk kemudian diingat. Bukankah Allah Maha Kuasa atas segala hal? Sebagai manusia, adalah tugas kita untuk menyampaikan apa yang harus kita sampaikan dan kita ajarkan pada mereka. Selebihnya, biarkanlah kuasa Allah yang membuat semuanya berproses.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk menambah ide para orang tua yang memiliki anak tunarungu. Satu hal yang pasti, saat Azel kecil dan masih dalam proses intervensi, kami, aku dan ayahnya,hanya mengajarkan sesuatu melalui cara yang sangat sederhana. Memperbanyak berkomunikasi dan interaksi dengannya. Menyampaikan segala sesuatunya dengan bahasa yang sekiranya mudah diterima anak – anak. Hingga akhirnya saat ini kami mampu mengajaknya berbicara tentang banyak hal.

Buku dan beragam bacaan lainnya, merupakan salah satu media yang sangat berjasa dalam membantu perkembangan bahasanya. Sejak kecil kami berusaha menumbuhkan minatnya agar gemar membaca.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑