
Sekitar 5 November 2020 lalu, hari itu merupakan hari terakhir ujian. Ujian saat itu merupakan ujian yang luar biasa bagi Azel dan teman – teman lainnya yang sama – sama belajar di Pondok Pesantren Darussalam Gontor.
Kenapa? Karena merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti ujian semester pertama di Pondok. Ujian pertama mereka ketika berada jauh dari orang tua. Tak ada yang mengingatkan mereka untuk belajar. Motivasi belajar untuk menghadapi ujian harus muncul dari dalam diri mereka sendiri. Dan situasi di pondoklah yang akan memantik dorongan motivasi itu.
Menjadi minoritas diantara mayoritas adalah hal yang terjadi pada Azel sejak mulai bersekolah di Kota Karawang tahun 2010, 10 tahun yang lalu. Sejak itulah di setiap masa ujian tiba, Azel justru terlihat begitu bersemangat. Karena baginya masa ujian merupakan masa penentuan. Masa pembuktian bahwa dirinya memang ‘layak’ untuk diterima di sekolah umum. Paling tidak dia merasa nilai – nilainya sudah sesuai dengan batas nilai minimal sesuai ketentuan kelas. Dan sangat beryukur jika berada di atasnya.
Sebetulnya, sejak kecil bukan nilai yang kukejar dari seorang Azelia. Dan Azel pun tau itu. Sebagai ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus, pemahaman pelajaran merupakan tolok ukur keberhasilan penggunaan alat pendengarannya.
Jika Azel mampu memahami pelajarannya dengan baik, itu berarti pemahamannya terhadap bahasa baik. Hal ini juga berarti pemahaman mengenai ‘konsep pelajaran’ yang diterimanya juga baik. Dan itu berarti alat pendengaran yang digunakannya terbukti efektif membantunya belajar dengan baik.
Beberapa keluhan Azel mengenai alat pendengarannya sempat membuatku khawatir. Selang beberapa hari pasca ujian tulis dimulai, dia bilang implantnya beberapa kali terdengar seperti mengalami ‘radio error’. Ada bunyi ‘kresek – kresek ‘ yang cukup mengganggu.
Selain itu, dia juga mengatakan bahwa ketika mendengar suara kawannya, yang notabene putri, justru terdengar seperti suara putra. ‘Ngebass’
Ini berarti ada suatu permasalahan serius terkait settingan alatnya. Dan ini tentu saja membuat kami khawatir. Namun, opini mengenai tak adanya perpulangan di bulan November itu, membuatku merasa harus membuat Azel tenang. Jangan sampai membuatnya ikut panik. Saat itu aku menginformasikan kemungkinan terburuk.
“Sabar ya kak, mamah dengar November ini tak ada perpulangan. Semoga saja April nanti ada perpulangan. Kakak harus bersabar menunggu hingga April. Sementara menunggu, kakak harus tenang. Supaya tetap bisa fokus pada pelajaran. Mamah tau itu pasti tidak nyaman. Tapi mamah yakin kakak mampu.”
“InsyaaAllah, Allah menghendaki kakak mondok disitu bersamaan dengan masa Pandemi. Pasti Allah punya rencana, dan Allah akan membantu kakak. Kakak harus yakin itu yaa. “
Padahal saat mengatakan hal itu, di dalam hati beragam kalimat dzikir terus kupanjatkan untuk menenangkan hati yang panik dan gelisah.
“Allah sudah mengatur segala sesuatunya. InsyaaAllah akan ada jalan kemudahan bagi Azel.” Begitulah kata – kata yang terus kubisikkan dalam hati ini.
Saat mendengar perkataanku, Azel berjanji akan mengikuti saranku. Berusaha tetap fokus, meski dalam kondisi tak nyaman. Dan akan berusaha keras menenangkan diri, hingga tiba saat perpulangan di bulan April mendatang.
Kami memang merencanakan melakukan mapping ulang alat implant koklea di telinga kiri, dan setting ulang alat pendengaran di telinga kanan sebetulnya memang dijadwalkan saat perpulangan bulan November itu. Namun pembatalan jadwal perpulangan, terpaksa harus membuat kami harus bersabar hingga bulan April.

Ketika aku menceritakan pada ayahnya mengenai isi percakapan dengan Azel di telepon, ayahnya memintaku untuk bertanya pada ustadzah walikelas. Apakah bisa ada kemungkinan pengecualian bagi Azel. Mengingat kondisinya yang berkebutuhan khusus. Akupun mulai merancang apa dan bagaimana menyampaikannya dengan baik agar permohonan tersebut dapat diterima.
Qodarullah, belum sempat aku menelpon Ustadzahnya, sebaris pesan di WA dari beliau mampir di HP ku.
“Bu, jika memang Azelia memerlukan izin perpulangan khusus untuk mengecek perangkat alat pendengarannya, InsyaaAllah nanti kami akan bantu mengurusnya. “
MasyaaAllah…. Tak terasa airmata meleleh saat itu juga. Kuasa Allah ini. Allah memudahkannya untuk Azel. Allaahu Akbar… Laa ilaa ha illallaaah. Alhamdulillah Ya Allah, Alhamdulillah.
Aku menangis saat itu juga, dan langsung mengabarkannya pada ayahnya.
“MasyaaAllah mah, Alhamdulillah. Kuasa Allah ini mah.”
Kami pun merespon isi pesan dari Ustadzah dengan diawali ucapan terimakasih, kemudian dilanjutkan dengan mempertanyakan perihal prosedur perpulangan khusus yang harus kami lakukan saat itu. Azel harus bersabar hingga ujian tulis usai.
Satu hal yang kami syukuri adalah, Azel tetap fight mengikuti ujian tulis dengan kondisi pendengaran yang menurutnya tidak nyaman itu dengan baik. Terbukti dengan torehan nilai di raportnya, yang ternyata hanya dua mata pelajaran saja yang ada di bawah rata – rata kelas. Artinya, dia saat itu memang berusaha keras untuk menyelesaikan ujian sebaik mungkin hingga titik akhir.
Yang membuatku semakin terkejut adalah, ketika Azel bercerita mengenai kenapa nilai dari 2 matpel itu berada di bawah rata – rata kelas.
“Saat matpel imla’, aku lupa membawa baterai cadangan di tas alat yang biasa kupakai saat ke kelas. Tiba – tiba saat ujian imla’ itu, baterai implantku habis. Otomatis suara yang kudengar akhirnya hanya bisa mengandalkan telinga kanan yang memakai alat bantu dengar biasa. Suara yang terdengar tak sejernih suara dari implant kiri. Dan tanpa bantuan alat tambahan lain. Jadi aku mendengar semampu yang bisa kudengar, dibantu dengan lips reading.” Berkaca – kaca pandanganku saat mendengarkannya. MasyaaAllah….
“Pelajaran yang satu lagi, sebetulnya itu mudah. Hanya memang aku malam harinya tak tidur dan akhirnya mengantuk saat ujian. Ada satu tanggungjawab, yang aku merasa harus kuselesaikan bersama beberapa teman lain. Alhamdulillah tugas yang dikerjakan akhirnya bisa selesai. Meski hasil ujianku nilainya seperti itu. Dibawah rata – rata kelas. Tak apa ya mah. Yang pasti semua aku jadikan pelajaran untuk semester berikutnya. Supaya lebih baik lagi mengatur waktu.”
Mendengar penjelasannya, aku hanya bisa tersenyum. Karena memang sejak kecil aku tanamkan pada Azel untuk bertanggungjawab penuh jika diberi kepercayaan melakukan sesuatu. “Jangan dibiasakan mengerjakan tugas yang diberikan setengah – setengah. Biasakan untuk menuntaskannya. Sebab, hal itu merupakan kebiasaan baik yang akan turut membentuk karaktermu.” Begitulah yang sering kusampaiksn padanya sejak kecil.
Izin perpulangan khusus di masa pandemi tidak semudah yang dibayangkan. Ada aturan ketat yang diterapkan oleh pondok. Anak kita harus melalui masa karantina sebelum akhirnya masuk lingkungan dalam pondok. Dan Azel pun melalui hal ini. Sampai dia bilang….”Rasanya kalau bukan karena harus setting alat, Azel memilih tidak ingin pulang seperti teman – teman lain. Sepertinya, justru lebih asyik menghabiskan masa liburan di pondok. Kayaknya seru. Karena aku harus setting alat, sekarang aku harus dikarantina dulu. Di kamar ini sendirian gak ada teman. Tapi gak pa pa, pendengaranku sudah siap untuk menerima pelajaran di semester 2 nanti.”
Begitulah suka duka yang kami alami di semester pertama. Pendengaran dengan alat canggih seharga ratusan juta, tetaplah memiliki keterbatasan. Harus rutin dilakukan pengecekan dan setting ulang secara berkala untuk tiap frekwensinya. Tak secanggih pendengaran buatan Allah yang sudah secara alami tersetting begitu sempurna. Kita tinggal merawat dan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Semoga saja, di semester 2 ini Azel tetap dimudahkan mengikuti pelajaran dengan baik. Mengingat disiplin bahasa yang mulai diterapkan secara intens dalam berbagai kondisi di semester ini . Termasuk ketika kegiatan belajar mengajar di kelas. Setidaknya, kami berharap putri kami mampu mengadaptasikan pendengarannya dengan baik untuk menghadapi tantangan di semester – semester berikutnya. Aamiin….
Tinggalkan komentar