Azelia, 13 tahun Usia Mendengarnya.

Dengan bantuan alat pendengaran implant koklea inilah telinga kiri Azel mendengar setiap pelajaran yang diajarkan di Pondok. (Sumber Gambar : Materi zoom meeting Perawatan Alat Bantu Dengar & Implant Koklea 6 Feb 2021. By Ruth Mariano).

Sempat ada sedikit ragu ketika mendengar putriku Azelia bermaksud melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren.  Apalagi Pondok yang diinginkannya ini bukanlah  Pondok pesantren biasa.  Pesantren yang ditujunya adalah sebuah pesantren yang dikenal dengan pendidikan disiplinnya yang luar biasa.  Dan untuk dapat lolos testing di pesantren tersebut, memerlukan upaya ekstra. Karena ujian masuk yang dihadapi tidaklah mudah.  Ada tes lisan membaca Al – Qur’an dan bacaan sholat juga do’a  – do’a.  Tes mendengar, melalui mata pelajaran Imla’ dan beberapa tes tertulis lainnya.

Akankah dia mampu lolos testing?  Jikalau lolos,  akankah dia mampu bertahan dengan kedisiplinan itu?  Sanggupkah dia merawat seluruh alat pendengarannya dgn baik disana?  Akankah dia terkendala dengan keterbatasan pendengarannya?Bagaimana kalau tiba – tiba alat pendengarannya bermasalah? Bagaimana kalau tiba saatnya dia harus mengganti suku cadang implantnya? Kenapa dia ingin sekali memasuki Pondok Pesantren?  Apa cita – citanya kemudian? Apakah melanjutkan pendidikan di Pesantren dapat membuatnya mampu memenuhi kebutuhan pendengarannya di kemudian hari sepeninggal kami?

Berjuta tanya berputar putar di kepala ketika mendengarnya membulatkan tekad.  Itulah yang terjadi di tahun ini,  yang merupakan tahun ke – 13 usia pendengarannya.  Ya…. November ini usianya genap 16 tahun memang.  Namun usia pendengarannya barulah 13 tahun. 


Secara teori,  sebetulnya kemampuan berkomunikasinya barulah setara anak berusia 13 tahun.  Namun kebiasaan dan hobi membacanya membuatnya mampu sedikit mengakselerasi pengalaman berbahasanya. 

Jika mengajaknya membicarakan hal – hal yg santai,  terkait pergaulan anak remaja,  gap usia itu akan terasa. Kepolosannya dalam bertutur sangat jelas.  Namun ketika mengajaknya berdiskusi,  justru cara berpikirnya nampak seperti anak yg lebih dewasa dari usia sebenarnya. Ini pengaruh dari buku – buku yang dibacanya.

Pertanyaan – pertanyaan tadi terpatahkan setelah akhirnya nyata dia harus menghadapi semua itu. Keinginan kuatnya belajar di Pondok, membuatnya berusaha keras mengadaptasikan diri dengan kebutuhan hidupnya disana. Dirinya menyadari betul, tanpa support alat pendengaran, dia takkan mampu belajar dengan baik. Oleh sebab itu Azelia putriku berusaha keras mendisiplinkan diri dengan kebutuhan khususnya. Dia mau belajar untuk lebih mengenal bagaimana merawat semua alat pendengaran khususnya. Termasuk mengganti suku cadangnya. Kami hanya memandunya melalui video tutorial dari youtube yang kami titipkan melalui pesan WA Ustadzah walikelas atau Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM).

Kami juga yakin bahwa tak mungkin Allah mentakdirkan sesuatu  dengan sia – sia. Jika Allah menghendakinya lolos testing, maka itu berarti Allah pun yakin akan kesiapannya mengenai hal itu. Karena Dia Maha Kuasa atas segala hal,  dan lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Akan ada lebij banyak kebaikan dan perkembangan positif yang akan Azelia dapatkan. Dengan menempuh pendidikan di dalam pondok,  gap antara usia biologis dan usia pendengarannya justru akan semakin berimbang. Karena pengalaman berkomunikasinya di dalam sana akan semakin terasah.  Apalagi yang dihadapinya beragam karakter dari berbagai latar belakang budaya dan bahasa dengan logat khasnya masing – masing. Yang justru akan membuatnya semakin kaya dengan pengalaman mendengar dan berbahasa.

Akhirnya,  kembali kupasrahkan segalanya pada kehendakNya.  Tega nggak tega ya harus tega.  Ketegaan kami akan mendidiknya.  Menempanya menjadi pribadi yang lebih kuat lagi,  lebih matang dan lebih berkembang. Kami tidak ingin mengurungnya. Kami ingin membuatnya ‘belajar’ melalui banyak pengalaman. Dalam prosesnya tentu tidak mudah, akan banyak tantangan yang harus dihadapi. Terutama sekali yang terkait kebutuhan khususnya. Jika kami tidak mempersiapkannya sekarang, kapan lagi?

Pengalaman akan membuatnya semakin kaya.  Kaya dengan bagaimana cara memecahkan masalah,  menghadapi beragam karakter,  dan sebagainya. Seekor anak burung, tidak akan bisa terbang jika dia tidak memberanikan diri untuk belajar terbang, atau induknya tidak melepas anaknya untuk belajar terbang. Begitulah perumpamaan yang terilustrasi di benakku.

Melepas seorang anak berkebutuhan khusus memasuki dunia pesantren, secara tidak langsung berarti kami sedang mempersiapkannya menyongsong masa depan kehidupannya sendiri yang jauh lebih luas. Kami tau pasti,  yang akan kami hadapi tentu tidak mudah.  Namun, belum tentu sulit. Tergantung pada bagaimana sudut pandang kami dalam menghadapinya.

Bagi  kami,  ini hanya perkara waktu.  Suatu saat nanti dia tetap harus mandiri dan berdikari. Kami tidak selamanya menemani ketiga putri kami. Termasuk Azelia. Hal ini merupakan satu hal yang tak terbantahkan. Seorang anak, suatu saat akan pergi meninggalkan kita. Atau mungkin justru kita yang akan pergi meninggalkan mereka. Entah itu karena kematian, melanjutkan pendidikan, atau karena dia sudah menikah dan harus mengikuti kemana pasangan hidupnya membawanya pergi.

Suatu saat kita memang harus melepas mereka. Membiarkannya menghadapi dunianya sendiri. Bekal terbaik bagi mereka adalah pengalaman hidup, kemampuan menyelesaikan masalah, keterampilan dalam bergaul, menuntaskan beragam pekerjaan rumah dan beragam keterampilan hidup lainnya.

13 tahun usia mendengarnya di tahun 2020 lalu. Dan sungguh aku tak menyangka akan menyaksikan Azelia berada di titik ini. Mandiri di usia yang masih 16 tahun. Bahkan mandiri untuk mengurus beragam kebutuhan khususnya sendiri. Sesuatu yang jangankan terbayang, bahkan terlintas di benak ini pun tidak pernah sama sekali. Hanya rasa syukur yang kami panjatkan ke hadirat Allah S.W.T atas semua nikmat karunia dan keberkahan yang Allah berikan pada putri kami. Tak ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaan menyaksikan putra putri kita mampu berdikari dan berani berpetualang di dunia yang luas ini. Apalagi itu untuk memperjuangkan masa depan mereka sendiri. MasyaaAllah……. Alhamdulillah.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑