
Suatu hari, ayahnya pernah bercerita. “Waktu mau berangkat mengantar sekolah tadi pagi, Azel sempat bertanya ke ayah. ‘Ayah, mana alat pendengaran ayah? Sudah dipakai belum? Pakai dulu alat ayah, supaya ayah bisa mendengar jelas seperti aku.’ “
“Mamah harus bersiap mendapatkan pertanyaan serupa dari Azel. Dan mungkin itu akan sering ditanyakannya secara berulang. Karena dia bergaul dan mengamati sekelilingnya. Ayah juga tadi kaget ditanya seperti itu. Tapi, setelah ayah jelaskan bahwa kebutuhan setiap orang itu berbeda, Azel kelihatannya mulai paham.”
“Ayah katakan ke Azel, bahwa dia mungkin butuh alat untuk membantu pendengaran, tapi ayah dan mamah tidak butuh itu. Ayah dan mamah butuhnya kacamata untuk membantu penglihatan. Nanti mamah kalau ditanya hal serupa, jangan menangis di depan Azel ya. Jawab saja secara perlahan dengan bahasa sederhana. InsyaaAllah nanti lama – lama Azel paham. Dia anak yang cerdas. “
Apa yang dikatakan ayahnya ternyata menjadi kenyataan. Azel seringkali mempertanyakan pertanyaan serupa. Bahkan tak jarang membuat hati berdebar tak menentu ketika dia mengajukan pertanyaan serupa dalam bingkai berbeda.
Saat Yasmin adik nya baru berusia 3 bulan an misalnya. Ketika dia sedang asik bermain – main dengan adiknya, tiba – tiba Azel berkata. “Mamah, ayok kita bawa dede Yasmin ke Cikini. Cepat – cepat kita belikan alat pendengaran seperti aku. Supaya dede Yasmin bisa cepat bicara seperti aku. “
Jujur, aku kagget mendengar perkataannya yang spontan itu. Apa yang dikatakannya sukses membuat hatiku serasa teriris. Sedih, terharu dan entah apa lagi. Rasanya campur aduk. Yang pasti hal pertama yang kulakukan adalah menetralisir keterkejutanku. Menarik nafas perlahan, lalu berupaya keras menahan airmata ini agar tidak meleleh begitu saja. Kemudian kucoba merangkai kata – kata yang sederhana yang sekiranya tak membuatnya merasa tersinggung. Seulas senyum kucoba perlihatkan padanya. Ku elus punggung tangannya sambil berusaha menjelaskan.
“Kak, ayah dan mamah sudah pernah memberitahu bahwa kebutuhan setiap manusia itu tidak sama? Apa kakak masih ingat itu?”
“Ehm…. Iya mah. Mamah dan ayah pernah bilang. Kakak butuh alat pendengaran. Mamah dan ayah tidak perlu itu. Mamah dan ayah butuh kacamata. Aku masih ingat.”
“Iya kak, begitulah. Ayah dan mamah butuh alat untuk membantu penglihatan, yaitu kacamata. Kakak butuh alat Bantu Dengar. Dede Yasmin juga butuh sesuatu. Tapi kita belum tau apa yang dibutuhkannya. Apakah membutuhkan alat bantu juga atau tidak. Yasmin masih terlalu kecil. Sekarang yang Yasmin butuhkan baru ASI dari mamah, dan kakak yang bercerita sambil menemani Yasmin.”
Saat diizinkan pindah ke sekolah umum & mendapatkan surat rekomendasi mampu inklusi….secara spontan, Azel refleks berkata :
“Alhamdulillah…. Asiiikk, aku mau pindah ke ‘sekolah normal”
#Dia bilang sekolah normal. Maksud sebenarnya sekolah umum#
Saat pertama kali mendapatkan peringkat 5 besar di SD negrinya…..
“Alhamdulillah….. Akhirnya aku bisa juga dapet peringkat 5 besar. Nanti SMP aku gak usah pakai Alat Bantu Dengar lagi ya mah. Aku kan sudah pintar…. “
Di benaknya saat itu, mungkin pintar akademik di sekolah akan membuatnya tidak lagi harus menggunakan alat pendengaran. Ibu Masitawati Kusuma, speech terapist Azel pernah memberikan gambaran mengenai hal ini. Bahkan jauh sebelum Azel memasuki sekolah umum pertamanya. Beliau memberikan banyak saran, nasihat dan masukan berharga bagi kami, jauh sebelum masa ini tiba. Kami menjadi paham ketika tiba saatnya harus menghadapi itu semua.
Begitulah, masa – masa Azel mempertanyakan tentang kondisinya, selalu menjadi moment yang paling mendebarkan bagiku. Aku harus menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana, namun tidak membuatnya berkecil hati atas kondisinya. Dan sungguh itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Karena selain dituntut mampu menjelaskan, harus pula mampu menahan airmata agar tidak menangis didepannya.
Azel terus tumbuh semakin dewasa dalam berpikir, seiring pertambahan usia juga seiring beragamnya buku yang di bacanya. Beragam pengetahuan baru menambah keluasan wawasan berpikirnya. Membuatnya semakin bijaksana dan mampu menerima kenyataan hidup yang harus dijalaninya dengan ketabahan.
Ketika akan berangkat mengikuti testing masuk Gontor juni 2020 lalu….
“Mamah tidak usah khawatirkan aku. InsyaaAllah aku akan menjaga alat – alat pendengaranku dengan baik. Nanti aku pasti langsung kabari mamah kalau persediaan baterai tinggal 1 – 2 roll lagi. Tak usah khawatir yaa….”
“Ikhlaskan aku sepenuh hati ya mah. Aku mengikuti testing Gontor ini untuk mewujudkan cita – citaku untuk belajar Tafsir di Al – Azhar Kairo suatu saat nanti. Mamah harus percaya kakak. Kakak insyaaAllah akan mengusahakan yang terbaik yang kakak mampu. Meski kakak tau, mungkin hanya kakak peserta testing yang menggunakan sepasang alat pendengaran. Bukankah mamah dan ayah sering bilang ke kakak, bahwa kakak harus berani bermimpi. Kakak harus punya cita – cita, dan jangan menyerah sebelum berusaha. Kakak butuh support do’a dan keikhlasan dari mamah dan ayah.”
Akhirnya Azelia menyadari bahwa Alat Pendengaran merupakan kebutuhannya. Dia memilih berdamai dengan takdir, dan sibuk mengeksplore kemampuan diri. Sehingga mampu mengalihkan fokusnya. Melupakan sejenak keterbatasannya, dan memanfaatkan segenap potensinya untuk mencari ilmu sebanyak – banyaknya. Dan dia tidak takut lagi bermimpi.
Kami tidak pernah meragukan kemampuannya.
Jadilah seperti apa yang kamu mau anakku. Selama itu membawa kebaikan dan manfaat bagimu juga orang – orang di sekelilingmu, lakukanlah…..
Semoga Allah senantiasa menjagamu dimanapun kamu berada. Dan semoga keberkahanNya bersamamu selalu anakku. Do’a dan keihkhlasan mamah dan ayah akan selalu mengiringi setiap langkahmu.
Memiliki anak dengan kondisi yang berbeda dari anak – anak lain pada umumnya memang seringkali membuat hati kita resah dan gelisah.
Kita khawatir akan masa depannya, pergaulannya, pendidikannya, dan masih banyak kekhawatiran lain yang sungguh terlalu banyak jika dituliskan disini. Namun bagi kami satu hal yang pasti. Bahwa Allah menciptakan makhlukNya bukan tanpa maksud. Karena Allah Maha Adil, memberikan kelebihan di balik kekurangan. Menggantikan satu potensi yang hilang dengan beberapa potensi pengganti yang lain.
Mengeluhkan kekurangan mereka, hanya akan membuat kita melupakan kelebihan yang mungkin mereka miliki. Jangan biarkan mata hati kita ‘buta’ akan hal itu. Jangan terpengaruh apa yang dikatakan orang lain mengenai anak – anak kita dengan keistimewaannya. Karena kitalah yang lebih tau apa kelebihan yang mereka miliki. Fokus pada hal itu, dan asah secara perlahan. Suatu saat orang – orang akan menghargai upaya yang kita lakukan dalam membantu anak – anak kita yang luar biasa.
Tinggalkan komentar