
Tulisan ini dibuat untuk Yasmin dan Ayuka. Dua adik Azel yang luar biasa. Meski usianya masih terhitung belia, mereka memiliki andil besar dalam perkembangan bahasa dan proses intervensi Azel pasca penurunan respon dengar. Tanpa peran aktif mereka, rasanya keberhasilan proses intervensi Azel tahap kedua pasca penurunan respon dengar takkan sesukses ini. Mereka ikut mensupport kami dalam membantu kakaknya.
“Tidak apa – apa mah pindah ke rumah yang lebih kecil. Yang penting kak Azel bisa mendengar suara Yasmin & Ayuka lagi.”
“Kami senang kalau bisa terus mengobrol dan bercerita dengan kakak lagi mah.”
Begitulah yang mereka katakan, saat aku dan suami menceritakan rencana kepindahan kami ke Bekasi. Hal itu terkait rencanaku dan suami yang harus menjual rumah untuk membiayai operasi implant koklea kak Azel saat itu.
Kami hanya ingin Yasmin dan Ayuka merasa dianggap keberadaannya, jika kami menginformasikan hal tersebut. Begitulah pikirku dan suami. Karena bagaimanapun juga, keputusan kami dan apapun yang akan dihadapi nanti, akan turut berdampak pada kami sekeluarga. Termasuk pada Yasmin dan Ayuka.
Bagiku dan suami, keluarga, merupakan satu team dalam kehidupan ini. Saling membutuhkan satu sama lain dan harus saling support. Menjalin komunikasi yang baik dengan ketiga putri kami, merupakan satu cara efektif untuk mempererat ikatan kekeluargaan diantara kami.
Biaya untuk melakukan implant koklea bukanlah biaya yang murah. Bisa setara harga satu mobil baru yang dibeli dari dealer, untuk satu telinganya. Kami berdua mengetahui betul hal itu.
Azel memiliki banyak potensi yang tersembunyi. Hal itu terlihat sejak dia mulai berkata – kata. Apa itu? Kami sendiri belum mengetahuinya. Yang pasti, hal tersebut membuat kami merasa harus memperjuangkan sesuatu untuknya pasca penurunan respon dengar kedua.
Dua kali penurunan respon dengar dalam rentang waktu yang kurang dari 6 bulan, membuat kami sangat mengkhawatirkannya. Penurunan respon dengar pertama, terjadi di akhir 2015. Telinga kanan yang awalnya mampu mendengar di 70 dB, menurun menjadi 80 dB. Dan telinga kiri yang awalnya mampu mendengar di 90 dB turun menjadi 95 dB.
Sekitar awal maret 2016, respon dengar itu kembali turun. Menjadi 85 dB untuk telinga kanan, dan 105 dB untuk telinga kiri. Aku sangat takut dan merasa terguncang saat itu. Sempat hati membatin….
“Ya Allah, tidak cukupkah bagiMu memberinya ujian berupa ketulian itu saja? Setelah semua hampir teratasi, kau uji lagi dia dengan dua kali penurunan respon dengar. Andai bisa kutukar telinga dan pendengaranku ini, tukar saja dengannya. Biar aku saja merasakan kesunyian itu, jangan putriku……”
Apalah artinya memiliki dua rumah, jika putriku kembali merasakan kesunyian. Tapi, jika kami jual rumah Karawang yang sudah cukup nyaman ini, akankah dua adiknya mampu memahami? Karena jika rumah yang luasnya sekitar 170 m2 ini terjual, kami harus pindah ke rumah yang hanya seluas 45 m2 saja di Bekasi ini. Apakah kedua adiknya mampu memahami hal ini?
Untuk itulah Yasmin dan Ayuka kecil, terpaksa harus kami ajak berbicara perlahan lahan. Kami beri pemahaman, agar mentalnya siap. Dengan begitu, kami harap mereka berdua takkan pernah menyalahkan Azel di kemudian hari. Tak ada pilihan bagi kami saat itu.
Rumah Karawang itu merupakan rumah pertama kami, saat baru saja menjadi pasangan suami istri. Baru di renovasi total di awal 2011. Rumah yang memiliki begitu banyak kenangan bersama Azelia kecil di 2 tahun pertama hidupnya. Sebelum kami akhirnya pindah ke Medan di tahun 2006.
Kami baru menempati kembali rumah itu di bulan agustus 2010. Baru sekitar 5 tahun kami menikmati suasananya pasca renovasi total. Rumah yang konsep pengembangannya penuh dengan perhitungan cermat.
Azel yang berkebutuhan khusus memang lumayan menyita fokus dan perhatian kami. Seringkali kedua adiknya harus mengalah dalam beberapa hal. Karena kami terus berkejaran dengan waktu.
Menyeimbangkan antara usia biologis dengan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi , sungguh bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Adanya gap antara usia biologis dan usia mendengar sekitar 2 tahun 8 bulan adalah kendala yg kami hadapi saat itu.
Kami ingin, Azel mengejar ketertinggalannya. Dan itu membutuhkan kerjasama diantara kami semua dalam satu keluarga. Alhamdulillah kedua adik Azel mampu memahami kondisi itu. Bahkan ikut mensupport kakaknya dalam hampir semua hal.
Yasmin begitu sayang kakaknya, demikian juga dengan Ayuka. Mereka membantu kami semampunya. Membetulkan susunan kata kakaknya yang terbalik balik ketika berbicara, memberitahukan kakaknya ketika pemilihan kata yang digunakan dalam percakapannya kurang tepat, dan menjelaskan ulang maksud perkataan mereka yang kadang tidak dipahami oleh Azel.
Rasa sedih, terharu dan bahagia siih berganti menghampiri. Kadang aku menangis, dan tak jarang pula sebagai ibu aku rasanya ingin tertawa geli ketika melihat mereka mengobrol bertiga. Obrolannya tak jarang terdengar lucu dan menggemaskan. Mereka saling membantu satu sama lain. Suatu hal yang menggembirakan sekaligus mengharukan.
Azel sangat menyayangi kedua adiknya. Ketika Yasmin dan Ayuka mengalami kesulitan di pelajaran tertentu, Azel tak segan membantu mereka. Ya meski Tunarungu, kemampuan akademik Azel dapat dikatakan lumayan. Terutama dengan pelajaran – pelajaran Diniyyah. Mungkin dalam percakapan Azel banyak keterbatasan. Seringkali kosakata yang digunakan tidak tepat, atau susunan katanya terbalik balik. Tapi kalau menjelaskan pelajaran, dia bisa menyempaikannya dengan sangat baik. Aku sendiri terkadang heran menyaksikannya. Bahasa Arab, merupakan pelajaran yang terasa begitu sulit bagi Yasmin dan Ayuka. Namun, bagi Azel itu salah satu pelajaran yang sangat disukainya. Pelajaran itulah yang paling sering ditanyakan Yasmin dan Ayuka pada kakaknya.
Adik bungsu Azel, Ayuka, adalah seorang anak dengan kemampuan bicara luar biasa. Dia seringkali membetulkan penggunaan kata yang kurang tepat, susunan kata yang terbalik, atau menjelaskan kembali ucapan yang keliru dipahami kakaknya. Aku memberikan julukan ‘editor cilik’ untuk kemampuan Ayuka yang satu ini.
Yasmin adik keduanya, adalah seorang pendengar yg baik. Dia seringkali menjadi tempat curahan hati kakaknya ketika dia mengalami bullying di sekolah. Meski usianya masih terbilang muda, Yasmin seringkali mencoba menghibur kakaknya. Membantuku membesarkan hatinya.
Aku ingat ketika Yasmin menangis saat aku menceritakan penurunan respon dengar kakaknya. Dan ketika ku katakan akan menjual rumah yang kami tempati saat itu, Yasmin yang masih usia 5 – 6 tahunan saat itu mengatakan….
“Iya mah, tak apa. Jual saja rumah ini. Pindah ke rumah Bekasi yang lebih kecil tak apa. Yang penting kakak bisa mendengar lagi suara Yasmin dan Ayu. Biar kami tetap bisa cerita – cerita sama kakak “.
Yasmin menangis bukan karena sedih akan kehilangan rumah, tapi karena baru tau kalau beberapa bulan belakangan kakaknya tak lagi jelas mendengar suaranya. Begitu juga dengan Ayuka. Yang saat itu usianya masih 4 tahun kurang.
“Pindah ke Bekasi tidak apa – apa mamah. Aku suka, asal kakak bisa tetap mendengar suara Ayu. Aku senang kalau masih bisa bercerita dengan kak Azel. Kakak kalau bercerita lucu, kadang seru. Aku masih mau mengobrol dan bercerita dengan kakak mah. Aku sedih kalau kalau kakak tidak bisa mendengar suaraku. “

Perkataan Yasmin dan Ayuka itu semakin membuat kami yakin, bahwa kelak Azel akan mampu menghadapi perjalanan dunia mendengarnya yang kedua. Karena kami menghadapinya bersama – sama. Support dariku, ayahnya dan kedua adiknya, senantiasa ada bersamanya. Meski pada kenyataannya seringkali mereka bertengkar memperebutkan sesuatu, aku tau Yasmin dan Ayuka sebenarnya sangat menyayangi kakaknya.
Rencana menjual rumah saaat itu akan turut berpengaruh pada Yasmin dan Ayuka. Mereka dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan rumah yang baru. Bukan hanya itu saja, mereka pun harus menghadapi suasana lingkungan sekolah yang baru. Bagi anak seusia Yasmin dan Ayuka saat itu, yang usianya masih dibawah 7 tahun, hal itu tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi aku yakin, perbincangan yang kami lakukan sebelumnya akan mampu meringankan permasalahan itu. Karena mereka tau alasan sebenarnya dari proses kepindahan tersebut. Ada sesuatu yang kami perjuangkan bersama.

Kini, 4 tahun sejak kepindahan berlalu sudah. Alhamdulillah semua proses adaptasi dengan lingkungan baru berlangsung lancar dan nyaris tanpa hambatan. Usia impant Azel pun nyaris menyentuh usia ke – 4, bulan Januari tahun 2021 mendatang. Proses operasi berjalan lancar, demikian pula dengan proses habilitasinya. Meski dalam perjalanannya, naik turun mood dan semangat Azel turut mewarnai.
Kami memperjuangkan semuanya bersama – sama. Azel tidak menghadapi semuanya sendirian. Demikian juga aku dan suami. Kami tidak memperjuangkannya hanya berdua saja. Semua yang Azel capai saat ini merupakan gambaran hasil kerjasama kami semua. Ayah, ibu, Azel dan kedua adiknya.
4 tahun pasca operasi hampir berlalu. Azel sudah menjelma menjadi sosok gadis remaja yang energik dan mulai merangkai jalan masa depannya. Dia sudah mulai memilih jalan hidupnya sendiri. Dan tibalah saat dimana aku dan suamiku mengikhlaskannya belajar menghadapi semuanya sendiri.
Di bulan Juni 2020 ini, secara khusus putri pertamaku ini memintaku untuk mulai mengalihkan fokus pada kedua adiknya. Bahkan dia juga memintaku untuk kembali melanjutkan kuliah. Putriku ini rupanya menyadari, bahwa selama ini fokus kami banyak tercurah untuknya. Hingga membuat kedua adiknya terpaksa harus mengalah pada beberapa kondisi.
“Mamah, aku berangkat ke Mantingan untuk belajar. Ikhlaskan ya mah. InsyaaAllah aku sudah bisa mandiri. Mamah jangan terlalu mengkhawatirkan aku lagi. Selama ini mamah dan ayah sudah banyak membekali. Aku banyak belajar dari beberapa kasus bullying yang pernah kualami. InsyaaAllah sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Ikhlaskan aku, dan jangan lupa terus do’akan.”
” Sudah waktunya sekarang mamah fokuskan perhatian mamah pada Yasmin dan Ayuka. Kasian mereka, banyak mengalah buat aku selama ini. Tolong bantu Yasmin dan Ayuka belajar sebagaimana mamah dulu mengajari aku. Ikhlaskan aku ya mah, percaya sama kakak dan tolong ikhlaskan kakak. Mamah dan ayah cukup do’akan aku saja dari sini”.
Sejak Juni lalu, Azel yang lolos testing, menjadi salah satu santriwati di Salah satu Pondok Pesantren di Mantingan, Ngawi – Jawa Timur. Dia memilih menekuni bidang keilmuan yang memang menarik minatnya sejak bersekolah di Madrasah Diniyyah beberapa tahun sebelumnya.
Anak yang tau diri dan tidak egois. Itulah yang aku tangkap dari beberapa permohonan khususnya itu. Dia sangat menyayangi adik – adiknya. Begitu pula dengan kedua adiknya. Mereka pun sangat menyayangi kakaknya.
Hidup ini selalu dihadapkan dengan begitu banyak pilihan. Kadang terasa tidak mudah untuk memilihnya. Karena tak jarang satu pilihan membuat kita terpaksa harus mengorbankan hal lain. Dan aku menyebut itu sebagai satu konsekwensi yang harus diambil. Mau tidak mau, suka tidak suka. Selama ini, aku menempatkan skala prioritas dalam menjatuhkan pilihan dalam mengasuh ketiga putriku.
Tidak bisa dipungkiri, memiliki seorang anak berkebutuhan khusus dalam keluarga, membuat kita harus lincah dalam menyeimbangkankan pola asuh yang tepat bagi semuanya. Dan itu tidak mudah, sangat tidak mudah.
Banyak orang di luar sana yang berpikir, kami lebih menyayangi satu diantara lainnya. Selama ini, aku menutup mata dan telingaku mengenai perkara ini. Hanya aku, suami, keluargaku, dan Allah yang tau betapa aku menyayangi ketiganya. Jika aku terus memikirkan apa kata orang, sudah dipastikan diri ini tidak akan pernah bisa fokus mengasuh ketiganya.
Azel memang menempati skala prioritas dalam pengasuhanku, karena dia merupakan anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga suamiku. Dia harus mampu menjadi teladan bagi adik – adiknya.
Bukan hanya itu, sebagai putri pertama di keluarga kecil kami, Azel harus kami persiapkan untuk mampu menjadi pengganti kami kelak jika kami tiada. Terlepas dari apapun kondisinya, bagi kami dia tetap merupakan role model bagi adik – adiknya.
Ketika Azel sudah mampu lebih mandiri seperti saat ini, maka fokusku secara otomatis kemudian beralih pada kedua adiknya. Tahun 2021 mendatang, merupakan lembaran baru bagiku untuk memulai petualangan bersama dua ‘Iskandar’ muda yang lainnya. Semoga aku mampu mendidik mereka sebaik mungkin. Karena Yasmin dan Ayuka juga memiliki potensi terpendam yang tak kalah menarik dengan kakaknya. Adalah tugasku untuk melihat dan kemudian membukanya.
Lagi – lagi, aku tidak dapat melakukannya seorang diri. Tetap membutuhkan kerjasama team pada prakteknya. Aku, suami dan tentu dibantu Azel. Inilah salah satu alasan kenapa kami memprioritaskan perkembangan Azel terlebih dahulu. Karena hari dan tahun terus berganti. Kami semakin menua, dan membutuhkan satu sosok yang kelak dapat membantu kami mendidik dan mengarahkan 2 putri kami yang lain. Selama 16 tahun belakangan ini kami gantungkan harapan itu pada seorang Azelia.
Tak terasa airmata haru menitik lagi setiap kali membayangkannya. Tidak mudah menerima kenyataan putri pertama kami memiliki keterbatasan pada salah satu inderanya. Tidak mudah bagi kami mengabaikan perannya sebagai putri pertama. Itulah sebabnya kenapa aku dan suami terfokus dulu kepadanya. Agar kelak dia bisa membantu kami mendidik, mangarahkan dan menjadi teman diskusi yang asik bagi kedua adiknya. Karena kami adalah ‘keluarga’. Yang harus mampu saling mengingatkan dan saling support antara satu dan lainnya.
Keterbatasan pada salah satu indera bukanlah alasan untuk mengabaikan peran salah satu anak. Kami harus mampu menanamkan pada kedua adiknya bahwa kakak adalah seseorang yang tetap harus mereka hormati dan mereka sayangi. Bahkan kami harus juga meyakinkan mereka bahwa ‘kakak’ merupakan seseorang yang bisa mereka mintai saran dan nasehatnya, selain dari kami orang tuanya.
Aku mendidik Azel dan kedua adiknya sedemikian rupa, karena teringat pesan dari Ibu Masitawati, speech therapist yang membantu kami mengintervensi Azelia kecil. Beliau berpesan agar kelak ketika Azel memiliki adik, aku harus mampu memahamkan pada adik – adiknya agar tetap menghormati kakaknya sebagaimana seharusnya. Meski Azel seorang tunarungu dengan keterbatasan pada salah satu inderanya.
Jangan biarkan adiknya mendiskriminasi kakaknya sendiri. Karena apa yang akan dihadapi Azel di lingkungan pergaulan di luar sana pasti sudah sangat berat. Jadi, sebisa mungkin ciptakanlah lingkungan keluarga yang betul – betul menjadi tempat terhangat bagi Azel. Yang mampu membuatnya tenang dan merasa nyaman. Yang membuatnya merasa diakui dan dianggap sebagai seseorang yang juga memiliki peran dalam keluarga. Layaknya anak – anak lain pada umumnya.
Tinggalkan komentar