
Setiap tahun ajaran baru menyisakan kisah yang mengharu biru bagi kami, para orang tua dari seorang anak berkebutuhan khusus. Tantangan yang dihadapi sungguh tidak mudah. Bagi kami, mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak seperti halnya anak – anak lain pada umumnya. Terlepas dari apapun kondisi mereka.
Keinginan menyekolahkan anak kami yang berkebutuhan khusus ke sebuah sekolah umum adalah mimpi terbesar paling awal yang ada di benak kami. Karena kami tau betul untuk mewujudkannya perlu upaya ekstra keras. Kami harus memastikan putra atau putri kami mampu mengejar ketertinggalannya, baik itu dalam kemampuan bertutur, maupun pemahaman bahasa secara tertulis. Termasuk penguasaan calistung dasar. Dan tentu ini membutuhkan strategi khusus yang benar – benar terencana.
Tahun ajaran 2008 itu, selepas Azel menyelesaikan Play Groupnya. Suamiku mengajakku mengobservasi sebuah SLB B yang menurut beberapa orang yang kami kenal, merupakan SLB B terbaik di Sumatera Utara. Predikat itu karena katanya sekolah tersebut memberlakukan disiplin tinggi dan pengajaran bahasa verbal yang konsisten.
Hatiku berdenyut, rasanya sakit dan sesak jika harus memasukkan Azel ke sebuah sekolah khusus. Saat itu hati kecilku belum ikhlas sepenuhnya untuk menerima kondisi Azel dengan keterbatasan pendengarannya. Namun berulangkali suamiku mengatakan bahwa hal itu merupakan bagian dari ikhtiar kami.
Singkat cerita aku menyetujui langkahnya. Berusaha berdamai dengan takdir dan menyaksikan putriku memulai pembelajaran di sebuah SLB B terbaik di Provinsi Sumatera Utara tersebut. Saat itu aku lebih banyak berdiam diri sambil terus mengamati perkembangan putriku dari hari ke hari. Dia cukup mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Meski usianya paling muda di kelas. Tahun pertamanya di SLB tersebut diawali dengan terdaftarnya putriku di kelas TLO ( Taman Latihan Observasi). Setara Play group kalau di sekolah umum. Muridnya hanya 3 orang, dan Azelia murid termuda. Usianya 3,8 tahun saat itu. Sementara 2 teman lainnya berusia sekitar 4,5 tahun dan 5 tahun.
Sebagai seorang anak yang usianya masih kurang dari 4 tahun, Azel termasuk anak yang masih sangat aktif motorik kasarnya. Jika dua temannya yang lain mau duduk diam dan memperhatikan ibu guru, tidak demikian halnya dengan Azel. Dia sibuk berjalan – jalan mengelilingi tempat kedua temannya atau ibu guru sambil terus berceloteh.
Setiap kali ibu guru melatih membaca, Azel tidak pernah mau duduk tenang dan memperhatikan gerak bibir ibu gurunya. Hingga akhirnya suatu ketika ibu gurunya mengajakku berbicara mengenai kebiasaan Azel ketika belajar di kelas tersebut.
“Bagaimana Azel akan bisa membaca dan berbicara verbal kalau setiapkali belajar di kelas seperti itu terus bu… Tidak pernah mau melihat bibir saya dan sibuk berjalan jalan kesana kemari. “
Begitulah kurang lebih apa yang dikatakan beliau saat itu. Aku hanya tersenyum dan diam mendengar semua itu. Tapi naluriku berkata, dalam keaktifannya itulah justru Azel sedang menyerap pelajaran. Dia memang anak yang cenderung aktif motoriknya. Maklum, baru bisa berjalan di usia 2,5 tahun. Mungkin sedang senang bergerak gerak kesana kemari.
Azel juga saat itu sudah dilengkapi sebuah Alat bantu dengar dan menjalani terapi wicara secara rutin. Belum lagi kepekaan respon mendengarnya seringkali dilatih di rumah. Semakin yakin diri ini kalau sebetulnya Azel saat itu mampu mendengar dan sedang mengeksplore kemampuan keterampilan berbahasanya.
“Maaf ya bu, kalau Azel terkesan seperti itu. Tapi sebagai ibu, saya yakin Azel menyerap apa yang ibu ajarkan di kelas. Apalagi usianya masih kurang dari 5 tahun. Mungkin dia merasa bisa mendengar suara ibu, makanya tidak mau melihat bibir ibu ketika ibu mengajarinya membaca. Nanti pelan – pelan saya akan membujuknya supaya mau duduk tenang saat belajar di kelas. Saya juga akan coba membantu semampu saya mengulang apa yg dipelajarinya di kelas. Untuk memastikan dia paham apa yabg dipelajarinya di sekolah.”
Hanya itu yang bisa kusampaikan pada walikelasnya saat itu. Yang pasti, aku tidak akan menyalahkan pihak sekolah jika memang Azel terkendala dalam menangkap pelajaran di kelas. Karena memang Azel anak yang sangat keras kepala. Ketika belajar, cenderung sulit diarahkan. Namun sebetulnya dia seorang pembelajar yang tekun dan cenderung suka mengeksplore kemampuan dirinya.
Azelia kecil, tidak suka terlalu diatur ketika mempelajari sesuatu. Lebih suka mengandalkan seluruh kemampuan yang ada dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, setelah merasa tak kunjung mengerti, barulah dia bertanya. Dan ketika tak kunjung memahami apa yang ditanyakan, dia takkan berhenti bertanya hingga akhirnya merasa cukup paham. Terkadang agak menyebalkan memang, tapi itulah karakter aslinya saat masih kecil. Yang justru membuatnya mampu menarik perhatianku.
Saat di SLB B, aku berulangkali diajak mengobrol oleh 2 walikelasnya. Saat TLO dan TK Persiapan 1. Bukan hanya itu, Kepala sekolah, hingga suster kepala pun demikian. Bolak balik aku dipanggil dan diajak mengobrol oleh pihak sekolah. Semua karena sikap keras kepala Azel yang membuatnya terkesan tidak mau diajarkan. Azel yang tidak mau melihat bibir ketika belajar membaca da bicara, yang tidak mau dipegang tangannya ketika belajar menulis, yang sangat kritis tentang beberapa hal, dan sebagainya.
Hingga akhirnya dia mampu memperlihatkan hasil yang membuat para guru dan kepala sekolah bertanya tentang bagaimana caraku mengajarinya saat di rumah. Karena perkembangan wicara, pemahaman bahasa, juga kemampuan menulis dan berhitungnya sangat cepat. Meski usianya selalu paling muda di kelas.
Ketika Azel pindah dari SLB B, walikelasnya terharu. Karena menurut beliau ide pelajaran yang akan diajarkan setiap harinya di kelas banyak muncul akibat dari celotehan Azel. Yang bercerita tentang banyak hal ketika sampai di sekolah. Ketika Azel diajak ke salon, ketika Azel mengatakan dengan lantang bahwa dia beragama Islam, seorang muslim dengan cara berdo’a yang seperti ini, dan sebagainya. Menurut walikelasnya, ide idenya dalam mengajar, banyak muncul karena kecerewetan Azel. Itulah sebabnya ketika Azel pindah ke sekolah umum, beliau merasa kehilangan sekaligus senang. Karena menurutnya sangat jarang anak tunarungu yang bisa sepesat itu perkembangannya.
Masuk ke sekolah umum, bukan berarti tantangan terhenti begitu saja. Ketika Azel hendak diikutkan testing SDIT atas saran kepsek Play Groupnya dulu, aku diminta kesediannya membekali Azel dengan beberapa hafalan surah dari juz 30, kemampuan membaca Iqro’ 1 sekaligus kemampuan menulis huruf hijaiyyah dan angka arab. Sungguh suatu tantangan luar biasa yang harus dikejar dalam kurun waktu 3 bulan sebelum testing.
Setelah upaya ekstra yang kulakukan dalam 3 bulan itu, dan baru saja 3 minggu Azel menikmati masa – masa menyenangkannya bersekolah di Sekolah umum ternyata dia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya dipindah tugaskan dari Medan, kembali ke Jakarta.
Kami kembali ke Karawang. Dan Azel mengalami penolakan di beberapa SD umum, termasuk sebuah SDIT. Mereka beralasan kuota sudah penuh, dan tidak mampu menerima seorang murid baru lagi. Entahlah, hanya Allah Yang Maha Tahu alasan sebenarnya penolakan mereka. Apakah betul karena kuota sudah penuh, ataukah karena mendengar penuturanku bahwa putriku seorang dengan ketulian dan pengguna sepasang Alat Bantu Dengar.
Ketika kita jujur, memang terkadang kejujuran itu terasa pahit kawan, heheheee……
Bayangkan saja, di perantauan anak kita sampai dibilang jenius. Bahkan ada sebuah sekolah Islam terkemuka yang bersedia menerima Azel tanpa melalui testing, karena mereka mengetahui Azel mampu inklusi ke sekolah umun dengan surat keterangan resmi dari SLB B. Semua karena dia tunarungu namun kemampuan akademiknya setara anak normal hearing. Bahkan mungkin sedikit di atasnya. Karena kemampuan membaca dan pemahamannya setara dengan mereka yang seusianya, sementara usia mendengar dan berbahasanya baru setengah dari usia biologis yang sesungguhnya .
Namun ketika kembali ke kampung halaman sendiri, penolakan demi penolakan harus kuterima dengan ikhlas. Dari pengalaman inilah aku belajar, bahwa tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Dan kita harus mampu menghargai pemikiran yang berbeda itu sebagai suatu keberagaman. Satu hal yang pasti, suatu saat semuanya akan terbuka dengan sendirinya. Dimana orang lain akan lebih menghargai pemikiran kita. Tapi itu butuh proses panjang, dan kita harus lebih banyak belajar untuk itu.
Sebetulnya ada sebuah SDIT yang bersedia menerima Azel, namun anaknya sendiri yang menolak masuk kesitu. Karena dia merasa tidak nyaman katanya. Karena memang tidak bisa dipungkiri, anak – anak berkebutuhan khusus itu memang nalurinya sangat tajam untuk mampu merasakan suatu lingkungan nyaman baginya atau tidak.
Singkat cerita, aku harus menekan egoku sendiri. Setelah upaya keras mengajari Azel pada akhirnya berakhir dengan penolakan demi penolakan. Aku bahkan sempat mencoba mendaftarkan Azel ke sebuah sekolah umum non muslim di Kabupaten itu. Bahkan hingga 2 x mengikutkan Azel testing uji kompetensi untuk tes masuk disitu. Testing awal gagal, dan aku penasaran. Meminta waktu 3 hari dan mencoba sekali lagi. Ternyata bisa lolos.
Namun, Azelia di usia 5,8 tahun itu sudah mampu mengemukakan pendapatnya. Dia menolak bersekolah disitu dan akhirnya kuputuskan kembali mengulang TK, atas persetujuannya. Dia memilih itu, untuk kemudian melanjutkan sekolahnya ke sebuah SD Negeri favorit di kota itu tahun berikutnya.
Azel akhirnya kudaftarkan ke sebuah TKQ, untuk mengulang TK besarnya. Kebetulan pemiliknya adalah kakak kandungku sendiri, dan aku pernah mengajar disitu sebelum suamiku berdinas di Kota Medan. Di sekolah itulah Azel untuk pertama kalinya mempelajari bahasa Arab. Yang kelak pengetahuan ini akan sangat bermanfaat baginya di kemudian hari.
Saat pertama kali mengulang TK besar, aku masih ingat ketika pelajaran membaca latin tiba. Ketika giliran Azel membaca, semua guru yang mengajar sejenak menghentikan aktivitasnya. Mereka memperhatikan Azel membaca. Ikut menyimak bacaannya. Dan ketika selesai dengan tugas tersebut, Azel tersenyum bahagia. Namun para guru justru menitikkan airmata karena terharu sekaligus terkejut dengan kemampuan membaca latin Azel. Tak terkecuali kakak kandungku yang notabene Kepala Sekolahnya.
Begitu juga ketika tiba giliran Azel mengaji. Hal yang sama kembali terulang. Di usia yang hampir 6 tahun itu kemampuan calistung dan mengaji Azel memang tak kalah dengan anak – anak lain pada umumnya. Padahal pada prosesnya, aku dibuat pontang panting mengejar kemampuan mendengar dan wicaranya yang selisih hampir 3 tahun dengan usia biologisnya.
Seorang pembelajar yang cepat dengan kekuatan motivasi diri yang luar biasa, itulah Azel. Hal yang justru banyak membantuku dalam proses mengintervensinya. Tugasku sebenarnya ringan saja, hanya mengarahkan. Kekuatan motivasi sudah dimilikinya sendiri. Itulah yang menjadi salah satu kelebihan yang Allah anugerahkan kepadanya.
Tantangan demi tantangan, ujian demi ujian, kami lalui bersama. Begitu banyak orang yang meragukannya, namun kami terus berupaya keras meyakinkan mereka. Bahwa Allah Maha Adil, mengurangkan satu indera, namun melebihkan banyak hal lainnya.
Setiap tahun ajaran baru, pandangan meremehkan, ujaran merendahkan, dan hal semacam itu sudah terlalu terbiasa Azel hadapi. Kami seringkali menghiburnya ketika dia merasa sedih dengan kondisinya yang ‘berbeda’ dibandingkan teman – teman lainnya. Hingga akhirnya dia memilih untuk bersikap masa bodoh dan sibuk belajar serta mengeksplore kemampuan terbaiknya di bidang akademik. Akhirnya mereka yang awalnya meragukan kemampuan akademik Azel, berbalik menjadi lebih menghargai keberadaan putriku diantara mereka.
Apalagi Azelia adalah seorang anak yang tidak ragu membantu kawannya yang belum mengerti pelajaran tertentu. Dia akan menjelaskan dengan senang hati. Bahkan meski anak itu membencinya sekalipun, dia tetap akan berusaha membantu. Azel pernah bilang padaku,
” Aku takut ilmu dan pemahaman yang aku punya menjadi tidak berkah. Hanya karena aku tidak mau membantu temanku yang bertanya dan ingin dijelaskan pelajaran tertentu. “
Suatu hari yang lain dia pernah bercerita…
“Kalau mengikuti nafsuku mah, aku ogah menjelaskan pelajaran itu ke dia. Bikin BeTe. Dia baik – baikin aku hanya ketika ada maunya. Minta dijelasin pelajaran yang tidak dimengerti. Dan aku jelaskan sampai dia paham. Tapi tiba waktunya istirahat, dia ketemu aku…. Tiba tiba dia bilang aku gobl*k lah, to**l lah, b*go lah. Bukannya berterimakasih. Sampe dalam hati aku cuma bisa istighfar…. Ada yaa orang yang begini. Apa dia gak punya malu. Kadang nyesel juga aku jelasin. Tapi…. Aku takut, keberkahan ilmu yang aku punya Allah cabut. Aku gak mau itu. Akhirnya cuma bisa ngelus dada, sabar Ya Allah…. Sabar….. “
Sebagai ibu, aku hanya tersenyum dan mengelus puncak kepalanya. Tak lupa mendoakannya. Agar Allah berkenan memberkahi hidupnya dengan banyak kebaikan dan banyak keberkahan. Kukatakan pada Azel…. Bahwa Allah sudah mencatat apa yang dilakukannya sebagai suatu amalan baik. Dan suatu ketika dia akan merasakan manfaat dari perbuatan itu. Mungkin bukan dari orang yang dibantunya, tapi dari orang lain ketika suatu saat dia membutuhkan bantuan. Karena pada dasarnya satu kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, merupakan satu kebaikan untuk kita sendiri di kemudian hari.
Ketika pindah dari SLB B ke sekolah umum, walikelas dan kepseknya menitipkan pesan agar ketika Azel menghadapi kendala di pelajaran tertentu aku segera mengontak mereka. Karena menurut mereka, kendala itu pasti akan aku temui. Salah satunya ada di pelajaran matematika.
Menurut informasi para guru di SLB B itu, Anak Tunarungu biasanya agak kesulitan mengkhayalkan angka. Sehingga kemampuan mencongak mereka cenderung agak lambat berkembang. Dan itu ternyata benar. Azel baru mulai agak lancar mencongak di kelas 2 atau 3 SD. Itupun dengan latihan yang tiada henti kami lakukan. Alhamdulillah saat ini berkembang semakin pesat untuk kemampuan yang satu ini.
Tantangan bagi seorang anak berkebutuhan khusus memang akan selalu kita jumpai di setiap tahun ajaran. Beberapa kali lipat tingkat kesulitannya dibandingkan anak normal hearing pada umumnya. Namun, sudah selayaknya tantangan itu justru qkita jadikan pemacu semangat untuk berupaya lebih ekstra dari anak – anak pada umumnya. Kelak akan tiba suatu masa dimana kita menikmati hasil kerja keras dan segenap upaya yang kita lakukan selama ini.
Hal semacam ini memang tidak mudah untuk dihadapi. Pertemuan dan bertukar pengalaman dengan sesama orangtua dan anak – anak pengguna alat bantu dengar atau implant koklea lainnya sangat diperlukan. Agar kita bisa mengambil pengalaman mereka sebagai acuan untuk apa yang akan kita hadapi dan apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapinya.
Tinggalkan komentar