
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu saat kami akan menginjakkan kaki ini di salah satu kompleks Pondok Pesantren tertua di Indonesia itu. Apalagi jika mengingat kondisi Azel yang terlahir tunarungu. Jangankan bercita – cita, untuk sekedar memimpikannya pun kami tidak berani. Karena bagi kami, cita – cita adalah tujuan yang sebisa mungkin harus dicapai.
Kami sadar diri dengan kondisi Azel yang memiliki keterbatasan pada pendengarannya. Seperangkat alat pendengaran yang begitu banyak, dengan kebutuhan akan support listrik untuk semuanya. Lengkap dengan beragam sparepart yang sesekali harus diganti secara rutin, plus perawatan yang ekstra untuk sekedar menyimpannya di kala tidak dipakai. Sungguh suatu hal yang tidak mudah. Dan ini baru perkara alat pendengaran. Belum lagi yang lainnya.
Hal lain yang tak kalah mendebarkan adalah mengenai kehidupan sehari – hari di pondok terkait kebiasaan berbahasa. Gontor merupakan salah satu pesantren tertua dengan disiplinnya yang tinggi. Termasuk dalam disiplin penggunaan bahasa arab dan inggris dalam keseharian di lingkungan pondoknya.
Ini merupakan tantangan tersendiri untuk seorang Azelia yang terlahir dalam kondisi tuli. Dimana untuk membuatanya mampu memanggilku ‘mamah’ saja, butuh perjuangan ekstra. Perlu waktu hingga setahun untuk mendengarnya mampu memanggilku ‘mamah’. Dia perlu melatih pendengaran dan mengikuti serangkaian terapi wicara yang melelahkan sebelumnya.
Dapat dibayangkan bagaimana upayanya untuk mampu berbahasa arab dan inggris di lingkungan pondok dalam kesehariannya. Dia butuh mood booster yang luar biasa kuatnya untuk belajar dan membiasakan ‘mendengar’ agar mampu ‘mengucap’ kembali serangkaian kosakata berbahasa asing tersebut dengan baik.

Tantangan di jenjang pendidikan sebelumnya, telah cukup memberi kami gambaran betapa sulitnya mencari dan menemukan sekolah yang ‘mau’ menerima Azel sebagai salah satu siswanya. Bagaimanapun juga ketulian, ketunarunguan, keterbatasan pendengaran, apapun itu istilahnya, merupakan satu hal yang tak terpisahkan dari seorang Azelia. Ketidaksempurnaan panca indera merupakan satu kenyataan yang tak terbantahkan dari putri pertama kami ini.
Aku masih teringat betul ketika seseorang mentertawakan, karena dia melihatku memperlakukan Azel layaknya anak normal. Ku ajak Azel berbicara seperti layaknya pada anak – anak pada umumnya. Sering pula kupanggil namanya dari belakang, seperti halnya pada anak normal hearing. Aku juga menerapkan cara belajar layaknya pada anak tanpa gangguan pendengaran untuk Azel. Yang membedakan hanyalah ‘tempo’ dalam nada bicara yang lebih lambat dibandingkan dengan caraku berbicara pada anak normal hearing.
Bagiku, apa yang aku lakukan pada Azel saat itu tidaklah salah. Karena Azel telah dilengkapi sepasang Alat Pendengaran yang telah disetting sedemikian rupa, hingga mampu menenuhi kebutuhan pendengarannya. Ibarat sebuah ban bocor, kebocoran itu sudah kami tambal. Dan aku melakukan semua itu untuk melatihnya. Dengan demikian penggunaan alat pendengaran itu dapat memberikan manfaat yang nyata bagi Azel. Meski untuk melakukan itu semua aku harus rela dan ikhlas ditertawakan orang – orang yang menurutku mereka sebetulnya tidak paham kondisi Azel yang sebenarnya.
Apa manfaat nyata dari penggunaan alat bantu dengar? Kemampuan respon dengar yang terlatih dan kemampuan berbahasa yang meningkat. Itulah harapan terbesarku. Aku sangat berharap suatu saat putriku Azelia mampu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan pemahaman bahasa sesuai dengan perkembangan usianya.
Sebuah cita – cita yang sebetulnya selalu berdasar pada pemikiran sederhana. Orang lain mampu, kenapa anak tunarungu tidak? Aku hanya harus berupaya lebih keras untuk mewujudkannya. Anak normal hearing mampu hanya dengan beberapa kali pembiasaan. Maka anak dengan ketulian seperti Azelpun mampu, asalkan mau melakukan hingga puluhan bahkan ratusan kali pembiasaan. Hanya itu saja perbedaannya.
Usaha yang lebih ekstra. Itulah yang harus kuupayakan untuknya. Ini terkait erat dengan komitmen, sikap konsisten dan ketelatenan. Kurasa, demi sebuah masa depan yang lebih cerah tak ada salahnya mengupayakan yang terbaik untuknya. Sebatas kemampuan paling maksimal yang kumiliki.
Setiap manusia terlahir dikaruniai dengan akal pikiran oleh Allah S. W. T. Sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Belum lagi bekal naluri yang Allah berikan pada setiap makhluq di dunia ini. Kita harus memanfaatkan setiap apa yang Allah karuniakan dengan sebaik – baiknya. Harus senantiasa bersyukur atas apapun yang Allah karuniakan pada kita. Memanfaatkan semuanya sebaik mungkin, dan meniatkannya sebagai satu bentuk ibadah kepadaNya. Itu saja yang aku tau.
Ketika salah satu indera tidak sempurna, kita masih punya 4 indera lainnya yang dapat dimaksimalkan. Menyamarkan ketidaksempurnaan pada salah satu indera, dapat dilakukan dengan cara mengeksplore indera lain yang Allah karuniakan pada kita. Dengan dibantu teknologi alat bantu yang diperlukan, apapun akan menjadi mungkin. Selama kita mau dan mampu untuk melakukannya.
Allah tidak akan menguji ummatNya di luar batas kemampuan. Terlahir dengan keterbatasan, bukanlah kemauan kita. Itu adalah takdir yang tetap harus kita syukuri. Bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Itulah yang kusampaikan pada Azel setiapkali dia meresahkan kondisinya yang ‘berbeda’.
Seringkali Azel bertanya. Kenapa dia selalu merasa teman – temannya memperlakukannya berbeda. Setiap kali pula aku meyakinkannya bahwa itu hanya perasaannya saja. Kuajak Azel berpikir lebih luas lagi. Kukatakan padanya bahwa setiap orang sebetulnya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Tak ada yang sempurna selain Allah.
Orang yang memandang keterbatasan pada salah satu indera orang lain sebagai suatu kekurangan, sebetulnya lupa bahwa ukuran kesempurnaan itu bukan hanya sebatas panca indera. Panca indera itu hanya sebagian kecilnya saja. Masih banyak hal lain yg mungkin justru dilebihkan. Dan kuajak Azel untuk lebih memandang ke arah itu. Fokus pada kelebihan dan mengabaikan keterbatasannya. Agar dia lebih sibuk mengeksplore kelebihan dan potensi dalam dirinya, daripada memikirkan apa kata orang tentang ketidaksempurnaan indera pendengarannya.
Kamu harus bisa membuktikan pada banyak orang bahwa Allah itu Maha Adil. Mengurangkan yang satu, melebihkan banyak hal lainnya. Meski itu memang perlu usaha luar biasa dan tentu tidak mudah. ‘Kamu istimewa dengan caramu sendiri’.
“Kamu lebih tahu apa yang kamu mau. Berhak punya cita – cita dan berhak pula untuk mewujudkannya. Allah Maha Segalanya, mintalah padaNya….”
“InsyaaAllah, jika itu yang terbaik menurut pandanganNya, tak ada yang tak mungkin bagiNya kak. Tidak usah terlalu pikirkan apa kata orang. Lebih baik sibukkan diri mencari dan menemukan apa yang kamu inginkan untuk masa depanmu.” Itulah antara lain kata – kata yang seringkali kuucapkan padanya setiapkali dia bersedih karena perlakuan diskriminatif yang diterimanya.
Aku seringkali berbicara padanya seperti itu. Seolah diri ini adalah seorang ibu yang setegar batu karang di tengah lautan lepas. Ibarat sebuah pohon yang kuat mencengkram tanah. Padahal sesungguhnya aku tak sekuat itu. Aku seorang ibu yang juga memiliki ‘rasa’. Ketika putriku berada di titik terendah, merasa putus asa dengan perlakuan begitu banyak orang yang memandangnya sebelah mata, meragukan segenap potensinya, atau merendahkannya sedemikian rupa, hatiku ‘sakit’.
Tanpa diketahui putriku, seringkali ku menangis. Mengadukan kepedihanku pada Allah Yang Maha Mendengar. Kuminta kekuatan hati agar senantiasa mampu menguatkannya.
Aku bukanlah seorang yang hebat dengan pendidikan yang tinggi. Hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang ingin menuntaskan kewajibannya pada Sang Khaliq. Memberikan pendidikan terbaik untuk putriku. Terlepas dari apapun kondisinya.
Masa depannya harus jauh lebih baik dariku. Meski dia terlahir dengan keterbatasan, bukan berarti langkahnya serba terbatas. Dia harus bebas melangkah, kemanapun diinginkannya. Selama semua dilakukan untuk kebaikan dirinya juga orang – orang yang berada di sekelilingnya. Semoga Allah memberkahi setiap langkahnya dalam mempelajari ilmu yang diinginkannya. Bukan kesempurnaan yang memudahkannya, melainkan keridhoan Allah dan keridhoan kami orang tuanya.
Lolos testing dan di tempatkan di Pondok utama, barulah pembuka jalan yang semakin mendekatkannya pada cita – cita yang diinginkan. Namun di dalam sana, perjuangan selanjutnya barulah dimulai. Semoga putriku Azelia senantiasa dikuatkan dalam menghadapi semuanya. Diringankan langkahnya, di terangkan hati dan pikirannya, agar mampu menyerap semua ilmu yang diajarkan dengan mudah. Aamiin, aamiin Ya Allah…..
Tinggalkan komentar