Memperkenalkan Kegiatan Mengaji pada Azelia. (Severe – Profound Hearing Loss Child)

Menyempatkan diri mengaji di ruang rawat inap RSCM malam hari sebelum pelaksanaan operasi Cochlear Implantnya

Sungguh tak terbayangkan sebelumnya bahwa suatu saat aku akan menyaksikannya mampu membacakan Al Qur’an. Kuasa Allah memang luar biasa. Diberikannya kelebihan dibalik suatu keterbatasan. Telinga yang baru dapat mendengar suara di ambang batas dengar 70 dB untuk telinga kanan, dan 90 dB untuk telinga kiri, bukanlah penghalang baginya untuk belajar mengaji.

Azelia putriku memberikan banyak pembelajaran berharga bagiku dan suami. Semangatnya yang luar biasa ketika mempelajari sesuatu, memberikan energi yang luar biasa baginya. Membuatnya mampu melompati batas ketunarunguannya.

Dia akhirnya mampu berkomunikasi 2 arah secara aktif dengan siapapun. Mampu membaca dan memahami isinya, sekaligus membuatnya mampu menyampaikan apa yang ada dalam pemikirannya.

Hari itu, sekitar awal tahun 2010. Aku mulai mempertimbangkan kepindahan Azel dari SLB B ke sekolah umum. Hal itu terkait dengan perkembangan berbahasa Azel yang meningkat pesat. Dia sudah mampu berkomunikasi 2 arah dengan sangat baik, lancar membaca dan juga mampu berhitung dengan sangat baik. Tulisan sambung halusnya pun sangat rapi. Jadi kupikir, kenapa tidak kucoba saja memasukkannya ke sekolah umum.

Aku teringat ketika itu di tahun 2008, berpamitan kepada Kepala Sekolah RA. Bunayya 1 Medan untuk kemudian memasukkan Azel ke sebuah SLB B swasta di Kota Medan yang sangat terkenal dengan pengajaran bahasa Verbalnya. Karena setelah setahun bersekolah di Play Group Bunayya kemampuan berbahasanya tidak menunjukkan perkembangan berarti. Mungkin memang Azel harus dimasukkan ke sebuah sekolah khusus tunarungu, agar terlihat kemajuannya. Begitulah pemikiran kami saat itu.

Ketika berpamitan itu aku bertanya pada Kepala Sekolah, apakah nanti kalau Azel sudah lancar berkomunikasi 2 arah & mampu calistung Azel boleh kembali ke sekolah itu melanjutkan jenjang TK nya? Alhamdulillah beliau mengizinkan. Beliau memintaku membawa Azel kapanpun, kalau memang kemajuan berbahasa dan calistung Azel sudah sejajar dengan teman – teman seusianya.

2 tahun kemudian, di awal 2010, ketika aku melihat perkembangan – perkembangan pesat Azel, aku teringat akan janji itu. Danmemberanikan diri membawa Azel menemui Kepala Sekolah Play Group nya dulu. Bermaksud menagih janji untuk diberikan tempat di TK yang sama dengan Play groupnya dulu. Seperti yang beliau janjikan di tahun 2008 lalu. Kubawa buku tulis yang berisikan tulisan – tulisan Azel. Termasuk pelajaran berhitungnya. Aku katakan pada Azel bahwa aku akan membawanya ke sekolah Play Groupnya dulu, untuk masuk TK disitu. Tak lupa berpesan pada Azel untuk menjawab apapun yang akan ditanyakan oleh ibu Kepala Sekolahnya nanti.

Memasuki gerbang TK itu rasanya campur aduk. Antara sedih, gembira, terharu, penuh harap, dan cemas. Semua rasa menyatu saat itu. Aku menemui Kepala Sekolah, memintanya mengobservasi Azel, dan menagih apa yang pernah beliau janjikan kepadaku terkait Azel. Hatiku bertanya tanya, akankah Azel mampu diterima di sekolah ini lagi?

Kepala Sekolah memintaku menunggu di luar ruangan. Sesaat setelah aku menemui beliau. Beliau memintaku untuk memberinya waktu mengobservasi Azel. Tak lupa kuberikan buku – buku yang penuh dengan tulisan putriku. Memintanya untuk melihat semua yang ada disana. Berharap beliau mempertimbangkan untuk bisa menerima Azel kembali menjadi salah satu muridnya.

Selang 15 – 20 menit kemudian beliau keluar ruangannya sambil menggandeng tangan Azel. Kulihat matanya berkaca – kaca, dan beliau berkata padaku…

“Dia sudah mampu masuk ke SD umum, jangan mengulang TK lagi, kasihan. Kemampuannya sudah lebih dari cukup untuk ibu daftarkan ke SD.”

“Azel tidak sepantasnya masuk ke TK ini bu?” Hatiku tersentak mendengar pernyataannya. Lalu beliau melanjutkan perkataannya…

“Daftarkanlah ke SD Islam Al Hijrah, nanti saya yang akan bicara dengan Kepala Sekolahnya, agar beliau bersedia memberi kesempatan pada Azel untuk mengikuti testing seperti anak – anak lain seusianya.”

“Saya terkejut dengan kemampuan membaca latinnya, sangat lancar sekali. Azel juga mampu menjawab beberapa pertanyaan saya dengan sangat baik. Komunikasi 2 arahnya sangat bagus.”

“Saya hanya meminta kesediaan ibu untuk melengkapinya dengan hafalan beberapa surah dari juz 30. Saya yakin Azel pasti mampu. Dan ibu juga pasti bisa membimbingnya. Nanti jangan lupa kenalkan juga dengan Iqro’ 1 ya bu.” Beliau berbicara dengan mata berkaca – kaca, mungkin terharu. Karena memang setelah lulus Play Group saat itu, Azel hanya mampu mengucap satu kata saja. ‘A – pel’

Lalu beliau melanjutkan perkataannya, ” Nanti ibu langsung daftar ke SDIT Al Hijrah saja ya bu. Bilang saja ibu direkomendasikan mendaftarkan Azel kesana oleh Bu Rita dari Bunayya 1. Nanti saya kontak Kepala Sekolahnya. Saya akan mengabarkan kepada beliau bahwa ibu mendaftarkan Azel.”

“O ya bu. Berapa banyak waktu yang saya punya untuk mengajari Azel hafalan Surah dari juz 30 dan memperkenalkan Iqro’ 1 itu?” Tanyaku kemudian dengan antusias.

“Sekitar 3 bulan bu. Saya yakin ibu mampu…”

Kaget, bingung, terharu, tapi senang dan lega rasanya. Semua rasa bercampur menjadi satu. Azel diterima dengan sangat baik oleh beliau, tapi bukan untuk jenjang pendidikan TK, melainkan disarankan untuk langsung ke SD.

Sepanjang perjalanan pulang dari Play Group tersebut, aku berpikir keras. Bagaimana caranya agar dalam waktu yang hanya 3 bulan itu aku mampu mengajarkan semuanya. Beberapa hafalan dari juz 30, dan kemampuan membaca Iqro’ 1. Sementara untuk mengaji, antara membaca tulisan arab dengan tulisan latin pun butuh pemahaman ekstra. Aku hanya takut, jika keliru memilih metode pengajaran yang tepat malah akan membuat Azel kebingungan. Karena bagaimanapun juga, untuk mengajarkan sesuatu yang singkat, butuh totalitas dan metode yang benar – benar tepat dan efektif.

Sebetulnya, saat itu Azel memang sudah terbiasa mengaji ke mesjid di dekat rumah kami. Ba’da ashar, sepulang terapi. Tapi saat itu baru sekedar ikut ikutan saja, belum paham konsep mengenai kegiatan yang dilakukannya. Karena kupikir saat itu penekananku hanya sekedar pada pembiasaan rutinitas kegiatan sebagai seorang muslimah dan mengembangkan kemampuan beradaptasinya saja.

Setelah pertemuan dengan Bu Rita itulah penekanan waktu ‘3 bulan’ yang beliau sampaikan membuatku berpikir keras, untuk mencari cara yang paling efektif. Agar Azel mampu memahami semuanya dalam waktu yang sangat terbatas. Karena pengalaman memperlihatkan bahwa proses untuk melancarkan pengucapan huruf vokal a, i, u, e, o dan pengucapan beberapa kosakata sederhana saja, butuh waktu kurang lebih satu tahun.

Aku terus berpikir dan berdo’a, agar Allah berkenan memberikanku petunjuk untuk memudahkannya mempelajari semua itu dalam waktu 3 bulan.

Tak berapa lama kemudian, aku pikir kenapa tak kumanfaatkan saja kemampuan membaca latinnya sebagai pembuka jalan untuk menghafal beberapa surah di juz 30. Konsep awal mengenai mengaji dan membaca Al – Qur’an bisa Azel dapatkan dari sana. Sekaligus melenturkan dulu rahang – rahangnya sebelum mempelajari Al – Qur’an dengan tulisan Arab yang sebenarnya.

Aku memesan sebuah juz Amma bergambar dengan gambar sampul yang indah, agar dapat menarik perhatian Azel untuk mau mempelajarinya. Dengan mengucap Basmallah di dalam hati, aku mulai memperlihatkan lembar demi lembar juz Amma tersebut. Sesuai dugaanku, Azel sangat tertarik dengan kegiatan barunya itu.

Dengan kosakata yang masih sangat terbatas saat itu, Azel bertanya…

” Ini apa Mah? “

“Ini juz Amma, untuk mengaji.”

” Coba lihat kakak mau mah…, ” kosakata yang masih sangat terbatas, dan susunan kalimat yang masih terbalik balik penempatan katanya, tak membuatnya berhenti bertanya.

Begitu membuka lembaran QS. An Nas, Azel bertanya lagi..

” Ini begini, ini apa mah? ” Tanyanya sambil menunjuk tulisan Arab sambung di sebelah kanan buku tersebut.

“Itu tulisan Arab namanya kak. Kakak belum belajar arab sambung di mesjid. Kakak baru baca Iqro’ 1. Mamah ajari nanti. Mau?”

“Sekarang kakak belum bisa baca ini. Kakak bacanya yang tulisan ini saja dulu yaa. Nanti kalau sudah lancar, baru mamah ajari baca yg tulisan arabnya. ” Kataku sambil menunjuk tulisan latin dibawah tulisan arab sambung tersebut.

Lalu Azel mulai membacanya.

“Bis mil… Iniii ada dua ‘l’ mamah, apa ini?” Tanyanya kemudian.

“Oh itu, kakak bacaannya masukkan kedalam, tekan kak. Dengar mamah yaa. Bis – mil – laa – hir -rah – maa – nir – ro – hiim”

Sesuai perkiraanku juga, Azel kembali terpancing untuk bertanya lagi, ” Ini ‘a’ ada 2, ‘i’ ada 2. Tulisan salah mah.”

“Bukan salah kakak, ini ‘a’ ada 2, ‘i’ ada 2, kakak baca ‘a’ dan ‘i’ nya agak panjang. Coba dengar mamah lagi yaa… ‘Bis-mil-laa-hir- roh- maa- nir – ro- hiim’ “

” Kalo ada ‘a’, ‘i’, ‘u’ ada dua kakak bacanya agak panjang. Kalau ada huruf selain itu ada dua, kakak bacanya ditekan, masukkan ke dalam yaa. Coba dengar mamah lagi…. “

Begitulah aku mengajari konsep awal mengaji pada Azel. Penjelasannya kulakukan berulang – ulang, hingga Azel betul – betul paham. Melalui tulisan latinnya terlebih dahulu, agar dia paham dulu cara membaca hafalan juz 30 dengan dasar tajwid yang benar. Meski belum kuajarkan ilmu tajwidnya secara rinci, setidaknya, dia tau bagaimana cara membaca Surah dengan ketepatan penekanan bacaan juga panjang pendek yang tepat.

Setelah kujelaskan seperti itu, sesuai perkiraanku Azel langsung ingin mencoba melanjutkan bacaan QS. An Nas itu sendiri. Tidak mau kuajari terlebih dahulu.

” Mamah diam, kakak baca. Mamah dengar, Azel bisa… “

Dia hanya memintaku duduk di sebelahnya dan memperhatikannya membaca surah tersebut hingga selesai. Kalau bacaannya keliru karena kurang penekanan atau kurang tepat panjang pendeknya, langsung kubetulkan saat itu juga. Tak jarang dia marah jika dibetulkan. Tapi aku tidak perduli. Aku tetap memberitahukannya cara membaca yang benar. Dan biasanya perdebatan itu membuatnya marah – marah padaku. Tetap tidak kuperdulikan kemarahannya. Bagiku, membaca Al – Qur’an dengan penekanan dan panjang pendek yang tepat merupakan satu bentuk terapi yang akan mampu melenturkan rahang – rahang dan kelincahan lidahnya dalam bertutur. Karena pelafalan huruf hijaiyah nyatanya memang menggerakkan hampir seluruh organ wicara.

Bukan hanya itu, panjang pendek bacaan yang tepat juga akan melatih kelenturan diafragmanya. Diafragma yang terlatih, akan sangat berdampak pada kemampuannya dalam pengaturan nafas ketika berbicara juga kejelasan artikulasinya.

Juz Amma pertama Azel, yang sangat efektif menarik semangat dan kemauannya mempelajari Al-Qur’an.

Aku ingat betul bahwa salah satu sifat dari Al – Qur’an adalah sebagai Asy Syifa, sesuatu yang dapat menyembuhkan. Menyembuhkan dalam pengertian yang begitu luas. Aku berharap dengan membiasakannya mengaji dengan cara yang benar, akan dapat menyembuhkan kekakuan organ wicara Azel dan otot difragmanya. Hal itu akan membuat kelenturannya menjadi lebih terlatih. Semua bermuara pada satu maksud, agar dapat meningkatkan kualitas kemampuan berkomunikasi verbal dan memperbaiki kualitas artikulasinya.

Setelah kuperhatikan Azel mulai lentur membacakan beberapa Surah dari Qur’an juz 30 itu, aku kemudian mulai memahamkan bahwa Al Qur’an itu ditulis dengan tulisan Arab. Dan Azel harus mulai mempelajarinya. Alhamdulillah tidak terlalu kesulitan memahamkan hal tersebut, karena setelah dia mulai lancar membacakan ayat demi ayat dalam tulisan latinnya, kuperhatikan Azel mulai mencoba coba membaca tulisan arabnya.

Aku kenalkan bahwa tulisan Arab cara penulisan dan cara membacanya berbeda dengan tulisan latin. Tulisan latin ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan. Sebaliknya, tulisan arab ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri. Setelah itu, aku memberi contoh yang paling sederhana. Dengan meminta Azel memperhatikan penulisan Basmallah. Dan akhirnya Azel paham dan siap menerima konsep berikutnya.

Setelah kuperhatikan Azel mulai siap menerima konsep berikutnya, barulah aku menawarinya untuk mempelajari Iqro’ 1. Dan Azel terlihat sangat antusias untuk kegiatan baru kami itu. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengkaruniakan akal pada kita manusia. Hingga mampu berfikir dan mengembangkan pengetahuan agar dapat mempelajari sesuatu.

Dalam hal ini, jujur saja bukan hanya Azel yang belajar. Akupun ikut belajar. Azel belajar bagaimana menerima pengetahuan baru, dan aku belajar bagaimana cara agar dapat mentransfer pengetahuan baru dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh putriku dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Kami saling melengkapi. MasyaaAllah….

Dan benar saja dugaanku. Target menghafal beberapa Surah juz 30 dan pengetahuan membaca Iqro’ 1 alhamdulillah dapat tercapai dalam masa 3 bulan. Azel akhirnya dapat lolos testing dengan nilai yang memuaskan. Itulah pertama kalinya Azel bersaing dengan puluhan siswa normal hearing, untuk memperebutkan kursi di sebuah SDIT.

Kejadian yang di luar perkiraan itu memberikan banyak hikmah yang luar biasa bagiku dan suami. Lagi – lagi Allah bukakan mata dan hati kami bahwa kuasaNya memang tak berbatas.

Mengajarkan Azelia mengaji, bukan hanya sebatas meloloskannya testing SDIT. Selain itu kami juga mendapatkan bonus lain yang luar biasa. Sejalan dengan semakin lancarnya pengucapan huruf – huruf hijaiyah, kualitas artikulasi Azel meningkat pesat. Dia semakin lentur dan semakin panjang bicaranya. Kemampuan bertuturnya meningkat pesat, karena otot diafragma dan organ wicaranya terlatih melalui kegiatan mengaji. MasyaaAllah…. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah atas segala kuasaNya.

Aku sangat bersyukur, ketika vonis ketunarunguan Azel kudengar, diperkenalkan dengan orang – orang yang menaruh keperdulian padanya. Bu Masitawati Kusuma sebagai therapistnya yang begitu tegas, Bu Rita yang begitu menaruh perhatian terhadap perkembangan mendengar dan wicara Azel, orang – orang dari Hearing Centernya yang begitu memperhatikan ketepatan settingan alat, dan masih begitu banyak pihak yang tidak dapat kusebutkan satu per satu disini. Allah lah yang mengatur semuanya. Tanpa kuasaNya, tanpa bantuan dari banyak pihak, tanpa kerjasama yang solid, tanpa sikap konsisten rasanya semua takkan mungkin dapat tercapai.

Mungkin mengajari mengaji memang terlihat sulit. Jangankan pada anak tuna rungu, pada anak dengan pendengaran normalpun rasanya sulit. Tapi tak ada yang sulit jika kita menjalani semuanya dengan sikap yang tenang. Karena ketenangan akan membuat kita selalu mampu berpikir jernih untuk mencari solusi atas suatu permasalahan. Percayalah, mengajarkan seorang anak tunarungu mengaji, akan berefek positif pada perkembangan kualitas artikulasi dan kemampuan bertuturnya.

Semoga tulisan ini mampu memunculkan inspirasi dan ide – ide segar baru dalam penanganan anak – anak tunarungu yang memilih pendekatan bahasa verbal. 🙏😊

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑