Ketika Harus Implant Koklea, Prioritas Telinga dengan Gangguan Berat atau yang Lebih Ringan Dulu?

Beberapa hari yang lalu ada beberapa orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menanyakan hal ini padaku.  Mereka ingin mengetahui tentang operasi implant koklea yang telah kami upayakan untuk Azelia.

Biaya operasi implant koklea yang nyatanya memang tidak murah,  seringkali membuat orang tua harus mengambil keputusan terbaik dengan mempertimbangkan banyak hal. Diantaranya, biaya, usia anak pada saat menjalani operasi implant koklea,  derajat gangguan dengar yang dialami,  dan ekspektasi yang hendak dicapai.  Termasuk ketersediaan dana yang dimiliki untuk operasi tersebut. 

Jika orang tua memiliki dana yang memadai untuk mengoperasi 2 telinga sekaligus, mungkin tidak akan begitu terkendala. Tinggal bagaimana menjatuhkan pilihan pada type alat implant yang diinginkan dan sesuaikan dengan kebutuhan pendengaran anak. Dan selanjutnya mempersiapkan diri untuk memberikan pendampingan terbaik pada proses Auditory Verbal Theraphy (AVT) putra – putri kita.

Tapi jika dana yang dimiliki hanya mampu untuk mengoperasi dan memasang implant pada satu telinga saja, inilah kemudian yang seringkali menimbulkan pertanyaan…. Prioritas telinga manakah yang sebaiknya diimplant, yang gangguan dengar lebih berat, ataukah yang gangguan dengar lebih ringan?

Yang jelas, manapun yang kita pilih, harus didasarkan pada hasil konsultasi dgn dokter THT. Dengan melihat hasil dari pemeriksaan MRI dan CT Scan yang dilakukan. Dokter THT lah yang lebih mengetahui apakah struktur dalam telinga anak – anak kita memungkinkan atau tidak untuk dipasangi implant koklea.

Jika memang tak ada kendala apapun, tetap saja keputusan kita akan memunculkan konsekwensinya sendiri. Saya mengalami hal itu. Pihak Hearing center (biasanya) menyarankan telinga dengan gangguan dengar lebih ringan untuk operasi implant. Namun sebagai orang tua, kami menghendaki telinga dengan gangguan dengar yang lebih berat yang dioperasi. Sementara dokter, karena melihat hasil pemeriksaan struktur dalam telinga Azel kedua – duanya memungkinkan, ditambah dengan dengan kemampuan komunikasi 2 arahnya yang sudah sangat baik, menyerahkan keputusan pada kami berdua sebagai orang tuanya.

Azelia yang saat jelang operasi itu juga menjelang Ujian Nasional (UN) SD nya, membuat kami harus betul – betul mempertimbangkan banyak hal untuk memutuskan telinga mana yang hendak di operasi. Hingga akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada telinga kiri, dgn gangguan dengar yang lebih berat.

Ada beberapa alasan yang mendasari keputusan kami tersebut, antara lain jadwal pelaksanaan operasi yang hampir berdekatan dengan jadwal pelaksanaan UN SD Azel.

Kami harus mempertimbangkan waktu switch on yang dilaksanakan dua minggu hingga satu bulan pasca operasi, dengan persiapan pembekalan untuk pelaksanaan UN SD yang akan Azel hadapi dibulan Mei. Sementara operasi implantnya sendiri baru dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2017.

Jika kami memilih telinga kanan dengan gangguan pendengaran yang lebih ringan terlebih dahulu untuk dioperasi, dengan apa Azel dapat mendengarkan para guru mengajar untuk persiapan pembekalan UN-nya ? Sementara telinga sebelah kirinya benar – benar sudah tidak dapat digunakan meski telah dilengkapi sebuah alat bantu dengar.

Pertimbangan berikutnya, terkait dengan masalah kondisi psikis Azel. Untuk dapat mengoperasi Azel, kami diharuskan pindah domisili. Karena rumah yang kami tempati di Karawang, harus kami jual untuk biaya operasi dan pembelian seperangkat alat implant koklea. Itu berarti Azel dan adik – adiknya juga harus pindah sekolah. Jika telinga dengan gangguan ringan yang kami implant, lantas dia mendengar dengan telinga mana selama menunggu masa switch on? Sementara telinga kirinya sudah tidak dapat digunakan untuk mendengar apapun. Apa yang akan dirasakannya ketika dia bergaul dengan teman – teman barunya? Akankah dia mampu mempertahankan rasa percaya dirinya dengan kondisi semacam itu, ditengah – tengah lingkungan baru? Akankah berdampak pada perolehan hasil UN nya nanti?

Semua terasa saling terkait. Butuh kecermatan dalam memutuskannya. Dan itu sungguh tidak mudah.

Ketika memutuskan kita implant telinga dengan gangguan pendengaran berat, itupun menghadirkan konsekwensinya sendiri. Telinga yang satu tahun bisa dikatakan “tertidur” itu, tidaklah mudah untuk membangunkannya kembali. Tentu akan memakan waktu yang relatif lebih lama dalam mengasah kepekaan pendengarannya.

Itulah hal – hal yang sekiranya perlu menjadi bahan pertimbangan para orang tua yang bermaksud mengimplant salah satu telinga anak – anaknya. Masing – masing pilihan mengandung konsekuensinya sendiri.

Apapun pilihannya, setelah berkonsultasi dengan dokter ahli, ada baiknya kita siapkan mental untuk menjalani semuanya sebaik mungkin. Pertimbangkan apa yang akan dihadapi oleh anak. Apakah dia akan menghadapi suatu kondisi seperti Azel, yang akan jelang UN, baru pindah ke lingkungan baru, dsb. Ataukah tak ada kendala apapun terkait kondisi tersebut.

Pada intinya, setiap orang tua yang hendak meng-implant anaknya harus betul – betul menyadari bahwa teknologi secanggih apapun itu, tetap semua akan berproses. Dan suatu proses tentu akan memerlukan waktu untuk dapat memperlihatkan hasilnya.

Implant koklea yang dapat dikatakan merupakan teknologi tercanggih dari suatu Alat Bantu Pendengaran, tetaplah memerlukan waktu agar dapat berfungsi secara optimal. Seberapa sering pemakaian, lalu bagaimana proses memperkenalkan beragam bunyi bunyian, seberapa banyak kosakata bahasa reseptif yang diperdengarkan. Seberapa intens orangtua melibatkan diri dalam mendampingi anak dalam setiap sesi AVT bersama para ahlinya, ataupun saat di rumah. Kemudian, yang terakhir yang tak kalah penting adalah bagaimana pendampingan orang tua terhadap proses mapping anak. Apakah orang tua mampu memberikan keterangan yang memadai dalam proses mapping tersebut, ataukah tidak.

Jika orang tua aktif dalam mendampingi proses AVT anak, tentu akan mampu memberikan hasil evaluasi yang memadai untuk menentukan frekuensi mana saja yang perlu di mapping ulang, agar dapat memenuhi kebutuhan pendengaran yang diperlukan anak – anaknya.

Satu hal yang pasti menurut pendapat saya adalah…. Apapun pilihan yang kita ambil, maka beranilah untuk menghadapi konsekwensi dari pilihan kita. Siapkan mental kita sebaik mungkin, sebelum kita mempersiapkan mental anak. Karena mental anak sebetulnya tergantung dari kesiapan mental orang tuanya itu sendiri. Ketika orang tua bermental positif, mental anak juga akan positif. Dan hasilnya tentu akan baik dan sesuai ekspektasi. Begitu pula sebaliknya.

Memilih telinga dengan gangguan lebih berat, ternyata menimbulkan beberapa konsekuensi yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Azelia tidak mau melepas alat bantu dengar telinga kanannya pasca switch on. Karena dia tidak percaya diri dengan telinga kirinya yang sebenarnya sudah mampu mendengar kembali. Karena memang pada kenyataannya, telinga kirinya sekitar setahun lebih tidak dapat difungsikan. Oleh karenanya, meski sudah dapat digunakan kembali pasca implant, Azel masih meragukannya.

Hal itu menurut kami memang sewajarnya terjadi. Karena cara kerja alat bantu pendengaran yang konvensional sangat berbeda dengan cara kerja implant koklea.

Alat bantu dengar konvensional bekerja dengan cara suara masuk melalui jalur pendengaran pada umumnya. Suara yang didengar menggetarkan gendang telinga, menggerakkan tulang – tulang pendengaran, lalu merambat melalui saraf pendengaran, hingga akhirnya bisa diterima oleh otak pusat bahasa dan dikenali sebagai ‘suara’.

Sedangkan implant koklea, mem-bypass jalur pendengaran tersebut. Suara yg didengar melalui sound processor, diterima sebagai gelombang elektromagnetik yang menyusuri serangkaian elektrode didalam rumah siput, lalu langsung diterima oleh otak pusat bahasa sebagai ‘suara’.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑