Kalau Ikhlas, Jangan Temporer

Ikhlaslah,  dan Allah akan menunjukkan jalan-Nya.

Apa itu ikhlas yang temporer? Ini adalah istilah yang datang dari pemikiranku sendiri. Ketika mengamati begitu banyak orang yang mengatakan ikhlas di lisan mereka, namun tidak diikuti dengan aksi nyata untuk berusaha mengubah sesuatu hal menjadi lebih baik. Karena ikhlas yang sesungguhnya menurutku, bukan hanya sebatas menerima takdir yang sudah Allah gariskan. Harus ada upaya nyata untuk itu. #Catatan hatiku sepanjang waktu hingga hari ini#

Menerima keberadaan seorang anak istimewa di tengah – tengah kita bukanlah suatu hal yang mudah. Karena memang anak istimewa kita akan menjadi minoritas diantara mayoritas,  dan itu membutuhkan kekuatan mental yang lebih dari biasa.

Tatkala orang – orang memandang anak kita dengan pandangan aneh, apalagi ketika di seragam sekolahnya ada tulisan atau badge yg menunjukkan lokasi sekolah SLB B misalnya, rasanya kita sebagai orangtualah yang merasa tersinggung. Belum lagi perlakuan dari lingkup pergaulan sekitar rumah yang mungkin cenderung mendiskriminasi anak-anak istimewa kita. Hal semacam itu membuat mental kita semakin jatuh,  jika kita menyikapinya dgn membawa perasaan negatif di dalamnya. Subhanallah…. benar-benar ujian kesabaran yang luar biasa menguras perasaan dan terkadang airmata.

Untuk itulah aplikasi penyikapan secara ikhlas dalam pemaknaan yang sebenarnya mengenai  keikhlasan sangat diperlukan. Menurutku,  bukan ikhlas namanya ketika kita masih tersinggung ketika orang memandang anak kita dengan pandangan aneh. Bukan ikhlas namanya ketika kita menyikapi perlakuan diskriminatif dengan sikap negatif dan emosi tak terkendali. Bukan ikhlas namanya ketika kita masih sakit hati ketika orang meremehkan kondisi anak kita.

Ikhlas adalah tersenyum ketika orang memandangnya aneh. Ikhlas adalah diam dan menyibukkan diri menggali potensi mereka untuk menunjukkan bahwa tak sepatutnya anak istimewa kita mendapatkan perlakuan diskriminatif. Itu jauh lebih baik daripada meluapkan emosi dan sibuk memarahi orang – orang yang meragukan kondisi anak anak istimewa kita.

Ikhlas adalah berbaik sangka atas ketetapan Allah yang telah menganugerahi kita seorang anak istimewa. Kita adalah orang – orang pilihan, yang dengan keberadaan seorang anak istimewa di tengah kita, Allah membukakan kesempatan bagi kita untuk beribadah lebih banyak dengan mendidik dan mengasuh mereka sebaik baiknya. Itu sesungguhnya merupakan ladang amal terbaik yang Allah berikan untuk kita. Dan tidak semua orang seberuntung itu.

Manusiawi jika kita merasa sedih, marah, kesal, kecewa ataupun sakit hati dengan perlakuan mereka yang memperlakukan anak-anak istimewa kita dengan semena-mena. Tapi tidak dibenarkan juga kita menyikapinya dengan mengedepankan emosi. Karena, ketika kita mengedepankan emosi, maka kita tidak akan mampu berpikir jernih untuk dapat membantu anak kita. Hati kita tertutup dengan amarah yang luar biasa. Dan diujungnya, kita juga nanti yang akan merugi. Karena lebih sibuk mengurusi sikap orang lain daripada memikirkan solusi terbaik untuk membantu mereka. Energi kita terkuras habis untuk emosi yang tak ada manfaatnya sedikitpun untuk anak – anak kita.

Sebagai salah satu orang tua yg dianugerahi seorang anak istimewa, aku pernah merasakan emosi dan amarah yang memuncak karena perlakuan semena mena terhadap putriku. Bahkan dapat dikatakan cukup kenyang merasakan semua itu. Dari mulai perlakuan yang meremehkan yang paling ringan,  hingga bullying yang nyaris meruntuhkan rasa percaya dirinya yang susah payah  ku bangun bertahun tahun. 

Putri istimewaku seringkali ditatap dengan pandangan aneh dan mencemooh, saat menaiki angkutan kota dan saat di tempat umum, hanya karena masih berbicara dengan bahasa aneh yang belum bisa dimengerti saat usianya hampir 4 tahun. Saat pertama kali masuk SD umum negeri, pernah telinganya yang memakai sepasang alat bantu dengar itu dipukul oleh salah seorang temannya. Dan entah berapa kali dia ditinggalkan teman – temannya begitu saja saat mencoba berbaur dan ikut bermain bersama mereka.

LKS Bahasa inggris yang sudah diisinya sebanyak 2 lembar tiba- tiba dihapus semua oleh teman sebangkunya yang belum mengerjakan… Diteriaki telinganya, di kata – katai dengan bahasa yang kasar dan menyakitkan, di lecehkan kemampuan akademiknya oleh salah seorang teman saat kelas 1 SMP hanya karena temannya ini tau putriku pengguna Alat Bantu Pendengaran. Hingga beragam fitnah dan perlakuan diskriminatif lainnya, yang tak terhitung jumlahnya sepanjang saya mendampinginya selama hampir 16 tahun ini. Rasanya entahlah…. Aku hanya mampu mengelus dada ketika menyikapi semuanya, meski itu sangat tidak mudah. Kucoba terus meyakini bahwa takdir Allah InsyaaAllah yang terbaik untuk kita. Entah kapan Allah akan membuka hikmah dari semuanya, aku hanya mampu menunggu dan terus mencoba bersabar. Tak jarang airmata meleleh saat mengingat hal – hal buruk yang sesekali masih terlintas itu. Do’a – do’a terus kupanjatkan, meminta pada-Nya untuk lebih dikuatkan lagi dan lagi untuk menghadapi semuanya.

Beberapa kali alat pendengaran putriku menjadi sasaran keisengan teman – temannya. Mereka tidak mengerti bahwa puluhan juta bahkan ratusan juta sudah uang yang kami keluarkan untuk membeli semua alat itu. Kami memperjuangkan semaksimal yang kami mampu untuk memenuhi kebutuhan pendengarannya. Mobil hingga rumah tak segan kami jual hanya agar putri kami mampu mendengar. Sayangnya, tidak semua orang paham akan hal itu. Dan kitapun tak mampu memaksa semua orang untuk memahami semuanya. Aku hanya berpikir alangkah lebih baiknya bagi kita untuk mempersiapkan putri kita mampu menghadapi semua hal yang akan dihadapinya daripada mengedepankan emosi sesaat yang menyesatkan. Kita tidak bisa terus merutuki hujan yang turun,  tapi kita masih mampu menerobos hujan dengan menggunakan payung. Menyiasati keadaan adalah jauh lebih baij daripada terus mengeluhkan semuanya tanpa henti. 

Kita masih bisa melakukan antisipasi segala kemungkinan dengan sebisa mungkin menahan emosi yang memuncak, dan mencoba memberi pemahaman pada mereka yang belum mengerti secara perlahan dan bertahap. Sepanjang hidup mendampingi putriku yang tunarungu ini, aku hanya mampu terus berusaha memahamkan padanya bahwa mereka yang memperlakukannya tidak baik itu, belum mengerti kondisinya. Aku ajarkan padanya untuk sebisa mungkin bersikap tenang menghadapi semuanya. Meski jujur, terkadang tak jarang emosiku juga ikut tersulut.

Aku terus meminta pada putriku untuk membuktikan pada orang – orang itu bahwa kondisinya bukanlah suatu aib yang harus ditutupi, melainkan suatu keistimewaan yang menjadikannya sosok yang istimewa. Karena tidak semua orang diberikan anugerah seperti yang dimilikinya.

Berusaha terus meyakinkan putriku bahwa dirinya adalah orang pilihan, dan Allah tau dirinya adalah sosok yang kuat. Itu sebabnya Allah menguji kesabarannya. Dan dia harus berusaha terus bersabar,  sebatas yang dia mampu.  Sesekali putriku ini menangis dan mengadu padaku, aku berusaha mendengarkan. Kemudian kembali meingatkannya tentang apa yang pernah aku sampaikan sebelumnya. Secara mental dia terus menguat, tanpa membenci, namun terus waspada. Hingga akhirnya mampu mengantisipasi bagaimana harus bersikap ketika diriku tak berada di dekatnya. Perlahan tapi pasti teman – temannya semakin menghargai keberadaan putriku di tengah mereka. Inilah point khusus yang aku harapkan selama mendampinginya.

Secara bertahap, aku belajar banyak dan banyak belajar tentang bagaimana menyikapi sebuah rasa yang sebetulnya tidak enak, mengubahnya menjadi rasa syukur yang tiada henti. Ada begitu banyak pelajaran berharga saat aku mendampingi putriku selama ini. Suamiku adalah orang pertama yang terus mengingatkan, dia adalah penasehat terbaik bagiku menghadapi semuanya. Seringkali aku merasa lelah,  tapi bersamanya aku tak ingin menyerah begitu saja.

Seseorang pernah mentertawakanku karena menerapkan pola asuh layaknya pada anak normal terhadap putri pertamaku yang memang terlahir tunarungu. Bagiku, ia memang tunarungu, tetapi tak ada salahnya jika aku sering mengajaknya bicara layaknya pada anak dengan pendengaran normal.  Bukan hanya itu, akupun seringkali memanggilnya dari belakang, membacakan cerita, dan sebagainya.

Saat itu aku tidak mengerti kenapa orang tersebut mentertawakanku.  Karena putri pertamaku sudah menggunakan alat bantu dengar yang sudah di setting sesuai dengan kebutuhan pendengarannya ketika dia melakukan itu. Itu artinya putriku sudah mampu mendengar layaknya anak – anak normal pendengaran lainnya. Aku berusaha melatih kepekaan respon pendengarannya saat itu .  Dan itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus. Aku harus sering mengajaknya berbicara, mengobrol, membuatnya sering sering mendengarkan apa yang kubacakan, dan sesekali memanggilnya dari belakang. Itulah upayaku untuk membantunya mampu mendengar dan berbicara.

Memperlakukan putriku layaknya anak normal pendengaran,  bukan berarti aku tidak ikhlas menerima takdir yang sudah Allah gariskan untukku. Aku hanya berusaha melakukan ikhtiar terbaik dengan menggunakan bantuan teknologi yang ada agar putriku mampu tersenyum suatu saat nanti dalam menghadapi masa depannya. Dengan tetap menerima keterbatasan pada pendengarannya yang tetap tak dapat kuhilangkan sepenuhnya secara total.

Ketika putriku mampu berkomunikasi dua arah dengan baik dan diterima di tengah pergaulan masyarakat sosial tanpa perlakuan diskriminatif, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Mungkin putriku terbatas pada pendengarannya,  tapi tidak demikian halnya dengan 4 indera lain yang dimilikinya. Itulah pemikiranku. Aku hanya berharap, masyarakat kita suatu saat nanti mempertimbangkan pemikiranku ini ketika menerima keberadaan seorang anak istimewa di tengah mereka.

Setiap hati ini merasakan kepedihan melihat orang – orang yang kadang memperlakukan putriku secara diskriminatif dan tidak adil, hati selalu mengingatkanku untuk kembali memahami makna dari keikhlasan secara total.

Ikhlas secara total adalah menyikapi semuanya dengan lapang dada, bersabar… Dan berusaha keras untuk tetap mampu berfikir jernih dan fokus mencari solusi. Meluaskan sudut pandang, dan memahamkan pada diri bahwa mungkin saja orang – orang itu bersikap seperti itu pada putriku karena ketidaktahuan mereka. Dan menjadi tugasku sebagai ibunya untuk memahamkan pada mereka tentang kondisi putriku yang sebenarnya. Totally ikhlas, not temporary.

Terlalu banyak hal tak terduga yang akan dihadapi putriku saat dia menghadapi masa depannya nanti. Sebisa mungkin aku harus mengajarkan padanya bagaimana cara agar dapat menyikapi semuanya dengan tenang dan cerdas, bukan dengan mengedepankan emosi. Meski memang hal itu tidak mudah, bukan berarti tidak bisa.

Bagaimanapun juga putriku tetap membutuhkan teman. Memperoleh sebanyak mungkin teman dengan menyadarkan cara berfikir mereka tentangnya secara perlahan, adalah jauh lebih baik daripada mengedepankan emosi dan menambah musuh baginya.

Jalan hidup putriku masih sangat panjang, dan aku jelas takkan mampu menemaninya sepanjang waktu. Mengajarinya tentang bagaimana bersikap tenang dan cerdas adalah satu satunya cara agar tetap membuatnya mampu bertahan dan tetap menjadi istimewa, tak terlupakan dan mampu meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑