Bagaimana Memperkenalkan Konsep Agama pada Anak Tuna Rungu.

Apakah kondisi Anak Berkebutuhan Khusus merupakan satu hambatan tersendiri untuk memperkenalkan konsep Agama? Justru sebaliknya, konsep agamalah yang menjadi penguat dasar bagi proses intervensi seorang Anak Berkebutuhan Khusus. Ajaran agama memegang peranan penting dalam upaya memotivasi kita para orang tua dan juga anak – anak kita yang kebetulan berkebutuhan khusus.

Ketika kondisi salah satu dari panca indera ternyata tidak sempurna, apakah itu berarti kita tidak bisa memperkenalkan konsep agama pada putra atau putri kita ? Jawabannya tentu saja bisa, sangat bisa. Ketidaksempurnaan panca indera bukanlah alasan untuk tidak memperkenalkan konsep agama.

Sungguh, tak ada motivasi lain yang melebihi kekuatan motivasi berdasarkan ajaran agama. Bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan aneka kekurangan dan kelebihannya masing – masing. Bahwa segala sesuatu tercipta atas kehendakNya, dan bahwa Tuhan menciptakan kekurangan bukan tanpa maksud, tetapi agar kita senantiasa mengingatNya dalam berbagai keadaan.

Bagaimana memperkenalkan konsep agama pada seorang anak berkebutuhan khusus? Banyak jalan menuju Roma, demikianlah pepatah mengatakan. Begitu pula dalam memperkenalkan konsep agama. Ada bermacam cara untuk itu. Sebagai contoh…. Seorang anak dengan keterbatasan pendengaran seperti putri saya, mungkin dia terbatas dalam pendengarannya. Tapi tidak demikian dengan indera yg lainnya. Dia memiliki kekuatan dalam penglihatannya. Yang meski hanya tertangkap dengan sudut matanya, otaknya mampu merekam visual yg dilihatnya dgn sangat baik. Nah, kita dapat memanfaatkan kelebihan ini untuk memperkenalkan konsep agama tersebut. Intinya, manfaatkan apa kelebihan mereka, untuk melengkapi kekurangannya.

Tulisan ini dimaksudkan hanya sekedar untuk sharing. Berbagi tips dan trik berdasarkan pengalaman saya sendiri mengajari Azelia, putri pertama kami yang terdeteksi tunarungu sejak lahir.

Jauh sebelum Azelia terdeteksi tunarungu, bahkan ketika Azelia masih berada dalam kandungan konsep agama ini sudah mulai saya perkenalkan pada janin yang dikandung secara tidak langsung. Saya terbiasa memperdengarkan murottal Qur’an dengan menggunakan headset yang ditempelkan pada perut yang sedang mengandung. Kebiasaan ini saya awali ketika usia kandungan menginjak 4 bulan an. Usia dimana janin mulai di tiupkan ruhnya.

Tak jarang, saya juga membacakan Ayat Kursi, An-Nas, Al – Falaq, Al – Ikhlas, disela sela waktu senggang sambil mengelus elus perut yang kian membesar. Saya meminta dan memohon pada Allah agar dianugerahi anak yg sholehah, yang taat pada ajaran agama yang dianutnya, juga berbakti pada kami kedua orang tuanya.

Begitu Azel lahir, kebiasaan-kebiasaan tersebut tetap berlanjut. Bahkan, membacakan QS. Al – Ikhlas di telinganya saat kondisi Azel setengah terlelap menjadi kebiasaan rutin hingga usianya 4 tahun an. Bude saya yang memberitahukan soal kebiasaan baik ini. Katanya agar putri kami cenderung mudah diarahkan nantinya. Kalau dilihat dari segi terjemah QS. Al – Ikhlas itu sendiri, Surah ini mengingatkan kita akan keesaan Allah S. W. T. Saat itu saya dan suami belum tau kondisi Azel yang tuli sejak lahir. Yang secara logika, mungkin dia tidak mampu mendengar segala apa yg dibacakan untuknya. Tapi nyatanya ketika proses intervensi berlangsung, Alhamdulillah Azel cenderung sangat mudah diarahkan. Ini meninggalkan catatan tersendiri buat kami berdua. Mungkin, dia mampu mendengar semua yang saya bacakan melalui pendengaran batinnya. Wallahu a’ lam bish- shawab… Allah lebih mengetahui segala sesuatu.

Menyanyikan lagu anak – anak Islami yang mengajarkan tentang tauhid, rukun iman, rukun islam, kalimat – kalimat – kalimat thoyyibah juga turut menjadi kebiasaan rutin saya ketika mengasuh Azelia kecil. Sungguh, saya berupaya keras menanamkan konsep agama pada putri pertama kami ini sedini mungkin.

Hantaman keras terjadi, ketika kami mengetahui kondisi ketunarunguannya. Hal itu sempat membuat saya merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini hanya sia – sia belaka. Tapi sungguh, saya keliru besar mengenai hal itu.

Azelia, terdeteksi tunarungu di usia 2 tahun 8 bulan. Baru mulai bisa berbicara di usia 3,5 tahun an, tapi dengan lantang berkata tentang identitasnya sebagai seorang muslim di usia 4,5 tahun an. Saat itu dia berkata, “Aku muslim! Berdoaku seperti ini.”

Hingga teman teman sekelasnya di sebuah SLB B bertanya tanya. Apa itu muslim, apa itu Islam, apa yang Azel maksudkan? Hingga akhirnya konsep agama diajarkan pada hari itu sebagai materi pelajaran mereka di kelas. Ibu guru memberitahukan pada anak – anak didiknya bahwa agama yang ada di Indonesia itu ada beberapa macam, Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Dijelaskan lengkap berikut tempat ibadatnya, hari besar keagamaannya, juga sebutan bagi para penganutnya. Hingga akhirnya masuklah pengetahuan mengenai konsep agama di kelas Azel pada saat itu juga.

Hal itu menjadi catatan penting dalam kisah mengenai putri kami yang notabene seorang anak tunarungu yang baru bisa berbahasa. Bukan hanya kami yang berfikir demikian, ibu gurunya pun berpendapat sama. Beliau berkata pada saya, “Puluhan tahun aku mengajar disini, baru kali ini aku melihat seorang anak berani mengungkapkan identitasnya selantang itu, bagaimana ibu mendidiknya?”

Tersenyum, hanya itu yang mampu saya lakukan ketika itu. Terharu rasanya. Sungguh tiada daya upaya yang dapat kami perbuat tanpa kuasaNya. Semua karena Allah, yang mungkin menghendaki keterbatasan pada kondisi pendengarannya, tapi tidak dengan hati dan keimanannya. MasyaaAllah…..

Azelia kecil juga seringkali saya bawa untuk mengikuti kajian keislaman ibu – ibu di kompleks perumahan kami saat itu. Dia akan duduk tenang, dan seperti ikut menyimak apa yang disampaikan ustadzah kami. Meski tau kondisinya yang tuli, tapi saya melibatkannya dalam kegiatan rutin itu. Saya hanya berfikir…. Allah lah yang akan membuatnya mampu mendengarkan semuanya.

Jadi untuk kita para orang tua, janganlah kita meragukan kondisi anak – anak kita. Ajarkanlah apa yang perlu diajarkan. Jangan pernah ragu untuk melakukannya. Karena tidak semua hal di dunia ini dapat diukur hanya sebatas dengan logika saja. Ada kekuatan lain di luar itu semua. Dan hanya Allah yang Maha Tau, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Meskipun mungkin mereka tidak mampu menirukan sepenuhnya apa yg kita kerjakan ataupun kita ucapkan, terkait dengan tatacara beribadah dan segala macamnya, setidaknya kewajiban kita sebagai orangtua yang harus mengajarkan konsep agama sudah kita lakukan. Kurang dan lebihnya, bagaimana penerimaannya pada anak – anak kita, mungkin tidak akan sama. Tapi yang pasti kita sudah mengisi kekosongan di salah satu sudut kalbu mereka. Yang jika sudut itu dibiarkan kosong, maka rohani mereka akan terasa hampa.

Percayalah, konsep Agama merupakan satu motivasi luar biasa untuk segala macam permasalahan dalam hidup ini. Tanpanya, hidup kita akan terasa hambar…. Begitu pula dengan anak – anak berkebutuhan khusus kita. Jadi, tetap ajarilah mereka, isi kalbunya. Dan kita biarkan mereka menikmati sensasi ketenangannya dengan itu semua. Meski mungkin tidak terlihat ekspresinya, setidaknya mereka mampu merasakannya. Ketenangan dan kenyamanan mereka adalah kebahagiaan bagi kita. Allah akan senantiasa melindunginya. Dimanapun mereka berada, InsyaaAllah…….

Semoga tulisan saya kali ini bisa bermanfaat. Sebagai pengingat bagi saya sendiri, dan mungkin kita semua. Kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya.

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑